Akhirnya Lepas Kartu kredit
Joy

Akhirnya Lepas Kartu Kredit

Nutup kartu kredit itu nggak mudah. Iya, aku mesti paksa badanku untuk hidup sengsara bulan ini demi melunasi tagihan yang melebihi gaji yang kuterima. Gimana caranya berdamai nyukupin seluruh biaya hanya dengan duit IDR 250k. It’s really tought, asli penyiksaan berat sih.

Aku sebagai anak kosan yang jarang masak, terpaksa harus masak dengan pilihan bumbu terbatas biar nggak kelaperan. Aku juga nelpon mami minta kirimin lauk kering yang kira-kira bisa awet cukup lama. Aku bisa nggak jajan sama sekali sebulan ini. Terus aku harus tahan nebeng buat ngantor biar irit duit bensin. Beli kuota dan token pun ngutang di kredivo.

Rencana awalnya, mau kulunasi tagihan kartu kredit itu santai aja, bukan dadakan dan menyiksa begini. Lantaran aku muak dan kesal sama pihak BNI yang tidak bisa berkompromi, jadi bikin males berurusan lagi dengan mereka. Aku pakai BNI karena dulu awal bekerja payrollnya di BNI.

Pegang kartu kredit sejak April 2019 dengan banyak teror asuransi di enam bulan pertama pemakaian dan sudah rugi juga dengan premi yang hangus begitu saja tidak bisa diklaim. Dua tahun pertama akan bebas dari iuran tahunan tapi aku lupa ini sudah jadi tahun ketiga dan mereka sudah charge iuran tahunannya di April lalu sebesar IDR 240k.

Sebelum aku mudik lebaran, pihak BNI sempat menghubungiku untuk mengkonfirmasi pemakaian tidak wajar di Amazon senilai separuh dari limit kartu. Jelas, itu bukanlah aku yang gunakan. Aku nggak bakal beli barang dari Amazon yang pengirimannya pun bayar bea masuk. Solusinya dengan pembolkiran kartu permanen dan akan dirimkan kembali kartu pengganti yang baru.

Hingga dua bulan lamanya karu itu tidak kunjung kuterima. Keterangan dari pesan di poselku bahwa kiriman terlah diterima oleh satpam kantor. Lucunya setelah kutelusuri, tidak ada nama satpam itu di kantorku. Lalu aku tanyakan perihal ini pada pihak BNI tapi mereka juga tidak bisa lacak pengiriman itu di ekspedisi.

Yang ada mereka menyarankan agar aku dapat kartu baru lagi dengan biaya penerbitan kartu sebesar IDR 100k. Aku jadi kesal banget, jelas itu bukan kesalahanku tapi kenapa aku yang dibebankan biaya penerbitan kembali. Aku sampaikan bahwa aku tidak pernah telat bayar dan selalu bayar di atas pembayaran minimal, masa hal itu tidak bisa mereka cover.

Sudahlah bayar iuran tahunan, masih harus bayar ini pula. Alamak, cukup sudah, aku muak. Akhirnya kubilang mau menutup saja kartu kreditku. Aku hanya butuh nomor kantu itu untuk melunasi tagihan yang ada. Dan ini lah jadinya, menghabiskan lebih dari gaji sebulan karena nutup hutang kartu kredit. Bahkan mau nggak mau aku terpaksa melobi bapak kos agar dikasih keringanan bisa nunggak sebulan sewa kamar kos.

Aku jadi teringat cerita hidup bergelimang hutang. Tulisan ini hanya curahan hatiku yang merasa hidup merana sebulan ini. Semoga ada hikmah yang bisa kalian ambil dari curhatan ini. Saran dariku, bijaklah dalam mengelola keuangan dan jangan terlena dengan jerat hutang yang kadang begitu menggiurkan jadi jalan keluar sesaat.

2 Comments

    • Navia Yu

      Benar mas sering kebobolan gitu. Orang kantor malah sampai habis limitnya dipakai oknum dari US. Untungnya nggak mas, setelah diskusi alot dengan meyakinkan mereka kalau tidak ada orang rumah yang bisa pakai kartu kreditku jadi solusi pemblokiran itu yang diambil.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *