Monologue

Ketika Uji Wong Palembang Basenglah! Indonesia Terserah!

Kalian geregetan gak sih waktu nyaksikan foto-foto kerumunan orang mudik di Bandara Seota beredar? Ya gitu, rakyat +62 ini emang special, termasuk pemerintahnya. Dilarang mudik pada prakteknya berakhir wacana. Ketika mereka koar-koar soal larangan mudik, tapi kemudian tiba-tiba bandara diizinkan beroperasi kembali sungguh menjadi ironi dari sebuah keajaiban kebijakan para elit. Kenapa bapak ibu yang terhormat malah mematahkan kebijakannya sendiri? Gimana pelaksanaan PSBB bisa optimal kalau terselip alur kontradiktif yang kental di lapangan.

Jelas warga +62 pinter ngeles, urusan protokol kesehatan bukan perkara yang perlu diseriusi jadinya. Boleh kok pulang kampung asal punya surat tugas, asal patuhi protokol kesehatan bandara dan maskapai penerbangan. Pandai bener manfaatin celah peluang mencari keuntungan dari surat bebas Covid-19. Salut bener dengan negera sendiri. Faktanya, peringkat Indonesia belum bergeser dari posisi pertama di kawasan ASEAN saat ini dengan menjadi negara yang paling mengkhawatirkan dalam penanganan Covid-19. Jawara dilawan!

Sekali lagi masyarakat +62 ini beneran pengertian. Negaraku sudah dapat cap mengkhawatirkan, bahkan kotaku pun ikut-ikutan meresahkan. Kalau kalian lihat kotaku seperti sudah kembali berdetak hidup. Jalanan ramai, transportasi lancar, pusat perbelanjaan padat, dan kerumunan terlihat lumrah. Lupa kali ya sama disiplin PSBB atau warga kota ini memang kebal betul antibodinya. Atau justru tabiatnya itu yang bebal, demi merayakan lebaran rela mengabaikan data statistik bahwa Provinsi kita tercinta, Sumatera Selatan mengalami lonjakan pertambahan kasus positif Corona tertinggi kedua setelah Jakarta. Pertambahan siginifikan sebanyak 119 kasus positif per 14 Mei 2020 dengan transmisi lokal.

Kapasitasku tidak sehebat itu untuk mengkritisi regulasi yang diterapkan saat ini. Biarkan itu menjadi urusan pemangku kebijakan merumuskan program penanganan yang lebih relevan dan juga konsisten dalam pelaksanaannya. Tujuanku ngoceh di tulisan ini untuk mengingatkan dulur-dulur sekalian kalau apa yang menjadi penting saat ini bukanlah merayakan lebaran dengan baju baru.

Wahai dulur-dulur, coba lah jangan egois. Kita di sini bahu membahu mendisiplikan diri agar segera terbebas dari jerat Corona. Tolong lah, ke luar rumah hanya bila mendesak saja. Hanya jika kebutuhan pokok kalian habis. Jangan keluar rumah untuk hal yang tendensinya remeh temeh seperti belanja baju lebaran. Kita semua sadar benar kemungkinan terpapar dan terinfeksi akan semakin besar bila kita berdekatan apa lagi dengan penyebaran dari transmisi lokal yang kita tidak bisa lacak dan tahu pasti jikalau ternyata kita sedang berdekatan dengan OTG (orang tanpa gejala) ataupun terlebih lagi ODP. Makanya diam di rumah adalah pilihan pahit yang hanya tersedia kini. Virus ini bukan lelucon yang bisa disepelekan. Butuh keseriusan kita di sini. Semoga kalian mengerti.

Kita jangan memperlama keadaan sulit ini ya, lur. Cobaan pasti berhasil kita lalui. Semoga kalian juga lebih mau konsisten dalam menghadapi situasi ini. Jangan plin plan dan lebih mawas diri. Ya tapi apa boleh baut, apa mau dikata, jika ujung-ujungnya masih pakai mantra sakti, “suka-suka gue!”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *