Love, Time and You
Monologue

Cinta, Waktu Dan Manusia

Terilhami dari wejangan neng Agnez Mo dalam video yang judulnya love is verb di instagramnya. Sebuah self reminder bahwa yang harusnya hal yang menjadi paling penting posisinya di hidup kita itu bukanlah ‘things’, melainkan ‘people’. Hal seperti materi, kehormatan ataupun ketenaran tidak akan berharga tanpa ada orang terkasih untuk berbagi itu semua.

Upaya Memaknai Cinta

Enak nih, kita ngebahas tentang cinta dulu yang pertama. Misalnya mendefinisikan sebuah hubungan. Asyiaap, bakal bahas hubungan dong. Kagak sepenuhnya sih, kira-kira mendekatilah.

Kalau dalam video Agnez Mo itu cinta adalah kata kerja. Artinya kalau kita mencintai seseorang, kita harus menunjukan perasaan cinta tersebut dengan tindakan. Beda sama kata sifat dan kata benda yang sifatnya pasif, yang sudah cukup dengan pernyataan saja. Kalau cinta ya mesti ditunjukkan agar orangnya ngerti dan bisa merasakan cinta yang mau kita sampaikan.

Menjelaskan secara tepat apa itu cinta dan kaitannya dalam hidup kita bukan perkara yang singkat. Butuh melalui berbagai pengalaman getir untuk setiap kita mengartikan tentang cinta. Aku yakin kita punya definisi sendiri untuk sebuah wujud cinta. Misalnya cinta adalah komitmen untuk pasangan yang sudah mengikat janji pernikahan.

Makna cinta untuk bocah tengik kayak aku jelas belom sampai ke sana. Penekananku dalam memaknai cinta bisa dibilang masih rapuh, dapat dengan mudah berubah kapan saja. Boleh jadi tahun depan aku membaca tulisan ini, arti cinta untukku sudah tak sama.

Bagiku saat ini, cinta bisa berarti dua hal yang linier, yakni pengertian dan pengorbanan. Love is about mutual understanding. Kisah cinta selalu berbicara tentang aku dan kamu. Bisa sih cinta itu jalan searah bila yang mencintai itu punya hati seluas samudera dan sedalam palung lautan siap menerima kesedihan. Walah, bohong kali bila ada orang yang mencintai dan tidak mengharapkan timbal balik dikasihi. Semestinya perasaan dicintai dan mencintai ada dalam takaran seimbang.

Yang kupelajari dari hubungan-hubungan terdahulu adalah mengenai kepekaan. Bila benar itu cinta mestinya ujung saraf kepekaan kita akan lebih sensitif mengerti dia. Memahami sinyal-sinyal tak kasat mata yang perlahan kita serap untuk lebih memberikan perhatian.

Suatu konsep kepedulian yang melekat tanpa ada unsur keterpaksaan. Cinta membuka pengertian akan perbedaan satu sama lain. Pengertian yang memunculkan sebuah kenyamanan mendalam ketika bersamanya.

Cinta adalah pengorbanan. Iya, sama seperti pemahaman Agnez Mo, buatku cinta juga berarti kerelaan. Kerelaan yang menggerakkan kita mencoba melakukan sesuatu agar dia senang. Kerelaan untuk mencintai dan dicintai. Kerelaan untuk mampu berkompromi dari suatu pengertian mensiasati perbedaan tadi. Sebuah pembuktian nyata bila benar-benar mencintai. Pengorbanan yang masih dalam batas kewajaran dan tidak berlebihan.

Waktu yang Abadi

Ngomongin arti cinta aja udah panjang bener. Moga aja nggak cepek buat nerusin baca bahasan dari waktu dan manusia ya.

Oke, selanjutnya adalah waktu. Hal yang begitu esensial untuk manusia karena kita hidup beriringan dengan berjalannya waktu. Tidak jarang pula malah banyak yang berupaya berlomba dengan waktu yang terus bergerak. Namun, sejatinya siapa bisa melawan waktu?

Memang waktu bergulir tiada henti. Waktu terus bergerak maju menggilas apapun tanpa kenal ampun. Waktu adalah hal yang tidak pernah bisa dikembalikan. Hari silih berganti, waktu berlalu sekejap mata. Semesta menjadi tak sama lagi. Kita hidup untuk masa kini, untuk hari ini. Jadi, penting sekali menikmati setiap detik menitnya.

Waktu itu harusnya tentang proses kita belajar memaknai kehidupan. Semakin bertambahnya usia maka cara pandang kita akan suatu hal akan jelas berbeda. Pembawaan kita menyikapi dunia sosial juga turut terpengaruh.

Waktu yang membawa bahagia. Waktu yang bikin sengsara. Waktu juga yang mengobati luka. Waktu yang selalu mengajarkan kita pemahaman baru. Semua pemahaman yang diikat dari pengalaman kita sendiri.

Saat di usia dewasa, kita akan mengerti bahwa pengalaman masa lampau membentuk kita sekarang ini. Kemudian kita merangkai pengalaman itu dalam bentuk ingatan. Sebuah nilai dari setiap ingatan itu lah yang berharga. Nilai yang kita amalkan untuk melangkah ke depan menjadi manusia yang lebih baik.

Manusia dan Perubahan

Bertambahnya usia juga mengajarkanku lebih menghargai sebuah hubungan. Bukan hanya keluarga, orang-orang di sekitar kita memiliki dampak yang sangat besar untuk hidup kita. Seperti aku merasakan bahwa hubungan pertemanan di usia dewasa sungguhlah berbeda dengan masa sekolah dan bangku kuliah.

Ada mereka yang akan support kita untuk tetap maju agar menggapai sukses. Tetapi ada juga yang membuat kita stuck dan berasa tak kuasa berbuat apa-apa. Komentar dan kepedulian yang ditujukan padaku dari orang terdekat itu sangatlah penting efeknya.

Dimulai dari orang-orang yang berada disekitarku yang memilih untuk tetap berada disampingku bagaimanapun keadaannya, baik dalam keadaan suka dan duka. Buatku, sangatlah penting untuk memiliki orang-orang yang penuh cinta dan kasih di sekitar kita.

Aku dan mereka tidak mesti bertemu setiap hari, tetapi di saat aku membutuhkan pertolongan aku tahu memiliki orang-orang terbaik yang dengan senang hati sebisa mereka akan membantuku. Aku bersyukur dikelilingi mereka yang memberikan perhatinnya padaku.

Menghabiskan waktu bersama dengan orang-orang yang telah memilih kita untuk bersama mereka tanpa kita minta dan paksa adalah suatu kebahagiaan terbesar. Tak ternilai dengan mata uang manapun arti pentingnya keberadaan mereka untuk hidup kita.

Begitu juga untuk orang-orang yang memilih untuk pergi, aku berterima kasih pada mereka yang sempat memberi warna di hidupku, untuk mengajarkan suatu pelajaran dari kepergiannya.

Benang merah dari ketiganya adalah bahwa hakikat manusia sebagai makhluk sosial yang bergantung satu sama lain masihlah sama tak berubah. Hanya saja, waktu punya rahasianya sendiri menyeleksi keterkaitan dan kedekatan orang-orang yang memilih untuk terus berada di sisi kita. Tinggal kita yang mesti menunjukkan arti pentingnya keberadaan mereka dengan bentuk cinta yang nyata.

Two girls with big dreams.

5 Comments

  • A Dreamer

    Hola mba Navia Yu, udah pernah main kesini tapi nggak ninggalin jejak, sekarang aku putusin buat komen haha. Topiknya menarik mba, ngomongin cinta, waktu, dan manusia.

    Mulai dari cinta, to be honest, aku nggak bisa definisiin apa itu cinta haha, masih nggak tahu sampai sekarang, namun jika boleh meminjam kata-katanya Dee Lestari aku setuju sama dia yang bilang kalau cinta itu membelenggu, menuntun kita pada lorong panjang yang disebut pengorbanan.

    Ngomongin waktu, aku suka bicarain waktu, cause it’s so unique, kita nggak pernah bisa nebak waktu, yaa kalau ngomongin waktu bagi aku sama dengan ngomongin takdir, suka nggak suka, mau nggak mau dia bakalan tetap ada, dia bakalan tetap datang.

    Terakhir manusia, sejauh ini manusia adalah mahkluk paling aneh sejagad, jangankan memahami manusia lain, memahami diri sendiri saja aku masih kesulitan, hahhaa.

    • Occi

      Ah, senang deh dapet komen dari mb sovia. Pa kabar mb? Maaf lama juga nggak main-main ke blog mb. hehehe
      Ih, itu quotes dee lestari dari buku yang mana ya mb? Keknya pernah baca deh. Bener sih ngomongin cinta nggak bakal basi deh keknya. Yang paling kelihatan sih wujud cinta emang dari pengorbanan yang dilakukan kan ya mb.
      Bener juga dekat banget ternyata deh korelasi antara waktu dan takdir. Makasih mb sovia bikin aku ngeh. hahaha
      Setuju nih, manusia beneran aneh ya terlalu banyak tipenya kalo mau dihadapin dengan perlakuan beda semua. Jadi keingetan test MBTI deh yang ngotakin kepribadian manusia. Kalau tiap tipe kita mesti tau gimana cara interaksi dan komunikasi yang nyambung mah bisa amsyong deh.
      Hahaha occi itu sebutan untuk kami mb. Secara ini blog berdua jadi kalau tulisan berdua pakai occi. Duh, lupa kenapa ngasal kasih nama occi deh, harusnya naviicha aja kan ya. LOL!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *