Aku Tak Ingin Menepi Berteman Sepi
Monologue

Aku Tak Ingin Menepi Berteman Sepi

Saat belia, kebanyakan dari kita tidak dipersiapkan untuk menjalani sisi lain menjadi dewasa yang tidak pernah orang dewasa katakan. Kebanyakan dari kita pun tidak memiliki opsi lain selain menahan keluhan batin yang kian hari kian menyesakkan.

Kesepian akan kerap menemani hari-hari saat kita beranjak membuka bab hidup pendewasaan. Pertemanan tidak akan seerat dulu yang memikul suka duka bersama. Orang-orang dalam circle kita pun akan ikut mengerucut seiring waktu. How do we begin to curb those things within our personality type that can lead to loneliness?

Aku di posisi yang mau nggak mau harus bertahan. Meskipun aku tau ini bukanlah diriku. Pribadiku yang bawel dan senang berinteraksi tertekan dalam lingkungan ini. Aku seperti terlempar keluar begitu saja tanpa kutahu letak kekeliruan yang terjadi. Yang tersisa hanya sepi maka aku mencoba berdamai bersama dan di dalam sepi.

Kesepian yang menyeret suram mengiringi hari-hari yang sudah dominan merenggut energiku seharian. No one else could read me. Tetapi Tuhan tahu, siapa dan apa kebutuhanku, bisa saja kesabaranku juga sedang diuji. There’s nothing I can do now, just adds more sense of patience every time I wake up. But patience was difficult for me given my natural personality. It took a concerted effort to become a more patient.

Ditambah lagi kini aku dilanda krisis seperempat abad yang harus menghadapi kemelut problematika dari segala penjuru. Merasa tidak cocok dengan ritme kehidupan yang saat ini kujalani. Ada celah besar yang mendesak ingin segera diisi dan kutemukan jawabannya. I feel empty at the moment, get lost tryna find another way walk the world alone, alone, alone.

Wondering if it gets better, wishing everyday that something would change. Aku hanya ingin menikmati hari menjadi aku, diriku seutuhnya tanpa merisaukan ada yang membatasi kebebasanku. Aku ingin berteriak pada sekeliling bahwa aku tak tahan terlalu lama dalam kesuraman ini. Only with my headphones in I can block out the noise while stare out my work and the clock in the left.

Aku suka tersenyum, bercanda dan penuh keriangan. Setidaknya aku butuh seseorang yang mengerti relung rasa dan pemikiranku. It just looks so different now. Atmosfer dan udara yang kuhirup kini hanya penuh akan aura negatif dan seringai tajam orang-orang toxic. That’s why I plan my escape from this crooked dark circumstance.

I’ve tried to fit in a bunch of fake friends but it wasn’t working. Stand in this state can’t be so simple, it’s driving my mental. Aku bukan tipe yang bisa tumbuh subur di tengah lingkungan beracun. Aku nggak punya kemampuan itu, menetralisir racun dan mengubahnya jadi kekuatan diriku. Instead, I am really sick of it.

Hanya dengan tulisan ini yang menjadi caraku melepaskan penat dan keluh kesah menjalani hari suramku. Bersabar adalah cara teraman buatku sekarang karena meski berat aku masih ingin menanti sebuah kabar baik akan menghampiriku dalam waktu dekat. There will always be good days waiting. I hope that lovely day will soon escape me from this gloomy hole.

2 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *