Kursus Online Bahasa Jerman
Joy

Kursus Online Bahasa Jerman

Servus! Wie geht’s?

Seperti Icha yang sedang belajar Bahasa Prancis, aku pun sedang serius menekuni kursus Bahasa Jerman. Sejak Februari lalu aku mendaftarkan diri untuk private kelas online Bahasa Jerman dengan mencari tutor dari instagram. Emang dengan situasi pandemi ini semua harus beralih ke media online. Icha juga sudah cerita apa bedanya kursus online dan offline.

Aku akan berbagi pengalamanku trial – error mengikuti beberapa kelas online demi mencapai level A1 Jerman. Karena aku belajar dari yang benar-benar 0 maka aku nggak nanggung-nangggung dengan mendaftarkan diri di 4 tempat berbeda demi tujuan itu.

1. Les Privat

Pertama, les privat dengan seorang tutor yang kupanggil Frau Vika. Isi kelas hanya terdiri dari dua murid, diriku dan seorang lagi dari Surabaya. Total belajar terdiri dari 960 menit setiap bulan via Zoom. Kalian bisa cari aja namanya di instagram.

Kelebihannya dari metode pembelajaran Frau Vika yang asik banget, nggak monoton dan ngebosenin. Waktu belajarnya juga flexible karena kamu bisa menyesuaikan jadwalmu. Kami bahkan pernah les jam 2:30 pagi, seperti latihan bangun sahur. Iya, seniat itu emang tutornya mengajar. Asal muridnya senang untuk belajar, Frau Vika baik banget mau menyesuaikan.

Minusnya dari les private jelas ini pricey, say! Harga setiap level berbeda dan itu HARGA PER BULAN tanpa modul! Jadi kamu harus modal lagi beli buku sendiri. Jangan nggak serius belajarnya karena kamu akan diajarin sampai bisa. Seperti aku yang sampai bulan kedua di level yang sama tapi masi belum kelar juga level A1. Makanya dengan berat hari kuputuskan stop sampai situ karena nggak sanggup lagi mesti nerusin bayar bulan ketiga. Tapi kalau kamu punya privilege itu privat jelas pilihan paling oke.

2. Les di Lembaga Pendidikan

Ini juga aku temukan dari instagram yang menawarkan paket intensif belajar sudah beserta modul. Aku mencoba trial di dua tempat berbeda juga. Yang pertama belajar hanya via WAG dengan harga murce yang under IDR 100k. Kedua belajar via Zoom dengan harga under IDR 500k.

Kelebihan belajar dari lembaga kamu harus terikat untuk menyelesaikan satu level dalam waktu sebulan. Kamu juga diberikan modul dari mereka yang berisi rangkuman dan lebih mudah dipahami dengan petunjuk dalam Bahasa Indonesia. Harga yang ditawarkan juga jelas lebih bersahabat di kantong. Untuk pembelajaran via Zoom bisa diputar ulang rekamannya bila kamu belum cukup paham materi.

Minusnya, kalau belajar dari WAG kamu harus rajin mengulang penjelasan dari tutornya hanya berupa format MP3. Jadi, agak ngeblunder beneran memahami penjelasannya dan tidak bebas bertanya karena chat kamu akan tenggelam oleh murid lain dari WAG. Kelas ini tidak mengizinkan japri tutor untuk bertanya hanya boleh di WAG, katanya agar murid lain juga ikut mengetahui pertanyaan dan jawabannya. Sekalipun murah, kelas model ini sangat tidak kurekomendasikan.

Kekurangan berikutnya yang kelas via Zoom, kamu akan mendapati kelas lumayan ramai. Tergantung lembaganya yang membuka kelas minimal dengan quota berapa orang murid, bisa dari 5-25 orang isi kelasnya. Terkadang karena waktu yang terbatas pertanyaanmu tidak terjawab saat live tapi harus akan dijawab dari WAG. Dan satu lagi, penyampaian tutornya monoton karena dia punya target menyelesaikan seluruh materi dalam waktu sebulan.

3. Belajar dari Mahasiswa Sastra Jerman

Belajar dari tutor yang masih berstatus mahasiswa juga sudah pernah aku jajal. Ini bukan seperti kelas intensif, karena mereka belum punya kapabilitas sampai situ. Para mahasiswa ini dari organisasi atau himpunan atau perkumpulan club yang biasanya hanya mengamalkan atau membagikan ilmu yang mereka terima di bangku kuliah via GMeet.

Kelebihan, menurutku belajar sama mahasiswa ini lebih seperti diskusi dengan mereka sebagai pemateri dan kita peserta diskusi yang akan mengajukan pertanyaan. Tapi metode ini jauh lebih interaktif kelasnya jadi berasa lumayan seru saat belajar. Biasanya mereka tidak mematok Fee alias gratis atau mungkin ada biaya pendaftaran yang seharga pulsa kita aja dan kamu akan menerima modul sederhana juga.

Minusnya, mereka buka kelas untuk memperkenalkan dasar-dasar Bahasa Jerman. Mereka juga hanya membuka kelas sesuai tema materi yang akan diangkat, misalnya materi liburan atau hobi. Jadi, jangan berharap lebih bisa menyelesaikan level A1 mengikuti kelas seperti ini, tapi bukan berati tidak mungkin!

4. Belajar Mandiri dari Aplikasi Berbayar

Banyak sekali sekarang aplikasi yang bisa kamu gunakan untuk belajar bahasa baru secara mandiri, dari yang gratis seperti Duolingo hingga berbayar seperti Memrise, Busuu dan Babble. Eh, terus ada yang nyiyir, kalau ada yang gratis kenapa mesti bayar? Aduh say, jelas kalau bayar kamu diberikan akses untuk seluruh fitur-fitur yang tersedia.

Kelebihannya, kamu cukup bayar sekali untuk setahun akses keseluruhan fitur-fitur premium dari aplikasinya. The price you pay is super worth the ease learning you get. Belajar dari aplikasi akan dirancang dengan lebih menyenangkan dan seru yang jelas bikin kamu betah bisa belajar dari mana saja dan kapan pun.

Minusnya, namanya belajar mandiri mengharuskan kamu disiplin dan ketat mengatur jadwal belajar sendiri. Dan karena ini tanpa tutor, maka saat kamu kebingungan dan ingin bertanya kamu harus pandai-pandai menemukan jawabanmu sendiri. Untuk itu aku saranin kamu harus rajin memperkaya referensi sendiri disamping dari materi di aplikasi. Kemudian, metode ini akan lebih efektif bila kamu sudah punya teman native dari negara asalnya untuk tempat kamu bertanya.

Aku nggak pernah merasa rugi atau membuang-buang uang dengan trial – error beragam jenis metode pembelajaran di atas. Aku sebut itu sebagai investasi yang harus kukorbankan demi upgrade skill. Aku berharap artikel ini akan membantu kamu mempertimbangkan dan memilih tempat kursus online dengan bijak yang sesuai dengan kapasitasmu. Kuylah, mulai belajar bahasa asing!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *