writing on blog
Joy

7 Alasan Mengapa Harus Menulis

Tahu kan menulis itu bisa jadi salah satu cara menebar kebaikan. Lantas kalau ditanya kenapa mulai ngeblog? Simple aja, karena pengen nulis banyak hal yang bebas dibaca siapa saja. Sesederhana alasan mudah itu memulai sebuah blog. Nulis ya tinggal tulis aja, jangan dibuat ribet.

Sedari bocah SD dulu sih punya diari yang sifatnya pasti rahasia. Nggak boleh sampe dibaca siapapun. Cuma empunya yang tahu apa aja coretan di dalamnya. Padahal isinya ya cuma tulisan unyu-unyu, perihal kawan yang jahil, nilai jelek, dimarin emak dan sampai kisah cinta monyet. Namanya juga bocah kan keseharian gemez kayak gitu yang pasti jadi bahan nulis.

Mungkin perlakuannya sama dengan blog ini, yang bisalah disebut diari online. Bedanya, ini bisa diakses siapa saja, silahkan saja dibaca, bukan lagi sebuah rahasia. Malah inginnya tulisan kita dibaca orang banyak, kan?

Terus, kini alasan menulis jadi berkembang. Aku pun masih penulis amatiran, masih perlu banyak belajar. Cuma ya lumayan terasa gitu faedah dari menulis di blog ini. Bukan cuma mencurahkan unek-unek yang menyesakkan hati. Sekarang jadi banyak dong alesan buat terus nulis.

Berikut ini kurangkum 7 alasan pribadiku mengapa harus menulis

1. Kepuasan Batin

Percaya nggak menulis adalah cara terapi terampuh, setidaknya itu buatku. Menulis agaknya seperti sebuah pelarian alternatif untukku. Lumayan efektif melepaskan stress dan sumpeknya beban pikiran. Menulis adalah kebebasan untukku.

Seringnya aku pakai metode free writing yakni menuliskan apa yang ada di pikiranku. Tulis apa pun itu. Yang penting nulis, yang penting jari-jari menari di atas keyboard merangkai untaian kalimat yang mengalir. Ada geliat gairah dari kegiatan menulis ini. Gairah yang menularkan perasaan bahagia luar biasa. Bahagia yang mampu menyembuhkan luka diri, atau mungkin trauma dan seperti terapi penyembuh jiwa yang sedang merana sakit. Bahagia yang memuaskan batin kita.

2. Sharing Pengalaman

Malalui tulisan kita bisa berbagi pengalaman dan memungkinkan memberikan tips dan trik buat pembaca dari pengalaman tersebut. Saat kita berani mencoba hal baru atau hal unik bisa jadi bahan nulis untuk dibagikan. Atau ketika mengunjungi  sebuah tempat baru kita bisa menceritakan pengamalan itu, gimana baik atau buruknya tempat tersebut. Pengalaman hidup selalu menarik untuk diceritakan dalam bentuk tulisan. Syukur-syukur tulisan kita ternyata dapat bermanfaat buat seseorang. Ada kali sedikit pelajaran yang tersurat dari tulisan-tulisan yang kita buat.

3. Menyalurkan Opini

Mengutarakan pandangan kita mengenai suatu hal atau fenomena sah-sah saja. Kita bebas berargumen, menyampaikan pendapat pribadi terhadap hal apapun itu atau mengupas tuntas permasalahan dan isu yang sedang hangat dari kaca mata kita.

Menulis opini tidak sama dengan menulis berita dan fiksi atau mengarang indah. Memang benar menulis opini adalah jalan bebas hambatan menuangkan ide, gagasan, saran dan kritik yang sifatnya persuasif. Namun, karena tingkat menulisnya lebih berat kita perlu memperhatikan bentuk penulisan opini yang layak sesuai etika moral, tidak terlalu gamblang gitu provokatifnya. Karena tujuan menulis opini bukanlah untuk kita, tetapi agar para pembaca mampu memahami pikiran kita. Agar mereka menyadari kenikmatan hidup dari daya pikir kritis dan waras.

4. Media Curhat

Percaya kan, menulis juga merupakan curhat secara tidak langsung. Kita bisa melampiaskan segala bentuk emosi dalam bentuk tulisan. Sesuka hati curhat tentang apapun, tak perlu sungkan mengungkapkan perasaan kita. Menulis curhatan itu nggak pernah salah loh, bro and sis. Toh, blog pun juga sering kan disebut diari online. Jangan malu mengawali dari tulisan menyeh-menyeh untuk mengekspresikan hati yang absurd lalu menyebarkannya pada dunia. Sebagai manusia yang inginnya dimengerti, cara ini terbilang sehat kan?

5. Mengasah Keterampilan

Menulis tidak pernah sulit, yang sulit itu justru memulai dan membiasakan diri. Mungkin kita menyadari punya minat atau potensi dalam tulis menulis, tetapi sungkan mengambil langkah pertama seperti kebodohanku dulu. Tulis saja apapun yang ada dipikiran kita, entah itu opini, diari, puisi dan juga cerita karangan sekalipun.

Kemampuan kita akan terasah dengan sendirinya dengan kegigihan kita yang tetap melanjutkan menulis. Layaknya menerapkan pelatihan untuk diri sendiri agar terus menulis dengan sebaik-baiknya. Tentu kita akan semakin kaya akan diksi dan menemukan gaya penulisan yang dirasa paling nyaman. Selalu ingat bahwa pengulangan yang sunguh-sungguh mengantarkan kita pada keahlian.

6. Produktif Gunakan Waktu Luang

Setiap detik-menit yang kita punya alangkah lebih baiknya dimanfaatkan dengan hal-hal yang positif, termasuk menulis. Sering kali aku jadinya gunain waktu istirahat di kantor untuk memperkaya bahan tulisanku berikutnya atau mulai mencicil kalimat-kalimat sebuah artikel baruku. Aku sangat menikmati kegiatan berfaedah ini. Keinginanku menulis mendorong sebuah kebiasaan baru dalam manajemen waktuku sendiri.

7. Aktualisasi Diri

Menurut hirarki Maslow, aktualisasi diri adalah level puncak setelah basic needs dan physiological needs terpenuhi. Ketika kita bukan siapa-siapa, maka perlu perjuangan tanpa henti mencapai level tertinggi ini. Manusia ingin keberadaan dirinya diakui pada lingkungan dari pengungkapan kemampuan dan potensi diri. Makanya melalui menulis sebenarnya disadari atau tidak kita ingin mengupayakan aktualisasi diri sendiri.

β€œOrang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian.”

Pramodeya Ananta Toer

Sebenarnya, masih ada banyak alasan lainnya kenapa harus menulis. Kalian juga pasti menyimpan alasan khusus tersendiri, kan ya? Mungkin alasan aku dan kamu berbeda. Tak masalah, yang penting kita tidak berhenti menulis. Kalau bisa malah ikutan menyebarkan racun candu dari menulis ke lingkungan sekitar kita. Karena dengan menulis menggerakkan kita untuk lebih banyak tahu. Persepsi menulis itu rumit perlu kita luruskan. Menulis tidaklah rumit bila kita bisa menikmatinya.*

*Tulisan ini diikutsertakan dalam Lomba Blog Catatan Pringadi bekerja sama dengan Tempo Institute.

Two girls with big dreams.

12 Comments

  • Reyne Raea

    Menulislah, menulis membuatmu abadi.

    Kalau nggak salah pertama kali baca kalimat itu di FBnya Mba Asma Nadia πŸ˜€

    Saya suka menulis, awalnya dipicu karena saya pelupa.
    Lama-lama jadi tahu kalau sereceh apapun tulisan saya, kadang ada satu atau dua orang yang butuh loh.
    Lalu lama-lama jadi tahu kalau ternyata menulis di blog bisa juga menghasilkan πŸ™‚

    Jadilah, saya makin keranjingan menulis πŸ™‚

    • Jane

      Teringat wejangan dari salah satu blogger panutanku, sebagai penulis/blogger seharusnya kita bisa mandiri dari komentar pembaca. Ada atau nggak ada komentar, kalau kita benar-benar suka menulis, harusnya itu nggak akan jadi masalah. Ini tantangan besar buatku yang selalu ‘haus’ validasi/pengakuan dari orang lain tentang apa yang dikerjakan. Tapi lama-lama aku belajar dengan ‘mengabaikan’ ada atau nggaknya validasi tersebut, aku lebih fokus menyelesaikan tulisan-tulisan dan kegiatan menulis jadi benar-benar bermakna 😊

      After all, aku setujuuu sekali dengan semua poin di atas. Tetap semangat menulis, ya! (:

      • Occi

        Meski tau salah, emang nggak muna juga kan ya mba Jane tiap komentar yang bikin ada interasi dalam tiap tulisan kita itu punya kesenangan sendiri gitu. Nulisnya nggak munrni ikhlas kerena ttiap publish tulisan juga masih tetap ngarep banyak yang komen. Musti banyak berguru nih tips mengabaikan validasi dari Mb Jane. πŸ˜‰ Semangat terus!

    • Occi

      Pernah baca juga kalau menulis untuk mencegah lupa. Keren Mb Rey!
      Alhamdulillah bisa mendatangkan rezeki. πŸ˜‰
      Mesti banyak belajar nih dari mastah Rey. πŸ˜‹
      Senang banget dikomenin Mb Rey. Aku sering ngintipin blog mu loh mb. 😳
      Kagum bener sama Mb Rey bisa gitu up blog tiap hari. War biasa!
      Semoga semangat nulis mb bisa nular padaku. 😚

  • Astriatrianjani

    Menulis adalah bekerja untuk keabadian…
    Saya selalu mikir gitu dulu. Nggak hanya seorang musisi, atau seniman tapi seorang penulis juga bisa abadi lewat tulisannya. Tulisan kita akan tetap ada bahkan kalau kita udah nggak ada. Tulis hal-hal yang bermanfast bagi diri sendiri juga orang lain😊

    • Occi

      Yes, totally right Mb Astria. Meninggalkan jejak nyata dari tulisan-tulisan kita yang bermanfaat buat orang lain kan semoga bisa dihitung jadi amal kebaikan ya mb. Tetap semangat nulis mb! 😊

  • ainun

    yup mba, menulis ya tinggal nulis nggak dibuat ribet
    kadang memang ada beberapa orang yang mau nulis juga masih “ribet” sana sini.
    aku awal nulis ya karena suka nulis dan media blog sebagi wadah buat nyimpen diary dan berbentuk online, syukur syukur bisa dibaca orang lain

    • Occi

      Kalo mau nulis aja banyak bener alesannya, dijamin nggak bakal ada tulisan yang jadi. πŸ˜… Abisnya aku dulu begitu. Sampai bertahun-tahun baru akhirnya tersadar. Hahaha 😬😁 Sekarang aku mah nulis aja, iya syukur-syukur dibaca orang lain. Hehehe terus semangat nulis ya kita mb!😊

    • Occi

      Hi om! Salam kenal ya.
      Asli om efektif banget menjaga kewarasan kita. πŸ˜‰ Hahaha
      Btw, aku pernah lihat om di history coffee loh, hehe tapi nggak berani negur.
      Ntar dikira sksd kali. πŸ˜…
      Makasih sudah berkunjung om ^^

    • Alfat Eprizal

      Sebagai pers kampus, kalau saya menulis karena ingin melaporkan atau menginformasikan adanya suatu hal.

      Semisal ada tempat yang bagus, komunitas yang bisa bermanfaat buat lingkungan, sama suatu program yang ada di kampus, saya beri tahu lewat tulisan saya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *