no saving
Monologue

Hidup Bergelimang Hutang

Alkisah, tersebutlah seorang anak saudagar yang hidupnya bergelimang harta kekayaan. Dia adalah cicit perempuan pertama di keluarga tersohor itu. Sedari kecil dia hanya mengerti cara meminta. Semua permintaannya akan langsung dipenuhi dengan begitu mudah.

Anak itu terbiasa berpelesir cantik ke ibu kota, menghabiskan jatah uang jajan bulanannya. Dia senang makan di restoran berkelas. Dia bahagia nginap di hotel bertarif mahal. Dan dia bebas membeli apapun yang dia suka. Dia terbiasa hidup berkecukupan.

Suatu hari, alangkah terkejutnya dia ketika pertama kalinya permintaanya tidak dikabulkan. Padahal dia hanya ingin membeli mainan keluaran baru. Mainan versi sebelumnya dirasanya sudah usang. Orangtuanya sudah tegas menolak permintaan itu, maka dia beralih membujuk kakeknya.

Sang kakek awalnya juga sama menolak permintaannya. Namun, tiba-tiba saja si kakek berjanji akan membelikan mainan yang dia mau asalkan dia setuju untuk menetap sementara waktu di vila pulau seberang milik buyutnya. Tanpa menaruh curiga, dia dengan senang hati mengikuti syarat itu.

Gadisnya ini senang sekali bisa menghabiskan waktu bersantai dengan mainan barunya tanpa ada yang bawel. Sebulan berlalu begitu saja dan dia mulai merasa jenuh dengan mainannya. Bosan sekali tidak ada yang bisa diajaknya main. Maka tanpa memberi tahu siapa pun dia kembali pulang.

Sesampainya di rumah, dia merasa agak tidak biasa melihat rumah yang sepi sekali. Biasanya akan selalu ada para pekerja berseliweran. Dan alangkah terkejutnya dia mendapati keadaan isi rumah yang tampak lebih lapang. Banyak barang-barang yang tidak terlihat pada tempatnya. Namun dikiranya mungkin orangtuanya ingin mengganti perabotan baru makanya yang lama disingkirkan dulu.

Dia menghambur ke seluruh ruangan mencari orangtunya. Tapi, tidak didapatinya di mana pun. Telepon mereka juga tidak ada yang menjawab. Dia bergegas ke rumah kakeknya, karena dia yakin akan mendapati kedua orangtuanya di sana.

Dugaannya benar, ternyata mereka sedang ngumpul bersama anak kakek lainnya di halaman belakang mendiskusikan sesuatu. Kemunculannya yang tiba-tiba sontak mengagetkan banyak orang. Sang kakek pun mau tidak mau juga harus mempertimbangkan hal ini segera disampaikan padanya.

Kakek mengajaknya untuk duduk dan memberikan pengertian bahwa keluarganya tidak seperti dulu lagi. Salah satu pamannya dipenjara karena telilit hutang yang sangat besar. Harta benda habis dijual untuk menutup hutang itu dan mengganti kerugian yang ditimbulkan. Intinya kakek harap cucunya itu dapat mengerti untuk tidak terlalu membebani dengan banyak permintaan lagi dan harus belajar hidup hemat.

Singkat cerita, setelah menjadi mahasiswi tahun pertama gadis itu bertemu seorang anak sultan. Mereka menjadi sepasang kekasih yang begitu mesra. Setelah menghabiskan masa sekolah menengah atas dengan sangat berhemat, akhirnya gadis itu bisa hidup seperti sedia kala. Dia sangat dimanja oleh pacarnya, jadi apa pun yang diinginkannya akan langsung dipenuhi.

Seusai menamatkan kuliah, mereka bahkan berencana naik ke pelaminan. Namun malangnya, dua bulan sebelum acara pernikahan, gadis itu mengetahui kelakuan bejat putra sultan. Pria itu ternyata berengsek dan pecundang. Kisah cinta mereka pun karam, begitu pula kehidupan bak seorang putri usai sudah.

Keadaan ekonomi keluarga mereka tak kunjung membaik. Suka nggak suka dia terpaksa harus bekerja. Dia pun beruntung bisa dengan cepat mendapatkan pekerjaan. Saat siang dia bekerja dan ketika malam dia akan keluyuran bersenang-senang.

Entahlah, mungkin saja lantaran hatinya yang terluka dia malah sangat senang memanfaatkan perhatian para lelaki untuk mendapatkan apa yang dia mau. Silih berganti lelaki terus berdatangan menjemputnya setiap malam. Dan dia akan kembali tepat pada tengah malam. Dia tidak sedikit pun pernah menaruh rasa pada para lelaki itu.

Lambat laun, lelaki yang pada akhirnya jera setelah cintanya ditolak perlahan menjauh. Gadis itu kehilangan sumber duitnya. Namun, gaya hidupnya yang hedon itu jelas tidak cukup ditutupi dengan gaji yang tak seberapa. Dia bahkan tidak juga mampu membendung setiap keinginannya. Gimanapun caranya harus didapatkan apa yang diinginkannya.

Terpikirkanlah jalan untuk hutang demi mecukupi gaya hedonnya. Awalnya hanya hutang sedikit dengan rekan kerja. Tapi masih tidak cukup. Lalu dia beralih ke kartu kredit. Karena bingung bagaimana membayar tagihannya dia pun mulai melirik fintech yang menawarkan pinjol (baca: pinjaman online). Dari satu aplikasi ke aplikasi lainnya. Satu hutang ditutup dengan hutang lainnya. Begitu terus bergulir siklusnya.

Bukan  lagi gaya hedon yang tampak, yang ada melarat. Gaji raib begitu saja menutupi hutang yang kian menumpuk. Bahkan untuk makan mau nggak mau harus diganjal dengan mi instan. Sedangkan hutang tidak kunjung lunas, yang ada malah terus bermekaran bunganya.

Untuk lepas dari jeratan hutang itu sulitnya bukan main. Gadis itu kini selalu memikirkan cara untuk berkelit dari lilitan hutang yang setiap kali menagihnya. Begitulah jadinya bila hidup bergelimang hutang.

6 Comments

  • Fanny_dcatqueen

    Akibat anak sedari kecil tidak pernah diajari arti uang dan bagaimana memperolehnya. Sedih gimana harta akhirnya habis hanya utk lifestyle.

    Temen di kantor ada yg mengalami terjebak dengan hutang2 pinjol . Posisi di kantor tinggi, gaji udh 2 digit, tp gaya hidup melebihi income yg didapet. Akhirnya tiap gajian, abis lgs hanya utk cicilan. Sementara si pinjol malah udh sampe taraf meneror hingga ke kantor.. demi mencari temenku yg bayarnya udh susah. HRD turun tangan, sampe temenku akhirnya diskors . Tadinya dia bertanggung jawab memegang keuangan, lgs di turunkan ga punya akses utk keuangan perusahaan lagi. Ditakutin khilaf melakukan fraud ato yg seperti itu demi membayar hutang.

    Makanya aku ga pengen berhutang ato memberi hutang. Sama2 susah :D.

    • Navia Yu

      Setuju mb fanny, emang dari kecil kita tuh perlu disadarin gimana susahnya dapatin hasil dari jerih payah dulu.
      Kejadinnya serupa bener sih, pihak pinjol bakal neror sampai ke kantor itu yang bikin kehilangan muka orang yang ngutang, cuma ya mau diteror gimana juga kalau uang untuk bayarnya nggak tersedia ya itu yang berabe. Tindakan manajemen udah pas banget kalo gitu, ya namanya orang kepepet ya kadang otak kriminalnya bisa mendominasi.
      Hahaha inginnya bisa gitu mb, tegas nggak kasih pinjaman. Tapi akunya tipe yang cepat luluh, nggak tegaan bener, seringnya aku yang bingung gimana nagihinnya.

  • Sabda Awal

    dari cerita diats, adakalanya kondisi ini karena kebiasaan yang dikasih orangtua kepada anaknya. Memang tidak baik seperti itu, sebaliknya ajarkan bagaimana menghargai uang dan apa2 yang kita inginkan tidak bisa semuanya bisa dipenuhi.

    Utang memang punya 2 sisi, di satu sisi jika dimanfaatkan dengan bijak, bisa untuk hal2 produktif. sebaliknya, jika untuk hedon dan konsumtif, siap2 saja, utang tersebut akan menghabisi kita pelan2

    • Navia Yu

      Ah betul banget mas Sabda, menggilai uang untung hal-hal komsumtif benar-benar nggak sehat, menggerogoti secara perlahan.
      Orangtua punya peran sangat penting ya mengajarkan kita menghargai penggunaan uang itu sendiri.

    • Navia Yu

      Salah bener ya kalo terlalu memanjakan anak. Si anak taunya yang instan aja karena terbiasa segalanya udah tersedia. Mana tau soal keringat dan perjuangan memperolehnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *