Belajar Mencintai
Monologue

Konsep Belajar Mencintai

Kini pertanyaan itu muncul dibenakku, bagaimana cara seseorang belajar mencintai? Mungkin sulit untuk mengetahui bagaimana “seharusnya” perasaan cinta itu. Aku kira cinta setiap orang berbeda-beda dan cara menunjukkan cinta itu pun juga tak selalu sama. Bila cinta yang kudefinisikan itu adalah seperti sebuah bentuk pengorbanan, maka aku tidak pernah tiba di level mencintai. I know I’ve never felt love towards anyone.

Cinta Itu Membingungkan

Apakah kalian percaya jika kukatakan, aku belum pernah jatuh cinta? I don’t know what is love is. Atau mungkin aku tidak mengerti dan tidak bisa mendefinisikan cinta. Because I describe love as an action rather than a feeling, seperti di beberapa penjabaran pemaknaan cinta di blog ini dengan merangkum definisi dari orang lain dan kutafsirkan dengan logika. Namun, hingga saat ini belum begitu jelas bentukan cinta yang menghampiriku.

Aku menjalin hubungan mungkin tidak sampai jatuh cinta pada tahap cinta yang kupercayai. Bukannya tanpa perasaan, ada kok perasaan nyaman, ingin bertemu dan jalan, ingin vidcal, maunya makan bareng dan sederet hal normal lainnya sewaktu berpacaran. But, how do I  know it was love? Hanya karena kita senang ada di dekatnya dan dilimpahi perhatian memabukkan, apa sudah termasuk cinta? Kenapa seperti sulit sekali mendefinisikan emosi cinta pada diriku?

Atau kah aku kesulitan mendefinisikan cinta karena keterbatasan kata dalam bahasa. In English, there’s the “crush” for example, a feeling of really enjoying another person’s company. Katanya dari sini awal mula tumbuhnya cinta dan bisa menjalin hubungan yang kuat dari situ dengan adanya komunikasi dua arah. Kita tidak pernah tau sifat-sifat dan latar belakang si dia tanpa ada komunikasi saling mengenal, bukan?

Jawaban dari pertanyaaku itu, aku temukan dengan penjelasan cinta dari sisi ilmu biologi di sini. Jadi, cinta itu adalah serangkaian interaksi kompleks di otak kita. Cinta yang mempengaruhi semua pikiran, emosi dan mood, perilaku kita – bertumpu pada proses fisik dan zat kimia di otak. In other words, that everything we assume comes from the heart, it turned out all comes from the brain.

Dengan demikian, artinya otak kita mampu menciptakan ilusi cinta itu sendiri. Mungkin saja pejalanan kisah hubunganku yang telah usai itu sebenarnya melibatkan cinta. Namun, karena diusia segini aku memaknai cinta dari kacamata yang tak lagi sama, dan nalar yang lebih bisa diandalkan. Bentuk cinta kita pun akan berubah seiring bertambahnya usia dan belajar dari asem pahitnya hidup.

Aku Ingin Belajar Mencintai

I’d like to learn how to love. Untuk beberapa orang mereka tidak bisa memilih dimana tumbuhnya cinta. Untuk sebagian lainnya, mereka yang memutuskan untuk mau belajar mencintai. Awalnya sih biasa aja, tetapi lama-lama malah suka balik. Awalnya perhatian itu kamu abaikan, namun semakin dia mengenalmu semakin ingin kamu membalas ketulusannya. However, any loving, healthy relationship also involves some give-and-take.

Mencintai membutuhkan kesediaan untuk membuka diri dan menjadi rentan di hadapan pasanganmu.  Sedangkan aku tipe yang sangat sungkan menunjukkan sisi terlemahku pada orang lain, bahkan keluargaku sendiri. Aku pribadi yang ingin terlihat kuat di luar, di hadapan orang. Tanpa kusadari aku membangun dinding kokoh yang bahkan sulit terlihat apalagi dirubuhkan.

Jika saat ini kamu dikirimkan Tuhan, seseorang yang bisa melihat sisi rapuhmu di balik dinding kokoh itu, isn’t that a miracle? Meskipun sosoknya tidak sesempurna yang kamu idamkan selayaknya pangeran nun rupawan yang keluar dari negeri dongeng. Tapi dia dapat memahami kamu hingga ke sudut terdalam dirimu. Seperti menyelami langsung isi kepalamu dan menyentil langsung saraf sensitif itu dan seketika kamu menjadi rentan, rapuh dan kerdil.

Belajar mencintai orang yang peduli dan tulus pada kita sungguh tak ada salahnya. Belajar mencintai bukan berpura-pura memberikan perhatian semata yang malah menipu dan menyiksa diri sendiri denga terpaksa mencintai. This does not mean that it can’t be learned, having lots of gentle patience with yourself may be in order as you learn to love. Pertanyaannya bersediakah kamu untuk belajar mencintai?

Katanya cinta itu bisa saja menjadi jenuh dan memudar. Tentu saja cinta bisa datang dan pergi kapan saja. Selagi ada di posisi saat ini bersama seseorang yang selalu ada bersamamu, yang memahami dan menerima kelakuan baik dan burukmu, mengapa sudah takut patah hati duluan. I think the decision to learn to love is worth to try. Bagiku lebih baik menyesal mencoba dari pada menyesal menyia-nyiakan ketulusannya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *