proud of your body
Monologue

Korban Perasaan di Hari Raya Kurban

Idul Adha telah tiba. Umat muslim di seluruh dunia akan merayakannya dengan Sholat Idul Adha dan mengorbankan hewan sembelihan untuk dibagikan. Hewan yang boleh ditumbalkan adalah hewan ternak yang terpilih dan dianggap layak, tapi ayam tidak termasuk di situ.

Umumnya, di Indonesia hanya sapi dan kambing yang menjadi hewan kurban. Itu pun dengan syarat usia hewan sudah matang dan sehat atau tidak cacat fisik. Kemudian juga ketentuan bobot hewan tersebut juga mesti terpenuhi.

Menyinggung soal bobot, biasanya jokes saat menjelang hari raya kurban ini pasti selalu hadir. Ntah itu sebagai basa basi busuk atau sebuah pembuka percakapan. Orang yang berbadan bongsor akan selalu jadi target bulan-bulanan pada momentum ini. It has become norm to criticize aspects of our bodies as the basis of many of the jokes.

Seperti tadi, saat aku vidcal dengan beberapa alumni sekolah yang salah satunya ada nyeletuk  kayak gini, “Lu vidcal buat ngucapin kata-kata terakhir ya? Udah siap belum buat jadi korban besok?” Sounds such harsh, isn’t it? Sumpah deh, ini jokes jatohnya malah creepy nggak, sih?

Pertanyaan jenis itu jelas banget bermuatan unsur negatif. Cuma di kitanya udah kedengeran lumrah. Terus yang ditanyain santai aja nanggepin begini, “Sialan! Lu nggak bisa lihat apa gue udah langsing begini? Pipi gue aja udah tirus bener. Mana cucok lagi dikurbanin.”

Aku dan yang lain paham sekali itu bernada candaan, tanpa maksud apapun. Buktinya, kami semua ikutan tertawa menanggapi gurauan si teman, ehm… termasuk daku. Ironis dong sebenarnya, kesempatan ini dipakai buat menyindir atau mengomentari bentuk fisik seseorang.

Kami yang tertawa sesungguhnya salah karena kami merasa bukan jadi si korban yang disindir. Merasa diri sendiri sudah langsing sehingga tidak merasakan tekanan ‘nyesss’ gitu yang bisa saja dialaminya saat itu. Keadaan menjadi ruwet ketika orang yang dicandain diam-diam sakit hati.

Bagaimanapun menjadi sasaran dari komentar serupa tidak akan pernah menyenangkan. Itu tetap saja menyakiti perasaan. Khawatirnya malah tersinggung dan bikin orang tersebut kehilangan kepercayaan diri.

Kalimat becandaan menurut kita bisa diserap jadi sebuah hinaan untuknya. It can make people feel insecure about themselves. Buntutnya pun bisa fatal yang menyerang psikologis korban. Dia bisa saja jadi stress dan terancam mengalami gangguan makan dan menurunnya kesehatan.

Tanpa sadar kita bisa saja menjadi pelaku dalam situasi yang beragam. Ntah itu saat niatan kita menghibur, bercanda hingga bahkan saat memuji. Agak rumit memang menggaris batasan antara becandaan dan meledek. Persepsi dan asumsi orang itu beda-beda, makanya si target bisa sangat tersinggung gara-gara becandaan.

Menyesal aku jadinya. Alih-alih menegur, aku loh ikutan tertawa. Aku tahu nggak mungkin rasanya ngatur omongan seseorang dan mencegah orang itu nyinyir mengomentari fisik orang lain. Ya, minimal dari diri kita perlu memperhatikan etika melucu. Mikir-mikir dulu make kata-kata sebelum berucap dan tentu bijak melihat situasi dan karakter target sebelum melontarkan lelucon.

4 Comments

  • CREAMENO

    Jokes edisi hari raya kurban pasti nggak jauh-jauh dari body shamming soal berat badan 🙈 dan ini terjadi juga di sekitar saya dari jaman saya masih anak-anak. Kasian kadang kalau mendengar ada teman yang dibilang demikian, meski teman bisa menanggapinya dengan tertawa. Tapi yang namanya diejek, pasti akan ada rasa sakitnya 😅

    Eniho, nggak apa-apa mba Navia kalau kelepasan yang penting next time nggak diulang 🤭 atau mungkin bisa minta maaf secara personal kalau tadi sudah ikut tertawa. Who knows bisa kasih rasa comfort ke teman yang dijadikan lelucon sebelumnya 💕 semangat! Ohya saya mau kasih info kalau mba Navia menang giveaway di blog saya 😆 terima kasih banyak sudah sering berbagi insight bagus ya, mba. Keep writing, keep sharing and keep inspiring 😍

    • Navia Yu

      Iya kan mb Eno 😿 dari dulu jokes ini awet bener. Ledekan ya pasti adalah nyelekitnya dikit, 😣 tergantung si target gimana mo nanggepinnya.
      Uhlala makasih sarannya mb Eno 🤗 Hahaha aku memuji dia karena diet dia emang kelihatannya berhasil.
      Beneran bingung aku baca menang apaan. Bertanya-tanya kapan coba ikutannya? 😅 Langsung ngubek-ngubek blog mb Eno deh mencari kejelasan gimana rules giveaway mb. Sumpah nggak sadar itu juga tulisan giveaway. 😂

  • Farah Salsabila

    begitulah hidup mba, kita nggak suka sama komentar nya dianggap mudah tersinggung, sensian.
    Kita biarin juga jadi makan hati.
    Mau gimana pun kita, pasti ada aja yg dikomen. Jangan kan orang yg gemuk atau kurus, yg badannya biasa tapi (mon maap) breasts nya ngga gede juga dikomen. Mereka merasa bangga aja gitu bisa ngejatuhin orang lain, bisa nyadarin orang lain “eh lu itu tepos, nyadar napa”, kayak hepi gitu aja abis bikin orang sakit hati.

    • Navia Yu

      Gitulah ya mb giliran kita protes ga terima malah dikatain sensian, ga bisa diajak bercanda. Suka sebel ngikutin maunya tuh orang 😑 Ew, I know that feel. Hiks yang ngatain lawan jenis itu kebanyakan. Dengernya itu loh bikin jleb sebenarnya. Cuma aku yakin banyak masih pria yang nggak mandang kita cuma dari itu gede doank. 😬 Aku suka jawabin mereka kek gini, yang minimalis itu anti gravitasi loh. 😆 ckckck

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *