Ribetnya Migrasi Hosting
Monologue

Huru Hara Migrasi Hosting

Aku mau cerita, eh sebut curhat aja deh, ini tentang keruwetan proses migrasi hosting blog ini. Ceritanya mundur dulu ke dua bulan lalu ya, dari Desember emang hectic banget sih isi kepalaku bercabang ke mana-mana. Mungkin saraf-saraf otakku jadi berdisko ria mikirin alur dan pola ini itu.

Dari urusan kerjaan yang diuber-uber sama closing tahunan, ngurusin berkas sidang skripsi yang harus submit sebelum libur cuti bersama, perpanjangan domain dan migrasi hosting dan jiwaku yang ingin menghabiskan jatah cuti untuk mudik menjumpai keluarga. Pokoke ambyar poll! Mumet parah, semua keribetan dalam waktu bersamaan.

Kerja bagai kuda yang lembur melulu dan sampai rumah ngelengkapin persyaratan berkas kompre. Yang paling lama itu tembus turnitinnya minimal 15%, aku ngulang hingga yang ketiga kalinya baru berhasil dapat angka 10%. Nyempetin untuk riset tipis-tipis pemilihan hosting yang sesuai. Begitu aja agenda harianku di penghujung tahun.

Skip… skip… skip… memasuki awal tahun nih, kerjaan kelar sesuai deadline, berkas sukses diterima sehari sebelum penutupan dan ke inti cerita ini, kami resmi pindah hosting. Kalo ada yang bertanya kenapa kami butuh hosting, jawabannya karena CMS blog ini pakai WordPress.org.

Awal ngeblog dulu kayaknya karena pas cari domain nemu paket bundling setahun murah yang barengan hosting langsung di Domainesia. Ini keputusan spontan aja, padahal kami berdua buta soal HTML, PHP, dsb tapi berkat tanya-tanya om Youtube dan tante Google bisa migrasiin secara mandiri dari blogspot ke WP tahun lalu.

Nah, akhir 2020 akan habis kontrak, dan harga renewal kembali normal tanpa ada promo khusus end year or new year. Soal harga selalu jadi parameter yang nggak tergoyahkan, untuk itu kami putusin cari rumah baru yang harganya lebih bersahabat di kantong.

Kami terselamatkan karena hosting kami berlabuh dengan numpang di hosting kenalan yang masih lavang. Aku buka suara soal hosting ini ke dia dan dia menawarkan diri untuk menampung blog kami dengan “harga kawan” ditambah nego jasa migrasi darinya. Kebetulan lagi, hosting dia juga ternyata pakai yang punya Domainesia.

Sebulan lebih kami pindahan namun kami tidak puas dengan performa yang lemot kebangetan. Dan ini sudah kami keluhkan ke dia yang begitu lama mendapat tanggapan serius. Okelah, seminggu bisa dimaklumi karena dia pun punya banyak kerjaan utama. Tapi saat dia bilang sudah ditangani, tapi hasilnya tidak berubah, masih lola minta ampun bikin bingsal dan kami mulai bawel nuntut dibetulin.

Jangan salahkan kami bila kami menaruh curiga dengan hosting dia itu. Kami yang merasakan performa Domainesia setahun terakhir tahu betul tidak mungkin bisa leletnya sampai 15 menit sendiri buat buka dashboard blog doank. Eh, ternyata kecuriaan ini terbukti, dia taruh blog ini di VPS bukan di shared hosting  Domainesia. Dan terjadilah drama pada titik ini.

Sebenarnya VPS derajatnya lebih tinggi dari shared hosting, tapi dia mengakui katanya settingannya masih kentang gitu belom kelar, jadi tidak maksimal performa servernya malah bikin lelet. Kami minta untuk pindahin aja ke hosting Domainesia tapi ya gitu butuh sabar bunda. Tapi yaitu blog yang ga bisa diakses selama tiga hari dan tentu visitor 0.

Dokumentasi pas proses migrasi

Kesabaran kami yang masih dangkal sudah meronta dan setelah diskusi alot berdua keputusan akhir kami adalah pindah rumah lagi. Rekan  Icha yang kasih rekomendasi hosting harga promo di Rumah Web yang juga gratis jasa migrasinya. Dan tanpa ba bi bu kami auto aksekusi beli untuk setahun ke depan.

Drama masih belom berakhir, karena migrasinya dari VPS pribadi kawan dia tidak mungkin kasih orang lain akses untuk masuk. Dan terpaksa mungkin dengan berat hati juga dia masih mau nolongin buatin file Zip back-up blog ini agar bisa upload ke hosting baru.

File berhasil dibuat tapi ternyata ukurannya kebesaran untuk upload ke cpanel yang hanya bisa max 500 MB sedangkan total file blog ini mencapai 830an MB.  Jadi pake jasa migrasi orang Rumah Web cuma sebatas minta bantuan upload file ini saja ke cpanel. Setelah itu beres urusan.

Drama ini, satu hal yang kujadikan pelajaran, sekalipun si kawan sebenarnya berniat baik menawarkan opsi alternatif tetap upayakan mencari yang pasti-pasti aja, jadi pas ada perkara yang ingin dikeluhkan tidak perlu sungkan mau ngerepotin sang pengedia jasa. Semoga kalian juga bisa dapat hikmah dari ceritaku ini ya.

One Comment

  • Mayuf

    Pantes kemarin” kalo ngakses sosisproject itu gede banget data buat reloadnya tapi gak kebuka-buka wkwk

    Kalo aku si lebih ke vps dari digitalocean yang udah jamin rekomend, tapi untuk website pribadi aku milihnya pake blogger biar gak mikirin hosting/vps nya hehe

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *