Youth

Apa Kabar Mahasiswa Semester Akhir di Masa Pandemi?

Bukan Dalih Semata

Masa pandemi ini merupakan masa dilematis bagi kebanyakan mahasiswa tingkat akhir. Sebagai pejuang skripsi, aku merasakan betul beban yang bertambah berat. Banyak sekali hambatan yang menyulitkan kita beradaptasi dengan perubahan baru yang tidak memihak ini. Sulitnya mengerjakan skripsi jadi naik berkali-kali lipat di masa yang juga serba susah sekarang.

Ini bukan cari alesan buat mangkir dari tugas akhir. Bukan juga jeritan manjah mahasiswa. Serius, gara-gara pandemi semua jadi tertunda. Tren digitalisasi juga satu-satunya solusi yang bisa ditempuh untuk seminar dan bimbingan jarak jauh. Meski begitu waktu yang terpakai jelas jauh dari optimal dan sangat tidak leluasa. Belum lagi masa menunggu keluarnya sebuah SK yang tersendat, bisa sampai dua purnama sangkin lamanya.

Keadaan begini jelas sangat tidak memungkinkan melakukan penelitian lapangan dan mungkin pengolahan data juga belum bisa diproses akibat metode yang  digunakan berbeda. Bila harus menyesuaikan metode pengambilan data, maka rancangan proposal yang telah rampung mau tak mau harus ditulis ulang. Apa daya mahasiswa semester tua yang kewalahan menyesuaikan diri sama keadaan.

Mana ada satu pun mahasiswa yang rela menunda kelulusannya. Setiap mahasiswa ingin lulus tepat waktu agar tidak lagi nyusahin orangtua. Namun realita justru berkata sebaliknya. Nampaknya tidak tersisa opsi lain selain menunda kelulusan.

Opsi ini tentu saja memberatkan. Menambah satu semester lagi artinya harus membayar uang kuliah juga. Kasihan kan orangtua yang juga terdampak Covid-19 tentu keuangannya lagi terpuruk akibat minim pemasukan. Apalagi, bagi mahasiswa yang nyambi bekerja sepertiku yang tidak hanya mikirin biaya bertahan hidup juga mikirin kebutuhan biaya kuliah.

Ekspektasi Adinda

Sedikit ada angin segar behembus ketika membaca tanggapan Kemendikbud terkait dilemma para mahasiswa. Kemendikbud memberikan kebijakan keringanan pada mahasiswa yang mengerjakan tugas akhir berupa aturan kelonggaran waktu yang dituliskan melalui Surat Edaran Nomor 302/E.E2/KR/2020 dan ditambah lagi Permendikbud Nomor 25/2020 tentang Standar Satuan Biaya Operasional Pendidikan Tinggi.

Suka cita aku membaca berita itu. Agak berasa lavang sedikit kalau betulan bisa lepas dari uang kuliah semester tambahan. Semoga pihak kampus mampu menerapkan mekanisme pembayaran UKT di masa pandemi ini dengan berlaku adil seadil adilnya untuk seluruh mahasiswa. Berharap banget dapat memberikan manfaat sebagaimana mestinya. Ya, seharusnya begitu.

Realita Yang Ada

Semalam aku menerima sebuah pesan gambar yang dikirim salah seorang kawan kampus di grup whatsapp. Isinya beneran menyesakkan hati. Harapan kadang pun terlalu Indah. Kenyataan yang muncul malah menjadi begitu pahit.

Gambar tersebut  berupa foto dari surat edaran dari bagian kemahasiswaan kampusku yang isinya menyakut pemberian bantuan UKT 2020. Surat tersebut menyebutkan kriteria atau syarat-syarat mahasiswa yang layak mengajukan permohonan bantuan UKT.  Salah satu syarat yang bikin dahi mengeryit adalah UKT mahasiswa tersebut tidak melebihi Rp 2.400.000,- (Mahasiswa yang UKTnya melebihi nominal tersebut tidak boleh diusulkan). Sama sekali tidak disinggung bagaimana nasib mahasiswa semester tua.

Waaah, sontak grup mendadak ramai. Terjadi diskusi sahut menyahut dari anggota grup. Sebenarnya tidak bisa disebut diskusi sih, saat tidak ada yang mengambil peran dari kubu pro di dalamnya. Yang ada cuma pihak kontra yang merutuki dan membalas dengan sumpah serapah menanggapi surat tersebut. Yap, tulisan ini juga bentuk tanggapanku terkait kearifan pihak kampusku. Betapa baiknya kebijakan itu dirumuskan.

Tidak kah ini terlihat timpang sekali? Sungguh bikin geleng-geleng kepala. Helloooow! Pak, Buk, musibah ini dialami seluruh penghuni kampus. Semua mahasiswa terkena dempaknya. Lantas kenapa yang UKTnya di atas nominal itu tidak layak merasakan kebijakan kampus ini? Kami pun terseok-seok mengais rupiah dalam situasi begini.

Kebijakan ini malah menjadi ironi sekali. Nasib kami para pemburu toga jadinya belum jelas. Bukan kemauan kami menunda skripsi, tapi keadaan yang memaksa. Apa mahasiswa semester tua bukan termasuk korban di situasi ini?

Aku menilai, harusnya tidak sepatutnya mahasiswa yang tugas akhirnya mandek akibat pandemi Covid-19 harus membayar UKT di semester berikutnya. Misalnya, bila mahasiswa itu minimal telah melewati sidang proposal maka mahasiswa dinyatakan layak mendapat perlakukan yang berbeda untuk pembayaran uang kuliahnya. Paling enggak, berilah keringanan cukup membayar setengahnya saja pada kami.

Kondisi ini semakin mengkhawatirkan. Disamping mesti kreatif dan aktif menemukan cara efisien dan efektif agar tetap bisa menuntaskan skripsi, mahasiswa tingkat akhir pun bakalan tetap dihantui mahalnya biaya dari kelulusan yang tertunda. Jika begini, bukan tidak mungkin segelitintir mahasiswa akhir menderita stres akut atau bahkan lebih ironis lagi jika ada yang pupus harapannya karena dengan berat hati mengakhiri perjuangan studinya lantaran terbelit biaya.

Sekarang harapanku tertumpu pada inisiatif BEM mengajukan keberatan pada kebijakan tersebut. Semoga aspirasi mahasiswa mampu disampaikan dengan baik ke hadapan para petinggi universitas. Dan pihak kemahasiswaan berbesar hati merevisi surat edaran tersebut supaya penyalurannya adil. Semoga saja.

10 Comments

  • Just Awl

    That is exactly what i feel! Kampusku malah sangklek gak kasih keringanan khusus untuk mahasiswa akhir seperti surat edaran dari Kemendikbud. Jadi bentuk keringanannya itu cuma sebatas penangguhan, itupun harus ada seleksi dulu berkas dan wawancara daring, yang mana keringanan berupa penangguhan ini emang selalu ada setiap semester, bukan karena pandemi aja. Berarti si keringanan akibat pandeminya gak ada dong? Kesel banget aku padahal optimis banget kalo gaada covid paling enggak Agustus nanti bisa sidang, sekarang boro2 jalan, depresi dari bulan Maret kemaren karena ngedadak semuanya kayak berhenti gitu aja gak sih, harapan, rencana, tujuan, dll, penelitiannya sendiri pun kemungkinan besar harus diganti😭😭 Orang-orang mikirnya “halah covid aja kamu jadikan alasan”, padahal emang iya gitu lho gara2 covid semuanya jadi serba sulit😭 Katanya sih sekarang masih diperjuangin sama BEM kampus, tp entah kenapa udah hopeless aja sama petinggi-petinggi uni. Mau gak mau harus tetep bayar untuk semester depanπŸ™ƒ Btw, temen-temen aku akhirnya banyak yg cuti untuk semester depan.

    Duh maapin nih jadi curhat, abis berasa ketemu teman sepenanggungan liat postinganmu Nav😭

    • Navia Yu

      Hiks emang sedih kan Awl tiba-tiba beneran ketemu tembok besar yang ngalangi. Mirisnya lagi cuma bisa berdamai sama keadaan yang ada 😩. Bingung aku tuh sama petinggi uni. Apa sesulit itu ya ngasih keringanan buat kita? Mungkin sih pertimbangannya expense uni yang nggak berkurang walau kelas jadi daring semua. Ah, ntahla blunder 😡. Aku pun rasanya lelah narok harapan kosong ke mereka 😭😭.
      Kamu kepikiran buat cuti juga kah? Itu kalau cuti apa bisa lepas dari uang semester?
      Senang aku tuh baca curhatan kamu πŸ˜‰. Kek nemuin kawan senasib sepenanggungan gitu. Halah! Hahaha πŸ€—

      • Just Awl

        Saking udah gak mau berharap lagi aku kemarin nekad mau bayar, tapi ujung2nya penasaran juga sih sama edaran dari kampusku huhu. Alhamdulillahnya kemarin emang udah ada edaran menyesuaikan dari peraturan Kemendikbud, cuma ribet harus ada persyaratan dan wawancara daring sama ortu. Kirain aku kan otomatis aja buat yg semester tua dan ngontrak gak lebih dari enam SKS. Akhirnya sekarang decided buat tetep bayar full karena males harus berurusan dengan petinggi2 lagi buat ngurus ini itunya, saking udah capek duluan. Jadi aku gak cuti Naf, tapi langsung lanjut nambah semester. Soalnya sayang juga kalau cuti sih, goals aku tahun depan nanti pengen udahan dulu kuliahnya gamau berurusan lagi sama kampus:D

        Kalau kamu gimana sekarang, Naf?
        Semoga diberikan titik terang yaa untuk nyelesain studi ini:(( Aamiin.

        Oh iyaa ada yg ketinggalan hikss, kalau di aku cuti bebas uang semester naaf, cuma bayar administrasi buat ngurus cuti aja sekitar 170 ribu gitu:’)

        • Navia Yu

          Waduh jadi endingnya tetap bayar full dong. Nyesek nggak sih? 😧
          Pantesan tuh banyak yang milih cuti kawan-kawanmu. Emang opsi itu lebih ringan sekarang ini.
          Asli ya Awl, pengen buru-buru nyudahin urusan kampus. Target wisuda mesti tahun ini. Jangan lah molor lagi. Capek udahan aku tuh. 😣
          Aku belum tahu nih Awl. Belum ada update terbaru soal pembayaran ukt. 😴
          Keep strong ya Awl demi ijazah. Hahaha 😏

  • CREAMENO

    Kadang, kalau melihat banyaknya kebijakan di luar sana, rasanya ingin mengurut dada 🀧 sambil bertanya-tanya bagaimana sebenarnya mereka memproses sebuah kebijakan sampai bisa timpang dan merugikan banyak orang. Kasian juga mahasiswa yang memang terhimpit biaya, kalau sampai mengubur cita-cita untuk menyelesaikan studinya padahal sudah hampir selesai dan terpaksa berhenti karena Corona dan kebijakan yang mengada-ada πŸ˜₯

    Semoga mba Navia, dan teman-teman termasuk mba Awl yang tengah mengalami polemik di universitas bisa melewati masa-masa kesulitan dengan hati lapang dan semoga segera diberikan solusi terbaik bagi semua agar nggak perlu sampai menyerah kalah. Semangat, mba πŸ’•

    • Navia Yu

      Iya seringkali emang kaca mata kita beneran beda banget sama para petinggi2 itu ya mba πŸ˜….
      Uhlala makasih mb Eno. Terharu aku tuh dikasih semangat sama mba Eno πŸ˜‡πŸ˜‡
      Asli mba, perjuangan belum berakhir, nggak ikhlas sampai kalah.
      Mesti kuat jadi single fighter dan harus bisa survive πŸ’ͺπŸ’ͺπŸ’ͺ

  • Erick

    I know that feel, Mba!

    Menanggapi argumen bahwa “mahasiswa tua yang tinggal sidang harusnya ga bayar UKT kalo extend”, pasti bakal dimentahkan dengan alasan ekonomi susah dsb. Saya ngerasa sih agak susah untuk dpt ngerealisasiin hal tersebut.

    Karena saya orangnya ga suka berharap sama orang lain (contohnya keputusan penurunan UKT oleh para petinggi kampus) maka sebagai salah satu bagian dari mahasiswa tua pejuang sarjana COVID-19, saya terpaksa menerima segala hal pahit dalam penyelesaian tugas akhir saya.

    Dari ganti nulis ulang (padahal sebelumnya data udah dapet dan layout pembahasan udah ada ditinggal diolah dikit lagi), asistensi online dan akhir bulan ini akan sidang online. Selain itu, saya juga sudah siap mental di wisuda secara online hahaha

    Semangat untuk teman-teman mahasiswa tua semuanya!

    • Navia Yu

      Uh asli mas Erick. Aku sesadar itu nulis sepanjang ini kek ya kerena udah hopeless gitu sejujurnya. 😿😿😿
      Keren nih kesabaran mas Erick. Ikhlas dan siap ya jadi lulusan angkatan corona πŸ˜‰ *kidding mas! Anyway, sukses ya mas buat sidangnya. Kudoakan semoga lancar jaya. πŸ’ͺπŸ’ͺπŸ’ͺ
      Hehehe kalau aku masih menunggu yang tak pasti nih. Proses administrasi kampus semakin blunder soalnya πŸ˜”.
      Tetap semangat mas!
      Salam dari sesama pejuang toga. 😊

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *