overtime
Monologue

It’s Just A Job, Not Your Life

Beberapa waktu yang lalu kata gaji sempat jadi trending topik di twitter. Soalnya ada tweet seseorang yang mencoba remind kita untuk tidak terlalu banyak bekerja hingga larut malam apalagi kalau sampai lembur. Ya, setiap hari lembur dan selalu pulang larut malam.

Tentu saja cuitan tweet tersebut menuai banyak komentar atau lebih tepatnya curhatan para pegawai kantoran yang terpaksa lembur setiap hari dengan kebanyakan alasan yang hampir sama yaitu kerjaan belum kelar.

Ada juga yang karena alasan etis kayak khawatir diomongin rekan kerja karena pulang deluan hingga bos yang memaksa agar jangan pulang dulu walaupun kerjaan udah selesai. Ada beragam alasan lain yang membenarkan harus sampai lembur di kantor.

Aku juga punya cerita yang hampir sama dan akhirnya memutuskan untuk resign setelah bekerja di perusahaan tersebut selama setahun lamanya setelah aku tersadar it’s just a job, it’s not your life.

Flashback dua tahun lalu, tpatnya tahun 2018, saat pertama kali aku mendapatkan pekerjaan dibidang digital printing sebagai bagian staf logistik. Aku senang bukan main menerima pekerjaan itu setelah menunggu hampir 6 bulan pascawisuda. Akhirnya aku punya kesibukan, nggak nganggur lagi.

Selang beberapa minggu bekerja, aku tidak ambil pusing sama jam kerja perusahaan, karena masih bawaan excited kali jadi ada banyak hal yang harus aku pelajari sebagai orang yang baru memasuki dunia kerja.

Terima aja salama 3 bulan masa training hanya menerima upah di bawah UMR karena saat itu aku pure niatnya ingin mencari ilmu dulu, belajar sungguh-sungguh agar bisa adabtasi mengenal lebih banyak tentang digital printing.

Tapi, beberapa bulan kemudian aku jadi berpikir, apakah ini yang aku inginkan? Bekerja berangkat pagi dan setiap hari harus pulang malam. Menghabiskan waktu mudaku untuk bekerja, kerja dan kerja.

Bahkan aku tidak mempermasalahkan beberapa kali pulang kerja hampir pukul 8 malam dan tanpa ada uang lembur. Bekerja dari senin hingga sabtu, berangkat dari pukul 7 pagi dan saat pulang tidak pernah lagi melihat senja. Ini adalah hidup yang membosankan!

Alasan yang membuatku bisa pulang telat setiap hari karena kerjaan yang terlalu banyak. Ditambah dengan rekan kerja yang selalu mengatakan totalitas tanpa batas, serta pak boss yang selalu suka rapat dadakan dan akan nagih laporan pukul 6 sore. Kebayangkan gimana rasanya? Benar – benar stuck!

We all know have to the struggle for life. Demi mendapatkan masa depan yang cemerlang harus giat bekerja selagi muda. Tapi, yang menjadi masalah buatku adalah aku benar-benar tidak memiliki waktu untuk diriku sendiri, for self love.

Waktu dan tenagaku telah terkuras habis untuk bekerja. Bahkan ketika sudah berada di rumah pun untuk bercerita dengan kedua orang tuaku sendiri aku sudah terlalu penat.

Sekadar membaca buku ataupun menonton serial netflix tidak ada waktu lagi. sampai rumah aku langsung dinner, lalu membersihkan diri dan kemudian tertidur. Keesokan harinya terulang lagi siklus itu dari senin hingga sabtu bekerja seperti robot.

Saat minggu tiba yang kulakukan hanya rebahan karena bawaan terlalu capek untuk melakukan hal lain. Berolaraga pun aku sudah tidak niat lagi biarpun aku tahu itu sangat penting untuk kesehatan. Jadilah, kehidupanku hanya sebatas kerja, kerja dan kerja. Tidak juga ada mood untuk hangout bersama teman, mager.

Akhirnya setelah berpikir panjang aku memutuskan untuk menulis surat resign, bahkan dengan hati yang puas dan gembira. Aku bangga dengan diriku sendiri yang bisa melewati itu semua dan memiliki kehidupan baru sekaligus pekerjaan baru yang akan kujalani.

Aku tuh tipe orang sangat menghargai waktu dan mencintai diriku sendiri, serta orang-orang yang di sekelilingku. Makanya, aku tidak ingin menghabiskan waktuku untuk bekerja saja selamanya.

“Love your job but don’t love your company, because you may not know when your company stops loving you”

Dr. APJ Abdul Kalam

10 Comments

  • CREAMENO

    Yep setuju, segala sesuatunya kalau bisa dilakukan dengan balance. Baik itu pekerjaan maupun kehidupan pribadi. Karena kalau sakit, atau terjadi sesuatu dengan mba, company bisa sewaktu-waktu ganti mba dengan orang lain ~ remember to love yourself first ya, though kerja dibutuhkan untuk aktualisasi diri dan tentunya memiliki pemasukan pribadi. Semangat 😄

  • Diani Sekaring

    Aku pernah dalam posisi burned out dalam pekerjaan, sampai gak mood ngapa-ngapain, kerjaannya marah-marah terus di rumah, constant fatigue. Boro-boro punya energi buat olahraga, buat napas aja rasanya susah, hehehe. Setelah mengambil cuti seminggu pun keadaan tidak berubah. Yah, walaupun kadang dibilang orang “It’s not a job not your life” tapi kita menghabiskan minimal 8 jam sehari di kantor, belum kalau lembur dan diganggu pas weekend, hahaha. Maaf kok jadi curhat. Sekarang aku lagi menikmati masa-masa unpaid leave yang menyenangkan 😀

    • Ichaasa

      Asli ya mbak, bawaannya kalau bad mood di kantor jadi orang dirumah juga kena. Jalan terbaik emang resign. Kerja juga penting, tapi kebahagian diri juga lebih penting!
      Selamat menikmati waktunya mbak! Rebahan jangan lupa💛😝🤭

  • mega

    akupun pernah merasakan hal ini, malam dihubungi, weekendpun juga. Karena selalu ingat wejangan “jangan pernah bilang gak, siap aja dulu. bisa atau gak urusan belakangan bisa didiskusikan” . malah lama2 jadi bosku nyaman. hahahaha.. aku merasa disiksa walaupun diapresiasi dan dijadikan staff kepercayaan beliau… trus memilih resign

    dapet kerja yang skrg, ternyata lebih melelahkan mental daripada fisik. apalagi apresiasi kurang. sedih sekali.. malah jg kangen dulu..

    ah manusia tak pernah puas dan cukup hihihihi..

    • Ichaasa

      Hahaha, duh gimana ya itu. Kayaknya keluar kandang macam masuk kandang buaya😆

      Ya udah mbak, dijalani aja dulu. Ntar kalau udah beneran nggak kuat baru deh nyerah hehe. Tetep semngat!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *