Monologue

I Just Do Not Like My Birthday

Happy birthday sweetie!

Klo aku bisa milih tanggal kelahiran sendiri, aku bakal milih tanggal ini. Empat tahun sekali doang bakal nambah umur, tetep muda donk angkanya. Kalo memungkinkan malah ga punya tanggal lahir lebih baik.

Ada dulu masanya ketika aku dengan suka cita menantikan setiap momen ulang tahun. When we are kids, birthdays are awesome. Gak sabar pengen tau siapa saja yang bakal ingat dan ngasih kado, siapa yang bakal nyanyiin lagu kuno itu, niup lilin dan terus potong kue. Ya, itu jaman aku masi bocah.

Beranjak remaja aku justru ngeri kalo kawan kelas ada yang ingat. Tradisi dapet kue bergeser jadi sasaran lemparan telor ceplok terus diguyur tepung. Mereka yang gak ingat pun jadi ikutan semangat tuh sekongkol ngerjain. Tinggal milih deh tuh pulang mirip adonan atau basah kuyub. Udah gitu malakin pula minta traktiran. Kan gitu minta gebukin namanya.

When we are older, birthdays are, for some, ewhhh. Di atas 20an udah males banget deh ngingat tanggal ulang tahun sendiri. Yap, gak kelihatan lagi letak istimewanya hari ulang tahun. As growing adults, you may notice how people pay less attention to you—especially the older you get. Tapi technically, Facebook bakal selalu ingat. Notifikasi bakal rame masuk bahkan dari mereka yang gak kukenal berbaik hati ngetik ‘HBD xx + pengharapan buatku’.

It’s just my birthday makes me feel uncomfortable. Like really uncomfortable. Basically, I’d just be fine with ignoring my birthday every year. What is wrong with me?

Apa kalian nggak pernah bertanya-tanya sebenarnya apa yang dirayakan?

Apa hal yang perlu dirayakan dari alarm pertanda kita tuh udah gak muda lagi?

My age reminds me of time that I will never get back. Ulang tahun dapat mengingatkan kita bahwa kita menuju proses menua. Maksudnya kita semakin dekat pada masa tutup usia. Hari itu secara resmi menjadikan kita satu tahun lebih tua, meskipun sehari sebelum ulang tahun kita tidak ada yang berbeda. Yasudahlah, masa bodoh sama ucapan ulang tahun.

Beruntung kalian yang dihari ulang tahun dapat menikmati momen sama keluarga. Aku yang jauh dari keluarga biasanya bakal homesick parah pas hari ulang tahunku tiba. Enam tahun di tanah rantau juga jadi alasan kuat aku benci hari ulang tahunku.

But no matter what, my birthday just always makes me feel weird, regardless of what I do, or how I celebrate, or who I’m with. Actually, I’m afraid to look at myself for who I am. I am not just special. Without any celebration, I spent entire day alone  then I reflected to my life. What I had accomplished and what the things I still need to work on.

Ujungnya sih tetap suka suka kalian mau dianggap penting dan merayakannya juga tak salah. Yang penting adalah ingat mati dan ingat dosa. Sekarang aku memaknai hari ulang tahun sebagai menutup sebuah chapter dan akan memulai lembaran chapter baru. Makanya aku menjalani hidup untuk menebar kebaikan, paling tidak bagi keluarga tercintaku. Karena kita nggak pernah tahu kapan seluruh chapter hidup kita selesai.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *