Youth

Cuci Nilai vs Garap Skripsi

Hampir sebulan sudah kita melalui tahun baru kan, ya? Kalau tahun baru pun artinya juga menjadi semester baru buat para pelajar. Ini akan menjadi semester terakhirku sebagai mahasiswa. Inginnya buruan tamat saja, biar berkurang satu beban yang kupikul. Melupakan tanggungan biaya kuliah yang gak murah setiap semester dan bisa bebas untuk mulai bertualang menjelajahi belahan bumi lain.

Throwback ke pertengahan tahun 2019. Aku bakalan curhat mengenai dilema yang kualami saat akan memasuki semester ganjil. Enam bulan lalu, ketika itu aku dihadapkan dua pilihan. Pertama, aku dapat mencicil skripsi tapi pasrah merelakan nilai Cantik yang berseliweran bebas dalam transkrip  atau pilihan ke dua, aku melepaskan keinginan menghajar skripsi untuk fokus cuci bersih nilai.

Pertimbangan

Opsi pertama, aku bisa menyelesaikan mata kuliah wajib lainnya dan menggangsur tahap awal dari alur skripsi yang melelahkan dengan resiko terpaksa menelan perolehan IPK yang gak punya nilai jual, cuma pas makan banget.  Ditambah toping nilai yang sangat akur, antara si Cantik dan Duda tampan yang tampil begitu mencolok. Sebenarnya syarat menambahkan skripsi dalam kartu rencana studi di kampusku hanya boleh mengambil maksimal 15 SKS sudah termasuk skripsi. Jadi, bila aku memaksakan diri ambil opsi ini boleh jadi keuntunganku hanya satu yakni bisa wisuda lebih cepat. Kekurangannya adalah aku akan jadi single fighter untuk itu karena sohibku juga belum ada yang mau ambil skripsi dan aku akan kehilangan kesempatan memoles transkrip biar nampak lebih layak.

Sedangkan opsi dua, aku bisa memaksimalkan jatah 24 SKS dengan memilih seluruh mata kuliah yang kurasa perlu diulang, totalnya ada empat kelas yang dibuka pada semester ganjil ditambah dengan tiga kelas yang tersisa. Keuntungannya pun satu yaitu transkripku akan lebih bersih. Lalu, minusnya kurasa cukup banyak; wisuda tepat waktu, bertemu lagi dengan dosen “itu” dan siap untuk sekelas dengan junior yang artinya mau gak mau harus berbaur, beradaptasi dengan adik tingkat. Kali ini aku mesti berkompromi dengan mereka karena kesulitan yang bakal kutemui itu pas kerja kelompok karena biasanya junior malas satu tim dengan senior, seperti aku dulu.

Keputusan

Setelah meminta wejangan ke sana ke mari, keputusanku akhirnya berlabuh pada opsi dua. Prinsipnya begini, biarlah merana sebentar dari pada sakit di kemudian hari. Bayangkan saja, lulusan berpredikat dengan pujian pun tidak sedikit yang masih menganggur, apa lagi bila memaksakan tamat dengan predikat sangat memuaskan tapi banyak cacatnya. Perusahaan mana yang mau ngelirik coba? Betul sekali, peluang berkarier malah jadi lebih sempit dengan IPK pas-pasan.

Mencuci mata kuliah artinya aku bakal ngulang lagi kelas itu dari awal, dari 0 selama satu semester. Sesungguhnya, bila ditanya, aku tuh enggan banget mesti menahan dengerin ceramah dosen yang gak asik ditambah lagi mata kuliah yang membosankan. Namun, nyatanya semua kelas yang akan kuulang adalah mata kuliah wajib dengan rata-rata bobotnya itu tiga SKS, sehingga efeknya lumayan dalem terhadap IPK.

Oke, mari sedikit mengevaluasi performaku di kelas. Dari kaca mataku, semua terlihat oke. Aku selalu ngumpulin tugas-tugas, aku tidak pernah melebihi batas alfa, dan aku juga menjawab semua pertanyaan waktu ujian.  Kemungkinan karena aku tidak menikmati setiap sesi kelas itu jadi kurang serius mengikutinya, setengah hati gitu jatuhnya. Ya, salah satu konsekuensi hidup di dua dunia. Fokus pikiran pun ikut terbagi dua.

Baiklah, ini menjadi kesempatan kedua buatku untu mengkoreksi performaku selama di kelas. Aku harus all out. Tidak serampangan asal ngumpulin tugas dan memberikan jawaban yang relevan bukan demi asal terisi saja tapi tidak menjamin memberikan jawaban itu benar dan sesuai kemauan dosen. Aku bertekat memberikan usaha terbaik agar nilaiku naik pangkat.

Enam bulan bergulir terlalu cepat.

Benar saja, bulan lalu aku menerima kartu hasil studi dan voila, aku merasa cukup terharu mendapati usahaku berbanding lurus dengan hasilnya. Tidak sia-sia aku capek-capek rela ngulang keempat mata kuliah itu. Dapat kukatakan hasilnya agak gemilang, sukses menyentil naik kedudukan IPK.

Kejutan

Bangga tapi tidak puas! Aku lengah, pemirsa. Si Cantik masih bertengger di sana. Aku kayak tawanan yang dilepaskan tapi belum terbebas dari belenggu. Ngerti gak? Merasa tidak terima dan geregetan sendiri karena bertanya-tanya apa dan di mana letak salah bin dosaku sehingga aku diganjar sebuah nilai Cantik lagi? Kali ini duduk perkaranya sudah berbeda. Ini tuh sekadar mata kuliah pilihan yang rasanya tidak pantas bila dosen ini pelit nilai dan sekenanya membagikan nilai.

Aku berang dan tidak bisa menahan diri untuk tidak bertanya langsung pada dosen bersangkutan. Aku tidak segan melayangkan pesan via whatsapp kepada ibu dosen. Kutuliskan sanggahan atas nilai tersebut. Untunglah pesanku tidak dimentahin. Si ibu membalas bahwa nilai itu bukan dia yang entri melainkan itu olahan dari si dosen sakti. Beliau menambahkan bahwa tugasnya hanya menyerahkan nilai ujian akhir semester dan dia juga sudah memberikan nilai pada batas paling atas. Masih belum terima, aku nekad menyanggah dan menanyakan perihal yang sama pada si dosen sakti.

*Krik-krik* Yiahh, ciyan amat!

Udahan senyum-senyumnya? Puas? Sekarang paham kan, mengapa kusebut begitu? Yasudah lah. Toh, aku gak berniat juga buat ngulang kelasnya walaupun kesempatan itu terbuka lebar. Aku telah bulat memilih, menjalani semester terakhir di kampus sebagai pejuang skripsi. Masa cuci nilai telah usai. Sekarang, aku siap mencurahkan totalitasku hanya demi merampungkan skripsi sebelum pertengahan tahun ini.

Penggarapan skripsi dimulai!

4 Comments

  • Just Awl

    Lah kita sama-sama pejuang skripsi, tapi bedanya aku belum rampungin lg sejak corona muncul ke Indonesia🙃 Mba gimana, sudah selesai? Selesai atau belum semoga mba selalu semangat ya! Do’akan aku biar cepat lulus! Ehehe

    • Navia Yu

      Baru proposal doank nih rampung. Masi menanti sk sempro turun. Penantian ini beneran deh panjang bener.
      Sebenarnya mo ngejar agustus keknya dah pesimis deh. Kalo kamu sampe tahap mana?
      Moga aja ya kita wisuda tahun ini yak. Amiiin…
      Semangat terus Awl! 🙂

      • Just Awl

        Aku sebenernya tinggal ngerjain BAB 3, udah sempro dari dari lama. Tapi karena bulan Maret ada covid-19, metode dan lain-lain harus berubah disesuaikan sama kondisi sekarang. Jadilah beberapa bulan itu saya down banget mba😭 orang lagi semangat-semangatnya nyusun skripsi, rencana target ngejar sidang bulan Juni tapi apa daya:( Ini jg kayaknya alamat ganti judul deh, saking udah stuck gatau harus gimana kalau diubah metodenya🙄

        Aamiin, semoga kita tetep bisa lulus tahun ini!💪🏻

        • Navia Yu

          Fakultasku agak beda, bab 3 juga masuk dalam proposal. Huhuhu makanya baru sempro.
          Samaan ih kita. Aku juga maret ke april itu beneran down parah sih nangani skripsi ini.
          Bimbingan sulit minta ampun. Dospem pada cuek kalo di chat.
          Duh, jadi stuck dua bulan itu gak ada progress. Berulang kali aku loh ganti judul (πーπ).
          Kondisi gini ujian banget sih emang buat kita.
          Tetap semangat ya! 😉 Perjuangan kita insyallah terbayar manis di ujung. 😗😍

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *