love and obsession
Monologue

Cinta atau Obsesi?

Hari ini aku bangun pagi, menyisir rambut, mandi yang bersih dan memasang senyum ceria. Bukan untuk berangkat upacara 17an, melainkan untuk bahas mengenai cinta (lagi) pagi ini. Sebelumnya kuucapkan dirgahayu Indonesia-ku yang ke 75 tahun! Semoga cinta kita pada negeri ini tidak pernah luntur.

Baiklah, kayaknya kurang puas aku cuap-cuap tentang makna cinta sebelumnya, jadi akan kulanjutkan terpisah nih. Biar terang benderang, kita tidak melulu mengatasnamakan cinta untuk sebuah alibi pembenaran untuk perkara yang sudah jelas salah.

Cinta yang sangat besar dan tak terbantahkan pada suatu objek cinta dan mejadikannya pusat rotasi selama ribuan jam lamanya dalam hidup tanpa ada fokus pikiran lainnya bisa disimpulkan itu adalah obsesi.

Benar, cinta yang nggak murahan itu adalah yang kita rela berkorban untuknya, hanya saja bila kita kehilangan diri sendiri dan tersedot sepenuh ke dalam rotasi itu jelas sekali itu bahkan bukan lagi remahan cinta.

Aku sih emang tidak pernah terlibat obsesi cinta. Cuma dengar dari beberapa curhatan kawan mengenai kisah asmara mereka yang menurutku sudah teramat tak wajar. Dan yang namanya kekasih mungkin lebih kuat posisinya dari sekadar kawan sekelas kan, udah deh omongan kami cuma sebatas semilir angin lewat.

Coba deh, kalian nilai dari ketiga kisah kawanku yang masih teringat ini.

Waktu itu aku sedang mengerjakan tugas kelompok di kantin kampus dan ya emang belom kelar diskusinya. Tiba-tiba kawanku dapat pesan tuh dari pacarnya minta temenin cari pesanan mama doi. Harusnya dia bisa kan nolak, kasih pengertian gitu kalau lagi ngerjain tugas. Eh malah, kawanku yang minta pengertian kami. Katanya mana mungkin dia nolak. Nanti pacarnya bakal marah besar dan dia nggak mau mereka sampai berantem.

Ada lagi yang lebih kacau. Ini kawan adalah seminggu nggak masuk-masuk pas awal semester baru. Terus aku kepo kan, nanya deh sama teman satu kosan dia kenapa dia bolos terus. Nah, dijawab deh tuh katanya karena belom bayaran. Lah, aku kan jadi herman koq bisa belom padahal dia tuh terbilang sogeh. Penasaranku akhirnya terjawab sewaktu dosen  bidang kemahasiswaan yang masuk. Si bapak beberin tuh katanya ada kawan kelas kalian yang menyelewengkan bayaran kuliah demi beliin kado laptop untuk pacarnya.

Teman dari teman sekosanku baru jadian tuh. Anaknya emang yang tipe pengkoleksi mantan gitu. Barisan para mantannya dah luar biasa mengular. Kali ini dia jadian sama cowok yang agak strict dan menyeramkan juga kurasa. Jadi demi mengetahui masa lalu ceweknya ini sang cowok tuh nyelidiki dari instagram si cewek dengan cara dm satu persatu sobat ceweknya dan pura-pura ngomongin masa lalu. Untungnya cewek ini gercep udah warning para sobatnya duluan.

Hubungan yang ketergantungan dan cendrung posesif hingga sampai ranah mengontrol kehidupan pasangan gitu mana bisa disebut cinta. Hubungan nggak sehat lah jatuhnya.

Bila cinta harusnya bisa saling support kegiatan masing-masing bukan yang mesti terlibat dengannya setiap hari tanpa jeda. Harusnya cinta tidak menuntut sesuatu yang berlebihan bukan malah bersifat merusak. Harusnya cinta itu saling percaya dan lebih mementingkan hubungan ke depannya bukan malah menelisik setiap keraguan ke belakang.

Obsesi itu pasti bersifat defensif dan mengekang, mensabotase juga membatasi gerak untuk kehidupan pribadi. Sedangkan mencintai seseorang artinya kita juga memberikan kebebasan ruang pribadi. Tak melulu melakukan ini itu mesti berdua. Tak melulu pula menguras waktu dan pikiran pada rotasi hubungan semata.

Sayangnya orang yang terobsesi ini biasanya buta pada realita yang padahal nampak jelas untuk banyak orang. Dia tidak menyadari bahwa itu adalah bentuk dari obsesi. Dia selalu mengatasnamakan cinta sebagai dalih pembenaran setiap tindakannya.

Ini menyedihkan melihat kata cinta yang menjadi racun. Dan racun itu mengerogoti mereka perlahan-lahan. Bila tidak cepat tersadar malah buntutnya bisa jadi sangat mengerikan.

Kuharap kita semua tidak bias dalam mengenali sebuah jenis hubungan yang tidak beres dan sekenanya menamai itu cinta. Karena diri kamu itu berharga dan cinta tidak seharusnya menyakiti.

2 Comments

    • Navia Yu

      Emang wujud cinta juga banyak sih. Makanya perlu tau batasan pengorbanan yang masih wajar bila pake nama cinta. Kalo dah mentingin ego doank jelas itu salah, bukan lagi cinta gitu sih.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *