Monologue

Bukan Lelucon Tapi Siksaan Bulan April

Hoolaa… Jumpa lagi…

Gimana kabarnya? Udah nyampe level berapa tingkat halu kalian lumutan di rumah aja? Berapa pun itu yang penting tetap sehat dan puasanya aman, ya.

Kali ini aku mau sedikit ngoceh soal kehidupan di bulan April yang terasa begitu panjang. Megap-megap malah, terasa sesak bener sebulan itu. Bahkan dunia pun sudah tak berselera lagi rayakan lelucon April Mop. Kita yang juga jadi bagian aksi dari dunia memerangi si markonah yang menjajah dan melumpuhkan semua sendi kehidupan pun tidak bisa berbuat banyak. Tahan-tahani deh mendap di rumah gak boleh kemana-mana sampe udah overdosis me time.

Apa agak berlebihan menyebutnya siksaan? Tapi tidak tepat juga dinamakan cobaan. Situasi ini memang kali pertama terjadi, kali pertama mall juga toko pun warung pada tutup, dan kali pertama jalanan dekat rumahku tidak ada kebisingan.

Di saat bersamaan banyak berita menyedihkan mengenai PHK karyawan dan pemotongan upah efek samping WFH yang buat keadaan semakin mencekam. Padahal himpitan kebutuhan hidup dan tenggat cicilan jatuh tempo terus menjerit tanpa kenal kompromi.

Bila ke luar rumah sama dengan cari penyakit maka jelas himbauan berdiam di rumah mana berlaku bagi pedagang kecil. Mengisi periuk adalah hakikat yang haqiqi sifatnya lebih mendesak bagi mereka yang kurang beruntung nasibnya. Mereka masih harus memilih berkerumun di pasar untuk berdagang ketimbang bengong gak ada kegiatan di rumah gak ada pemasukan untuk makan hari ini.

Ada lagi siksaan untuk para parantauan yang dilarang mudik adalah satu lagi kenyataan pahit yang tersedia. Nah, untuk kali pertamanya juga aku lebaran sendirian di kosan, terpaksa. Dari pada aku jadi media pembawa koronah ke kampung halaman setidaknya opsi ini adalah yang teraman. Ramadhan tahun ini bukan jadi momen pelepas rindu. Tidak ada agenda bukber yang biasanya riweh di grup-grup alumni dan tidak bisa muleh jumpa keluarga tercinta. Benar seperti siksaan.

Kemudian diri ini yang bawaannya malas semakin dimanja magernya disuruh di rumah aja. Lihatlah scriptsweet aku yang mandek sejak revisian pertama belum tersentuh lagi dari akhir Maret. Aku gak ngerti lagi gimana membangkitkan gairah menyelesaikan skripsi. Rasanya puyeng deluan tiap kali baru berniat kencan dengannya. Harus tahan tebalin muka meneror dospem yang luar biasa ajaib cueknya. Aku bisa curhat panjang x lebar x tinggi mengenai ini tapi efeknya aku bakalan mual bahas topik sensitif ini.

Begitulah gerak kita yang kini begitu terbatas, tidak bebas tapi yang ada semakin dihimpit drama-drama kehidupan yang tanpa excuse. Mendokrin pikiran sendiri untuk terus positive thinking rasanya sudah sesulit itu sekarang ini. Meskipun tercekik terselip hal kecil yang luput dari kita untuk mengucapkan puji syukur pada Tuhan. Thanks God, I am healthy and still alive today.

Ok, finally #staysafe #stayhealthy #stayhome!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *