Monologue

Habis Liburan Lanjut Karantina

Gini ceritanya, aku dan kawan tuh dikatain agak ‘gila’ karena nekat tetap berangkat liburan sesuai rancana yang udah di siapkan lama. Gak jauh koq mainnya, cuma negara tetangga aja (Singapore dan KL). Ini dia itinerary di tiap negaranya, dua hari di Singapore dan dua hari juga di KL.

Well, aku nyimak juga gimana dunia dibuat jungkir balik karena begitu pesatnya penyebaran pandemic ini. Tidak lama lagi virus corona bakal masuk bulan keempat, dan hidup kian sulit melawan corona dengan nyepi di rumah sambil melihat pergerakan harian dari grafik angka pasien terinfeksi yang terus meningkat drastis.

Dampaknya pada kondisi ekonomi yang dibuat carut marut kerena banyak bisnis yang merugi lantaran harus tutup, tempat pendidikan yang sekarang juga sepi karena libur terus diperpanjang, kantor yang karyawannya mesti WFH. Aku pun mengamati perkembangan beritanya setiap hari. Literally, like for every day. Seriously!

Ini bukan keputusan yang diambil tanpa pikir panjang. Kami pun sempat dilemma dan jadi maju mundur gitu antara berangkat dan ditunda saja. Kami juga tanyain banyak orang-orang lokal tentang perkembangan situasi dan kondisi di sana, apa kah aman untuk berkunjung. Kemudian dengan beberapa pertimbangan lainnya, seperti ketika mendekati jadwal liburan kondisi masih kondusif dengan airport yang masih beroperasi normal dan belum ada isu lockdown.

Dan lagi, kami berangkat malam pada tanggal 6 Maret dan kasus terkonfirmasi di Indonesia saat itu masih empat orang, sedangkan untuk kedua Negara tujuan tidak ada catatan korban meninggal. Ditambah, ketika itu belum ada perintah karantina resmi dari pemerintah sendiri.

Kami kembali dan masuk Indonesia melewati imigrasi dengan prosedur normal yang berlaku dengan melewati pemeriksaan kesehatan bandara. Sampai di rumah juga langsung kaget dengan angka pasien positif terinfeksi di negara ini sudah 34 orang dan 1 orang meninggal dunia pada tanggal 11 Maret 2020.

Artinya Statusku ODP

Aku kembali bekerja esoknya seperti biasa. Niatnya memang tidak ingin memberi tahu siapa pun kemana aku berpelesir menggunakan jatah cutiku. Bukan untuk menghindari karantina, tapi tidak ingin bikin kegaduhan dan heboh seisi kantor. Cuma aku pun tak kuasa berbohong saat ditanya kawan satu tim.

Adalah sekitar semingguan aku masuk kerja dan situasi masih adem. Nah, hari Rabu tanggal 18 Maret 2020 aku sempat masuk kantor hingga jam 10:00 sebelum disuruh pulang untuk karantina mandiri di rumah selama 14 hari. Sore harinya aku juga menerima kunjungan dari beberapa orang kantor yang memastikan kondisiku dan menginstruksikan untuk langsung memeriksakan kesehatan ke RSUP Dr. Mohammad Hoesin Palembang.

Keesokan harinya aku melaksanakan pemeriksaan. Memasuki rumah sakit juga melewati alat pemindai suhu lalu petugas menanyakan gejala dan aku menggeleng lalu diarahkan ke ruang transit A. Kondisi di situ kelihatan tidak ramai jadi aku cuma sebentar saja menunggu nomor antrianku dipanggil. Aku berjumpa dan berbincang singkat dengan dokter yang mananyai riwayat perjalanan dan terkait gejala-gejala yang timbul lalu diperiksa denyut nadi, jantung serta tekanan darah yang semuanya normal.

Hanya lima menit saja aku konsultasi dengan dokter karena tidak adanya gejala aku tidak dianjurkan untuk pemeriksaan lanjutan dan cukup menunggu surat pernyataan dalam keadaan sehat dan dianjurkan berkunjung lagi setelah masa karantina usai yakni tanggal 25 Maret 2020 bila ada gejala yang timbul kemudian bayar deh ke kasir. Selesai agenda hari itu.

Ketika Kunjungan ke Dokter

Pada hari ke-13 aku merasa harus segera periksa lagi karena sejak kemarin timbul gejala flu, diantaranya tenggorokan sakit, batuk dan pilek. Kali ini aku benar-benar cemas dan was-was banget dengan hasilnya. Khawatir dengan pemikiran kemungkinan aku terinfeksi. Dengan membulatkan tekat dan akhirnya memberanikan diri untuk datang lagi ke rumah sakit yang sama.

Aku tiba di sana sekitar pukul 10:30 dan sampai pintu masuk petugas mengkur suhu dan menanyakan gejala lebih dulu. Karena aku punya gejala maka aku dimasukkan kategori B dan diarahkan ke ruang transit yang udah dipenuhi pasien ODP yang rata-rata baru kembali dari Jakarta. Aku tahu kali ini aku harus sabar menunggu. Sejam berlalu tapi kemudian sudah tiba jam makan siang yang membuat jeda sejam lagi untuk ishoma. Karena aku yang harus periksa darah jadi mesti tahan gak makan coba maka cuma bisa neguk minum aja banyak-banyak.

Satu setengah jam kemudian aku baru kebagian diperiksa. Hal-hal yang ditanyakan sama seperti sebelumnya. Yang berbeda adalah dokter yang memeriksa kali ini adalah spesialis penyakit dalam jadi ia lebih lama memeriksa dengan stetoskopnya. Dokter bilang semua dirasa normal namun biar lebih pasti dianjurkan untuk tes lanjutan karena waktu aku periksa ini tuh belum ada alat rapid tes jadi tesnya berupa lab darah dan rotgen paru-paru.

Sekadar info aja kalo tes ini hanya berupa skrining atau penyaringan awal, sementara untuk mendiagnosis seseorang terinveksi covid-19 harus melalui swab lab yaitu pengujian sampel lendir hidung dan tenggorokan yang membutuhkan waktu beberapa jam hingga beberapa hari untuk mengetahui hasilnya. Perbedaan lengkapnya bisa kalian terlusuri sendiri ya.

Singkat cerita, aku mengikuti anjuran dokter. Gelisah banget tau menanti hasilnya. Ditambah perut lapar membuat aku agak pusing. Setelah menunggu hampir tiga jam, barulah pukul 16:15 namaku pun akhinya dipanggil. Dokter tadi membacakan kembali hasil tes kepadaku. Dan taraaa… hasilnya alhamdulillah negatif.  Beneran bersyukur banget dan rasanya aku tuh baru bisa menghembuskan napas lega. Tinggal menunggu sekitar sepuluh menitan untuk surat diketikkan di bagin informasi dan langsung pulang. Yeay! Senang banget akhirnya tanggal 7 April bisa ngantor lagi.

Surat keterangan hasil pemeriksaan akhir

Menurut kaca mataku ini bukan bentuk denial dariku. Tapi kuakui tidak sepantasnya diulangi apa lagi ditiru. Tetap di rumah dan gunakan waktu untuk lebih harmonis dengan keluarga atau pelajari hal baru selama di rumah bisa jadi menyenangkan. Kalian juga mesti patuhi perintah social distancing dan hindari kerumunan bila mendesak banget ke luar rumah. Kita bantu para tenaga medis dengan hanya berdiam di rumah. Just believe the terrifying situation will be over, hopefully real soon. Please, stay safe and stay healthy, fellas!

4 Comments

  • Anton Ardyanto

    Yah, begitulah.

    Perjuangan melawan covid itu sebenarnya pertarungan melawan diri sendiri. Kalau mau tetap sehat, korbankan berbagai keinginan untuk wisata lah, jalan jalan lah, atau apapun.

    Semua dikembalikan ke titik minimum saja, keluar jika memang perlu.

    Saya sendiri mengalami kekhawatiran yang sama, padahal hanya karena pergi ke supermarket tuk belanja saja. Ternyata ada pegawainya yg positif.

    Hasilnya..deg degan karena saat itu bersama keluarga.

    Bahkan setelah selama ini dengan ketat menjalankan protokol saja, bahaya masih mengintai dimanapun..

    😭😭😭

    #staysafe

    • Navia Yu

      Iya loh bener mas Anton. Karena otg itu bertebaran tanpa bisa kita tau emang bikin was-was sampai sekarang. Aku beneran ngendap di rumah aja sejak itu. Ke luar kalau ada perlunya aja. Protokol kesehatan emang udah diterapin dimana-mana cuma kita-kita sekarang lebih banyak yang rilex dengan covid, bahkan banyak yang dengan santuynya nggak pakai masker lagi. 😭😭 Moga di sana nggak gitu yak. #staysafe mas dan keluarga. Salam dari Palembang ^^

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *