Monologue

Being Single Isn’t A Big Deal

Katanya jomlo itu free, faktanya kadang pun diri ini merasa miris. Sering kali jomblo menerima bullying hanya karena status single masih melekat padanya dibumbui stereotip jomblo yang beredar. Gak terhitung juga pengalaman pahit karena hal itu, namun bagiku itu semua masih banyak sisi manisnya. Say Not To Jones! Gak munafik sih, mungkin raga ini pun ingin ada seseorang yang mendampingi, menjaga dan melindungi seperti bawaan naluriah seorang wanita pada umunya. Namun, “ntahlah” maybe its about the principle of the thing. Siapa yang bilang jomblo gak bisa bahagia. Toh, lebih baik menjomblo dan bahagia daripada bertahan pada hubungan yang menyesakkan hati dan membuat nelangsa yang bikin galau berkepanjangan.

Kalian yang tertarik mengklik tautan dan membaca tulisan ini pasti juga masih menjomblo. Kita sebagai para jomblo pasti punya alasan tertentu kenapa masih menyandang status ini.

Berikut ini 8 alasan pribadiku mengapa masih betah menjomblo

1. Kebebasan Mutlak

Secara pribadi, aku ini adalah orang yang menjunjung tinggi kebebasan dalam hal positif ya. Mau koprol sampe jungkir balik juga jomblo mah bebas. Kebebasan ini lah yang bikin betah sebenarnya. Aku selalu melakukan apapun yang aku mau. Aku sering sebal bila seseorang mencoba menghalang-halangi apa yang ingin aku lakukan. Aku bebas mendalami hobi dan ketertarikan pada hal baru. Aku pun senang bergaul dengan siapa saja, bertemu orang baru dan yang benar-benar asing dari berbagai negara lalu hangout dengan mereka. Aku nggak yakin, ada pria yang siap dengan kesenanganku ini tanpa menggerutu di belakang.

2. Mewujudkan Mimpi Lebih Utama

Saat ini emang fokusku adalah menyusun langkahku menggapai mimpi. Jadi, keinginan punya pasangan masih diurutan nomor sekian makanya aku sengaja nggak meluangkan waktu buat nyari kekasih. Yup, sekarang punya pacar bukan prioritas. Bila datang seorang pria yang menyanggupi segenap hatinya buat support aku dengan segala deretan kegilaan mimpi-mimpiku mungkin baru akan kupertimbangkan keberadaannya di sisiku.

3. Enggan Membuang Waktu

Pasti sering kan menyaksikan seseorang yang udah pacaran bertahun-tahun tapi belum tentu berlabuh ke pelaminan. Bisa jadi, kita bakalan nemuin orang lain dan cuma mengenalnya beberapa bulan tapi mau serius ngajakin nikah. Bagitulah dunia bekerja. Banyak hal yang tidak pasti bergulir bersama waktu. Hidup ini masih banyak hal bermakna lainnya selain romasa belaka. Daripada membuang waktu sia-sia kenapa kita tidak memanfaatkan usia muda dengan melatih diri kita mencintai diri sendiri lebih dulu. Lebih berfaedah buat aktualisasi diri kita untuk mengenali apa maunya diri ini dan menggali potensi terpendam. Apa lagi kalo makin dekat sama Yang Maha Kuasa, makin ngerti agama lebih oke tuh.

4. Takut Tersakiti (lagi)

Kadang mantan pernah meninggalakan jejak luka yang dalam dan masih membekas. Apa lagi buat tipe bucin macem aku yang mungkin lebih susah move on. Mungkin karena sayangku lebih banyak kadarnya. Sedangkan dia dengan teganya, gak pake mikir lagi nyakitin perasaanku yang tulus ini. Coba deh, gimana nggak nyesek, lagi sayang-sayangnya, eh malah ditinggal. Terus pas bubaran susah kan ngelupain segala perhatian dia. Susah kan nemuin kenyamanan yang sama. Atau boleh jadi terlalu takut bila terlanjur sayang dan malah dimentahin. Gak mau lagi merasakan kepahitan itu terulang kedua kali.

5. Lebih Mandiri

Benar sih, sometimes you will feel lonely, hanya saja ini memaksa aku jadi wanita mandiri yang harus kuat berdiri sendiri dan nggak mudah bergantung bantuan orang lain. Ditambah lagi sebagai anak rantau, aku jadi terbiasa melakukan banyak hal sendirian. Gak ada tuh rasa malu pas makan sendirian di cafe, atau ke toko buku dan beli baju sendiri, apa-apa dan ke mana-mana sendirian aja. Aku sih biasa saja, malahan kondisi ini, melatihku selalu sigap menjalani hari-hariku, lebih berani melangkah dengan motivasi sendiri tanpa terpengaruh orang lain. Ketika sendirian kita bisa fokus mengambil keputusan buat diri sendiri dan belajar untuk membuat rencana sendiri. Keren, kan?

6. Anti Ribet

Lupakan semua keribetan saat pacaran. Hidup jomblo pasti lebih tenang dan damai. Gak bakal ada namanya bumbu-bumbu dari sebuah hubungan seperti pertengkaran. Juga terhindar dari keharusan jadi alarm hidup doi. Kalian para cewek pasti paham yang mesti ingat tanggal dan momen penting kayak misalnya hari jadian atau ultah doi. Belum lagi kalo si doi ini pelupa, maka otomatis sebagai pasangan kita mesti ingetin semua jadwal dia, mulai dari jadwal kelas, ujian, les, dan pertandingan juga.

Lebih sial saat punya pacar jenis yang posesif dan over protective. Bisa makin parah tingkat keribetannya karena wajib nyiapin laporan detail dulu ke satpam tiap mau keluar rumah, ditanyain pergi sama siapa, mau ngapain, pulang jam berapa dan sebagainya. Belum nikah aja kudu lapor ini itu, mau kemana aja kudu bilang, mau main aja kudu bikin proposal dulu baru dapat izinnya. Please deh, mak sama bapak sendiri aja gak ada tuh sampe mantaunya begini banget. Risih aku tuh kalo apa-apa diintrogasi, curiga sana-sini mulu bawaannya. Ah, pokoknya kamu bisa ngerti lah keriweuhannya. Nah, dengan menjomblo mau main sampe ke antariksa juga bebas, nggak akan ada yang sok-sok-an ngelarang dan ngawasin dari jauh.

7. Sulit Mempercayai

Aku bukan pistanthrophobia yang memiliki trauma akibat penghianatan dari orang terkasih, jadi bukan berarti aku skeptis terhadap suatu hubungan. Aku cuma orang yang gak semudah itu untuk percaya sama orang lain. Nah, loh? Bukankah dalam hubungan kita harus percaya dengan pacar kita? Tetapi buatku, percaya sepenuhnya kepada pacar sendiri aku belum bisa. Meski agak rumit memang, tapi ini lah yang bikin aku nggak mudah menaruh harapan pada iming-iming manis buaian janji palsu para lelaki. Setidaknya, logika otakku tidak lumpuh seketika ketika ada lawan jenis yang mendekat dan ngumbar sejuta hal manis dari mulutnya. Aku bisa mengantispasi hal ini dengan bersikap dan berpikir kritis dalam sikon yang mungkin dapat memabukkan.

8. Jomblo Itu Pilihan

Siapa yang jones? Aku nggak ngerasa tuh. Menjomblo nggak buat duniaku jadi gelap gulita. Aku tetap happy aja dengan hidupku. Saat ini aku bisa menikmati status kejombloan ini, toh sah-sah ajakan. Aku tetap enjoy and fun. Sebab aku lah yang dengan sengaja dan secara sadar memilih menjomblo. Aku jomblo bukan berarti nggak laku, bukan berarti aku ini nggak ada yang ngelirik sama sekali. Justeru, bisa jadi aku lebih memilih bertahan dengan kesendirian ini karena sebenarnya lagi nunggu yang benar-benar tepat. Nungguin seorang pria yang maunya segera serius aja langsung ngajak bareng-bareng ke KUA. Ayiiikk!

Nah, cukup lah delapan alasan di atas untuk nggak bersedih hari ini. Toh kita tetap hidup dan bernapas di tanggal ini, ya walau tidak punya pacar buat berbagi cokelat, bukanlah hal yang mengenaskan. Hidup ini banyak lagi elemen yang dapat kita syukuri. Karena pasti ukuran bahagia versi kamu, dan kami yang jomblo itu berbeda. Bagi kamu mungkin punya pasangan itu bahagia yang sederhana, bisa merayakan momen yang spesial kayak valentinan gini, tapi bagi jomblo bahagia itu sesederhana menikmati masa-masa sendiri. Lagi pula urusan kejombloan ini, masalah buatmu? Ayolah guys, coba deh berhenti menghakimi para jomblo, ya.

Two girls with big dreams.

5 Comments

      • Just Awl

        Emang ya mba, kayaknya orang-orang aja yang ribet tiap kali denger atau ngeliat orang jomblo. Hobinya sibuk ngurusin orang aja. Jomblo menyedihkan lah, gak laku lah, yg lebih parahnya disangka gabisa move on dari mantan makanya belum cari yg baru, hilih (aku pernah nih diginiin, sebelnyaa minta ampun). Padahal jomblo itu ya pilihan, sama dengan menikah, bukan tekanan atau paksaan.

        Ngomong-ngomong mba, poin yg anti ribet itu emang betul sih. Sebenernya yg malesin dari “in relationship” itu kalau udah berantem, haduh pengen nyemplung aja rasanya ke empang. Padahal di luar dari itu fine2 aja, gak tau sih tapi kalau untuk orang lain.

        Kalau buat aku pribadi, hal-hal seperti itu pun seharusnya memang kita dapatkan saat berhubungan dengan orang lain. Walaupun mungkin sulit, paling nggak diperjuangkan untuk bisa ngerasain hal-hal yg kita rasain saat jadi jomblo/self-partnered.
        Makanya dulu saat “pdkt” (jiaah) sama mas yg sekarang aku selalu tekankan bahwa aku orang yg udah cukup enjoy dan tenang dengan kesendirian, bisa melakukan banyak hal yg aku suka tanpa harus dilarang ini itu, senang menyendiri, dll, jadi ketika nanti mulai berjalan bareng pasangan bisa mengerti kita lebih. Alhamdulillah sekarang aku pun punya lebih banyak waktu buat sendiri, saat aku pengen self-love dll, ke mall sendiri, nonton sendiri atau sekadar makan sendiri di cafe, doi gak masalah. Mba pun kalau suatu saat nanti ketemu sama jodohnya jangan patah semangat memperoleh “independency” yang sudah mba dapet saat masih single ya, mba! Hihi💪🏻

        Anyway salam kenal dariku, mba🙏🏻 semangat terus ngeblognya😍

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *