Monologue

Dihempas Kejamnya Realita

Masih Pantaskah Aku Berharap?

Kita pasti akan selalu berharap pada sesuatu. Baik itu dulu, sekarang, maupun nanti. Kita terus saja menggantungkan harapan. Bahkan, sejak kecil kita punya rentetan keinginan yang menyeruak untuk dicapai. Nilai bagus, juara kelas, sekolah ternama, universitas bergengsi, wisuda cumlaude, kerjaan asik, dan pasangan romantis; kurang lebih seperti itulah metamorfosa yang kita idamkan. Berangkat dari keinginan ini lalu kita mulai menyusun target-target kecil jangka pendek. Sayangnya, dalam dunia yang tampaknya ‘gemerlap” ini, ada sisi ‘gelapnya’ yang memaksa kita untuk berkompromi dengan target-target tadi.

Iya. Terkadang harapan juga bisa membuatmu terpuruk. Terjun bebas dari harapan yang telah digantungkan terlalu tinggi dan akhirnya tak sesuai ekspektasi, ternyata realita punya kehendak lain. Pahit, getir, kecewa dan menorehkan luka, kemudian menyalahkan diri sendiri. Benar, dunia memang kejam.

Illustration: wowvision.net

Aku pernah mengalaminya. Keterpurukan itu. Teman-teman dan juga keluarga meremehkanku. Marah, putus asa dan benci. Masa itu banyak hal yang kurang menyenangkan terjadi dalam hidupku. Selanjutnya, aku hanya akan mengurung diri di dalam kamar, bahkan sempat terpikir kalau kumampu akan kugali lubang untuk persembunyian yang tenang. Malu sekali ketahuan orang lain. Merenungkan apa yang salah. Boleh jadi, kemampuanku tidak mumpuni atau peluangku yang sempit atau mungkin hanya aku yang terlalu optimis memandangnya.

Tidak. Harapan tidaklah sama dengan optimis. Aku tahu benar itu. Harapan bersifat aktif, artinya yakin akan masa depan yang lebih baik dan memiliki keberdayaan untuk mewujudkan itu. Sedangkan optimis bersifat pasif karena cuma ada keyakinan di dalamnya tanpa ada kuasa untuk mewujudkannya. Jauh pula dari angan-angan  yang justru tak punya kedua unsur itu.

Illustration: pinterest.com

Saat terhempas tersandung kenyataan yang ada, aku seperti didorong untuk mengalah, untuk berdamai mengikhlaskan dan menguburkan itu dalam-dalam bersama gerusan sang waktu. Kubiarkan waktu bergulir sekenanya. Kondisiku pun masih belum pulih. Rasa percaya diriku seakan sirna saat itu. Aku berada di keramaian tapi begitu merasa kesepian. Hanya ada diriku yang bergulat dalam pikiranku yang kacau dan hati yang goyah. Tapi, sudut tersempit hatiku tetap berupaya menolak dorongan kuat tersebut. Gak peduli gimana kondisiku, harapanku masih ada, masih di tempatnya, takkan hilang.

Kenapa Kita Harus Punya Harapan?

  • Karena Tuhan yang kita sembah adalah sumber pengharapan. Percaya bahwa rencana-Nya selalu lebih baik dari rencana setiap manusia. Meyakinkan diri bahwa semua akan baik-baik saja.
  • Harapan membuat hidup kita terasa lebih bermakna. Harapan memberi kita semangat menjalani hari dan melewati setiap tantangan yang mucul. Tanpa adanya harapan kita akan hidup seperti robot yang disetel otomatis menjalani segala rutinitas. Hidup akan terasa hampa.
  • Harapan memberikan perspektif baru akan hal-hal buruk. Harapan dapat membantu kita mengubah sudut pandang memaknai kegagalan, melihatnya sebagai momentum titik balik untuk tumbuh dan memperbaiki diri untuk terus berjuang melewati batas diri sendiri.
  • Harapan memiliki efek menyembuhkan karena harapan membawa dampak positif pada kondisi psikologis seseorang. Kemudian, kondisi psikologis berpengaruh sangat besar pada keadaan fisik seseorang. Jika salah satunya sakit maka yang lain akan mengalami disfungsi.

Always Have Hope

Aku mau tekankan intinya jangan pernah berhenti berharap! Aku menulis ini terilhami sebuah Drama China yang judulnya My Girlfriend. Ada di episode ke-15, saat Diang Xiaorou memaparkan konsep dari desainya yang diperlombakan seperti ini;

“Bahkan kita juga akan ditampar oleh nasib dan jatuh ke dalam lumpur. Melihat usaha kita yang pelan-pelan berubah menjadi khayalan belaka. Bahkan kita sendiri akan mempertanyakan apakah semua ini harus dilanjutkan? Kemudian aku tahu, dalam jalan yang susah ini ada banyak hal di mana kita boleh menyerah. Tapi, ada satu hal yang kita tidak boleh menyerah, yaitu harapan. Sekalipun hanya ada sedikit harapan, jauh seperti bintang, redup seperti korek api, itu akan menjadi cahaya kita untuk maju dalam kegelapan. Aku percaya, sekalipun harapannya seperti suhu satu batang korek api, seperti cahaya satu meteor. Aku masih ingin percaya, impian yang tidak nyata yang diejek orang lain, suatu hari akan menjadi kenyataan.”

Paparannya jelas sekali menekankan kita untuk terus mimiliki mimpi yang diperjuangkan dalam hidup ini. Layaknya pendakian yang dipenuhi tantangan dan rintangan, hidup pun demikian, penuh lika-liku yang harus siap kita hadapi dengan segala pengorbanan yang diperlukan agar mencapai tujuan akhir. Perjuangan itu tentang menaklukkan diri sendiri, jika memilih menyerah dan tidak mau berupaya untuk tiba di puncak maka mimpi berakhir jadi angan belaka.

One Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *