When I Finally Quit My Job
Monologue

Kena SP2 Berujung Resign

Nothing is as painful as staying stuck where you do not belong!

Aku cerita dulu gimana bisa aku dikasih SP dua kali dalam kurun 3 bulan ini. Serius, aku bukan sengaja mau cari gara-gara di kantor. How I can say this? Mungkin aku kehilangan motivasi bekerja, mungkin juga aku kesepian hidup jadi anak kos, atau bisa jadi suasana kantor yang semakin menjenuhkan, alasannya cukup kompleks dan aku enggan menuturkannya di sini (husst… nanti bisa diintip rekan kerja). Let’s say, I am just sick of my job.

1 Juli 2021 Surat Peringatan (SP) 1

Pertama kali dapat SP1 aku beneran agak shock. Saat itu aku dipanggil untuk bertemu 4 mata dengan orang HC, aku memanggilnya Pak Can. Beliau membawa selebaran bukti-bukti yang memberatkanku atas tindakan indiscipline yang kerap kulakukan mungkin sejak awal tahun. Tapi semakin parah tingkatnya dari sesudah lebaran ketika aku merasa harus berdamai dengan sepi saat kembali ke kantor.

Kenyataannya ada, aku memang salah tak mungkin mengelak dan berkelit, aku mengakuinya bahwa aku sering datang terlambat. Ditanya mengapa, apakah aku sedang banyak persoalan pribadi dan sebagainya, aku pun sulit menjelaskan kegundahan hatiku. I didn’t want to be too sentimental in front of him.

Hanya saja sejak dipanggil pertama kali aku sudah memberi tahu Pak Can tentang keinginanku untuk resign waktu itu aku belum bisa sampaikan alasan di balik keinginanku itu. I said I’d tell him the reason in the day I submitted my resignation letter. Sesudah keluar dari ruangan itu, tidak kuambil pusing tentang surat itu.

9 September 2021 Surat Peringatan (SP) 2

Masa SP1 belum berakhir, baru berjalan dua bulan dan di bulan kedua aku sudah ngulah lagi. Banyak tingkah bener sih daku. Iya, bisa ditebak melayanglah SP2. Kali ini Pak Can menyampaikan bahwa sesuai prosedur perusahaan aku harus menulis surat pernyataan bermeterai untuk tidak mengulangi perbuatanku dan bersedia untuk resign bila terulang kembali.

Surat itu harus ditanda tangani di hadapan atasanku langsung. Namun tidak di hari yang sama, hal itu baru dilakukan pada hari Senin. Setelah itu pun ada sesi empat mata dengan bos yang juga harus tahu ada apa dengan anak buahnya. Aku dengan terbuka bilang akan mengajukan resign dalam waktu dekat tapi ketika itu pun aku belum tahu pastinya.

Malamnya, aku yang begitu jenggah dan gundah sempat membulatkan tekad dan kirim pesan ke Icha bahwa aku beneran akan kasih surat resign itu di minggu ini atau minggu depan paling lambat. Ini sih masih modal nekad dan keputusan emosional banget. I know this decision was very rash at that time.

20 September 2021 Aku Resign

Jujur, saat menerima SP aku tidak sedikitpun menyesalinya. Justru aku semakin bernafsu igin segera nyusul Icha submit surat resign. I was thinking about this like for hundred times.

Waktu berbincang di Kopi dari Hati juga aku curhat habis-habisan sama Icha soal aku yang dah kebelet resign. Hatiku yang sudah tidak di situ kian memberontak dan aku hanya butuh satu alasan yang selalu menjadi doaku pada Tuhan.

Alhamdulillah pada Sabtu, 18 Sep, tanpa diduga jawaban atas doa-doaku dikabulkan Allah. Akhirnya aku dapat alasan yang kuharapkan selama ini untuk bisa menyerahkan surat resign dengan perasaan gembira.

Hari itu Icha kirim pesan menanyakan rencana trip kami yang terus pending karena pandemi. Dan aku dengan kehebohan sehabis dapat kabar bahagia itu spontan langsung menelponnya. Aku tidak kuasa menyembunyikan kabar gembira yang memang kunantikan begitu lama.

Tanpa mau menunda-nunda, kemarin aku langsung japri Pak Can guna menyampaikan maksud hati untuk resign. Hari itu juga surat kukirimkan via email ke departemen HR. Voilaaa, Finally I quit this job!

When I quit my job it felt like a miracle. Perasaan aku langsung lapaaaang banget. Rasanya kayak baru lepas dari belenggu yang sudah terlalu lama kutahan. Beban terberat rasanya baru dicabut dari pundakku. I think this is the best birthday gift ever for myself.

Tapi sesuai aturan kantor, aku masih harus bekerja 30 hari ke depan. Aku pun sudah koordinasi dengan Pak Can agar aku bisa memakai sisa cuti tahunan sehingga kemungkinan 11 Oktober adalah hari terakhirku ke kantor. Well, I have so many tasks to have done before that day but definitely I won’t regret!

I was on top of the world and couldn’t stop smiling yesterday. It was like the best day of the year ever. Bahkan di hari yang sama pun aku juga dapat kepastian dari kampus tanggal aku yudisium bulan ini dan bulan depan aku sudah bisa ikut wisuda. I got too many good news. I was thrilled to receive the news and certainly blessed.

Aku tetap bakalan sibuk setelah nanti resmi jobless. Eh, bukan hanya sibuk, tapi bakalan bokek karena banyak persiapan untuk hal besar di Desember yang jelas nguras tabunganku. But I am very excited and could have shouted for joy waiting December to come.

2 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *