Andaikan Comment & Like Berbayar
Youth

Andaikan Media Sosial Berbayar

Mari berandai-andai, jika model bisnis platform media sosial berganti model bisnis menjadi seperti platform streaming film atau musik, yang dimana mensyaratkan pengguna untuk membayar demi menggunakan layanan premium mereka, apa kalian akan bersedia membayar?

Kalian tentu sadar model bisnis subscription sudah banyak diaplikasikan oleh para developer aplikasi lainnya yang tersedia di market place. Apa yang akan berubah bila kita menjadi pengguna yang mau membayar? I think what we get is a more pleasant experience for  premium features than the free account users.

Model bisnis seperti itu mungkin menjadi solusi untuk pengguna yang risih dengan paparan iklan yang berseliweran saat sedang asik nonton, dengar musik, main game atau pun baca buku. Nah, bagaimana dengan monetisasi sosmed? Apa kita bisa mendapatkan pengalaman yang lebih baik? Mungkin keuntungan di kita sebagai pengguna adalah keamanan atau kerahasiaan data bisa lebih dilindungi, dan barangkali juga akan lebih sedikit spammers dan akun-akun palsu.

Namun, untuk segelintir orang yang sudah menjadi pengguna premium sosmed umumnya tujuannya berbeda. Sekelompok pengguna premium ini adalah pebisnis yang menggunakan sosmed sebagai alat strategi pemasaran brand mereka. Dan tentu saja bisa ditebak, akun gratisan adalah mangsa empuk dari sasaran iklan brand-brand tersebut. Mereka inilah yang beneran jadi customers, they will earning money from social media.

“If you’re not paying for the product, then you’re  the product”

Daniel Hövermann.

Jika kalian pernah nonton film documenter Netflix Social Media Dilemma, mungkin sudah tidak asing dengan quote di atas. Dalam film itu divisualisasikan bila pengumpulan data atau informasi pribadi kita mudah didapat dari aplikasi sosial media yang memantau aktivitas serta kebiasaan kita. The business model is targeted advertising. Perusahaan-perusahaan raksasa itu menghasilkan uang dari penggunanya, dari kita.

Benar adanya bila kita menjadi pengguna aktif sosmed dengan tanpa biaya dapat dipertanyakan kembali. Karena biaya yang mereka ambil dari kita tak terlihat tapi lebih masif. Sekarang kita telah tersadar tentang begitu banyaknya aplikasi yang menghimpun data pengguna tanpa kita sadari sebelum mengunduhnya. Media berita, seperti narasi pun juga sudah membeberkan data faktual ditayangan investigasinya tentang penambangan data di aplikasi pendidikan.

Source: socialmediatoday.com

Lantas apakah mungkin bila para developer sosmed mempraktikkan model bisnis berbayar, mereka berani menjamin tidak akan menjual data pribadi kita ke pihak pengiklan? Kepastian ini tentu harus dalam pernyataan tertulis bila benar perusahaan itu ingin beralih model bisnisnya. Dan kita juga mesti lebih jeli menyoroti perizinan apa saja yang dibutuhkan oleh setiap aplikasi sosmed dan lainnya saat kita mengunduh itu di ponsel.

Namun ada hal positif yang mungkin dapat dipertimbangkan dari bisnis subscription boleh jadi jawaban alternatif untuk menentramkan warna net yang usil. Kadang aku suka berandai-andai, jika para perusahaan sosmed jadi maruk dan membuat sistem berbayar untuk setiap komen dan like harus berlangganan dulu, mungkin dunia siber akan lebih tenang ya dan aman dari Netizen super baperan di kawasan 62.

Tentu yang berani komen mikir dulu mesti top up ngeluarin biaya untuk mengakses kolom komentar dan barulah bisa ngetik seheboh yang dikehendaki. Mungkin sedikit bisa menertibkan jari-jari yang asal ngetik tanpa membaca dan main asal nyerang gitu aja. Bilamana ada event tertentu saja, para pengguna gratisannya baru bisa sesekali dikasih akses meninggalkan komentar. Yaaa itu hanya pengandaian saja kok. Tidak dapat kusimpulkan juga hal itu bisa berdampak baik atau buruk jadinya nanti.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *