Natizen ganas
Monologue

Bukti Ganasnya Netizen Indonesia

Geram banget saat nemuin Netizen 62 yang jarinya gerak lebih cepat nyinyir di komen ketimbang otangnya berpikir. Komen-komen yang kita baca di sosmed sering kali nggak ‘berisi’, I mean nggak pakai akal nulisnya, asal bacot. Ada begitu banyak netizen sok tahu yang bisa beneran langsung ketahuan cerdasnya seketika saat kita membaca isi komentarnya.

Netizen yang kelewat bebas sesuka hatinya meninggalkan komentar keji, cyberbullying seperti menghakimi atau menyudutkan orang lain, berbacot ria, saling mencela, berdebat, curhat dan ngoceh nggak keruan di luar kontex pun ada. Memang beragam bentukan netizen 62 yang terkenal barbar berkomentar pedas.

Kelakuan netizen yang tidak bisa terkontrol ini terulang kembali dengan membanjiri kolom komentar akun medsos politisi, pejabat dan instansi Singapura buntut dari penolakan UAS masuk ke Singapura. Bagaimana bisa aksi siber teror begini diklaim sebagai bentuk dukungan kepada UAS? Kacaunya, tidak cukup puas melakukan serangan siber, ternyata para natijen pembela UAS pun terjun langsung meluapkan kecaman di Kantor Kedubes Singapura di Kuningan, Jakarta Selatan (20/5/2022).

Bagiku ini aneh, kenapa mereka ikutan berang dan malah memaksa mengintervensi kebijakan negara tetangga, dan konyolnya hingga mengecam hubungan diplomatik kedua negara lantaran seorang UAS. Gini deh, jika kita sebagai tuan rumah, kedatangan orang yang tidak kita kehendaki untuk bertamu, terus apa yang kamu lakukan? Pasti melarangnya masuk rumah, bukan?

Well, jika bagi pemerintah Singapura ceramah UAS tidak sealiran dengan negara mereka, ya jelas itu hak si tuan rumah. Lantas, kenapa kelakuan para netizen ini benar-benar ‘menggemaskan’, menghujat dan menyalahkan kemudian memaksakan kehendak dan menuntut maaf dari negara tetangga. Kenapa mereka seolah bergerak dilandasi kewajiban yang sebenarnya bukanlah porsi mereka?

Bingung juga kenapa cukup banyak netizen yang berdebat seru membuatnya jadi masalah. Kayak nggak cukup aja masalah hidup mereka, malah ditambah ribut-ribut untuk hal yang sesungguhnya bukan urusan mereka. Mengapa banyak netizen 62 yang begitu brutal mengisi kolom komentar dengan tulisan bernada negatif dan menyakitkan. Apa nggak bisa menyampaikan atau nulis komennya dengan diksi yang lebih elegan tanpa caci makian dan celaan?

Padahal sudah ada UU ITE, tapi ini tidak lantas menciutkan para natijen menjadi buas melampiaskannya di kolom komentar dengan fake account alias akun palsu biar aman. Jika berujung masalah, tinggal hapus akunnya, kelar. Belum lagi netizen selalu berdalih tentang kebebasan menyuarakan pendapat dan berlindung dengan tameng kebebasan berekspresi atas komentar miring yang ditinggalkan.

Oke, literasi digital itu perlu banget untuk kita lebih bijak memanfaatkan platform sosmed dan mengkonsumsi informasi yang seliweran bebas di internet. Tapi, mohonlah jangan jadi netizen sok tahu yang bebal dikritik tapi peka banget dengan hal-hal yang tidak sepaham dan tidak disukai, baperan, langsung main serang, dan berkoar-koar menasehati orang yang nggak kamu kenal. Jangan hanya jadi netizen yang pandai menghujat.

Mungkin satu-satunya solusi penertiban untuk tindakan berkelanjutan pengembangan sosial media adalah menjadi tidak sepenuhnya gratis. Mungkin perlu dibuat untuk setiap aksi di platform sosmed menjadi tidak bebas diakses untuk membungkam kebrutalan netizen. Bisa jadi internet yang harusnya bebas diakses siapa saja menjadi terbatas untuk diakses leluasa nantinya. Kurasa dengan membatasi ruang gerak jari mereka dapat jadi solusi efektif.

Baiklah, segini dulu tulisan kegemasanku pada kelakuan netizen 62. Aku bakal bahas asumsi rekaan andai komen berbayar di tulisan berikutnya deh. Kuharap pembaca blogku adalah netizen yang tidak cerewet di dunia maya ya. Menjadi kritis itu bagus bila dibarengi etika bertutur yang pantas.

One Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *