Monologue

Kau yang Datang Menyapa, Lalu Pergi Tanpa Kata

Teruntuk : Kau yang Sempat Singgah di Hati

Pertama-tama, aku ucapkan selamat padamu. Aku terjerat baper berkatmu. Kau berhasil mendapatkan perhatianku dan kemudian dengan santuynya kau hempas tanpa belas kasih.

Seharusnya kau bukan siapa-siapa sedari awal. Seharusnya kau jangan hadir dengan membawa sebuah harapan. Seharusnya kau tak usah menyapaku setiap hari. Seharusnya kau tahu perhatian seperti itu memerangkap hatiku begitu mudahnya.

Aku tidak pernah meminta kau datang dan mengisi sisa hariku dengan leluconmu yang payah. Hariku sudah penat, lalu kau muncul semaumu di saat yang paling tepat menyuguhkan rayuan-rayuan jenaka. Aku tidak mau munafik. Jujur, sungguh kau selalu berhasil mengundang tawaku walau sering kali aku sekadar menertawakan raut wajahmu yang konyol. Wajahmu yang teringat sebelum aku tidur.

Itu adalah sisi dirimu yang paling kusuka. Kau yang membuatku nyaman berbagi keluh kesah rutinitas. Kau dengan usahamu yang kikuk mencoba memahami diriku. Kau dengan begitu banyak karangan cerita yang menghiburku. Kau dengan kiriman video singkat dari kegiatanmu yang sebenarnya gak mutu. Kau dengan arogansimu yang lemah. Kau yang gila kebersihan dan menyukai tanaman. Kau dengan janjimu yang ingin mencoba masakanku.

Kau memberiku dosis candu setiap harinya. Kau membuatku menantikan setiap dering telepon, setiap bunyi pesan, setiap suara yang kuharap adalah dirimu. Aku sudah terbiasa ada kau yang menjadi bagian dalam keseharianku. Aku tenggelam dalam dunia baru tentangmu. Dan memang aku menikmati setiap momen itu. Sulit untukku kembali ke hari ‘biasa’ di mana kau belum hadir di situ.

Terlalu banyak kata yang terucap. Dan terlalu banyak rencana yang akan tetap berbentuk wacana. Saat aku dihimpit rindu, apa daya dan upaya yang bisa kulakukan sekarang. Hanya tersisa jejak kenangan yang tertinggal di belakang melambaikan tangan, membangkitkan ingatan, menghadirkan angan, mempermainkan rasa. Lalu aku jadi ingin mendengar leluconmu. Biar aku bisa menertawakan diriku yang pernah percaya dan berharap kemudian kau buat kecewa.

Ini sungguh sebuah kesalahan. Entahlah sejak kapan aku mulai menaruh harapan kecil pada sesuatu yang sudah terpampang jelas akhirnya. Jika aku mampu bertahan sedikit lebih lama dari pada ini, aku tidak mungkin mengenali bahwa terselip secuil rindu dalam harapan. Maka tidaklah jadi sesulit ini melupakanmu. Aku sadar, kau hanya berperan menjadi salah satu tokoh yang harus mengajarkanku cara melepaskan.

Kau pergi dalam diam, dan begitu pula aku akan pergi dalam senyap. Aku bisa menata kembali hatiku bersama keheningan. Aku telah selesai denganmu. Pergimu sudah kurelakan untuknya.  Ini sebagai sebuah salam perpisahan tertulis dariku. Terima kasih untuk semua yang pernah terjadi. Semoga kebahagiaan menyertai kehidupan kita masing-masing.

Selamat tinggal…

Dari : Aku yang Pernah Kau Permainkan

4 Comments

    • Navia Yu

      Hayukk! Belum ada nih yang pernah ngajakin piknik buat nyembuhin hati terluka. 🤗
      Hihi maacih ya. Klo lagi melow dan sentimentil gitu bikin kalimat ngena emang lebih lancar. 😁
      Salken juga dari Palembang. Thanks dah mampir mb Eka. 😉

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *