fase titik terendahku
Monologue

Fase Titik Terendah

Jiwa yang merana hanya ingin beristirahat damai

Menyingkirkan malu yang menggelayut manja

Menutupi luka pilu yang berkerak nanah

Menatap kelam suram yang teramat indah

Jiwa yang terbelah dan hancur terhempas

Ingin ikut berdansa bersama dewa kematian

Memainkan peran dewi dalam drama pemakaman

Sebuah pembebasan jiwa pada alam yang kekal

Jiwa tak henti meyaksikannya bersama memori

Tidak biasanya aku membuka tulisan dengan sebuah puisi. Sebenarnya hal yang sangat bisa mendorongku menulis puisi adalah kesedihan yang teramat suram. Biar kalian mengerti, tulisan ini beraura negatif.

Ada berbagai skenario yang terbesit di otakku bagaimana cara ternyaman mengakhiri hidup. Bunuh diri seperti cara pintas menghilang dari derita durjana. Dari pahitnya kehidupan yang menghujam sadis.

Saat aku tidak lagi bisa menemukan pelangi seusai hujan, mungkin aku hanya ingin melihat gelap yang tenang. Ketika aku sudah lelah di posisi tersudut, aku mempertanyakan apa diriku yang tidak paham dunia atau dunia yang tidak berpihak padaku.

Rasanya aku terhempas jauh dari diriku sendiri dan terpisah dari duniaku yang dulu. Mungkin saja dibunuh perlahan oleh keegoisan yang mengakar. Aku merasa sendiri dan tidak tertolong. Menangis dalam senyap, tertawa dalam gempita.

Yang jelas aku hanya tidak ingin ada di sini, tapi sesungguhnya aku masih takut mati. Aku merasa seperti benalu yang tidak pantas menapaki bumi menyebarkan nestapa pada orang terdekatku. Namun di sisi lain aku pun tak siap bertemu pangeran kegelapan.

Telah kubaca metode untuk menyelamatkan diriku dari titik terendah dan hasilnya nihil. Semua pertolongan sirna. Aku tenggelam. Aku tersesat. Aku berduka atas diriku. Aku merasakan keberadaan tubuh ini namun aku bisa melihat jiwaku tersenyum keji di sudut ruang gelap.

Sebuah kehampaan yang nelangsa mengepungku dan tidak membiarkanku mendapatkan jawaban untuk apa aku terus bernapas. Tidak ada tujuan yang jelas yang membuatku ingin bertahan menghirup udara bumi.

Apa aku cuma terlalu mendramatisir keadaanku yang tiap hari tertekan oleh bayangan mimpi buruk penebusan dosa?

Setiap detik aku gelisah pada serangkaian teror yang lahir dari benakku akan ketidakpastian yang akan kuhadapi kelak, atau mungkin segera. Bayangan semu yang menghantuiku setiapkali aku membuka mata. Peristiwa yang akan begitu meyesakkan dada dan akan menyumpahiku telah mengambil keputusan yang salah.

Ntahlah, aku bingung mana alasan yang paling mendasari keinginan picik itu. Yang kutahu cepat atau lambat sebuah badai besar akan menghantamku mengenaskan dan aku pun diselimuti kengerian bila nanti tidak ada yang tersisa.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *