Monologue,  Writing

Last Day of Work

Finally!! Hari yang kutunggu – tunggu akhirnya tiba juga. Jadi, tepat hari ini adalah hari terakhir aku bekerja sebagai mbak – mbak kantoran yang menghabiskan hampir seluruh waktuku di kantor untuk bekerja dan mengerjakan sesuatu yang tidak aku suka, serta harus bekerja dengan orang – orang yang menurutku terlalu menuntut. Well, it’s adult life!

Aku masih tidak percaya dan mengucap syukur sebanyak – banyaknya karna setelah jam pulang kantor aku tidak bekerja lagi, hampir 3 tahun kerja diperusahaan multifinance ini benar – benar membuat wawasanku bertambah lagi tentang multifinance. Aku benar – benar mendapatkan ilmu baru yang mungkin akan sangat berguna di kemudian hari.

Sudah kuceritakan sebelumnya bahwa diperusahaan ini aku hanya Dikontrak Cuma 2 Bulan dengan kontrak yang baru dan entah dengan kontrak yang keberapa karna sudah hampir 3 tahun aku bekerja diperusahaan ini. Lagi – lagi always remember I Have a Plan, but God also Have a Plan for Me.

Jadilah, saat kontrak habis ini aku memberitahu boss ku bahwa aku tidak ingin dilanjutkan lagi kontraknya karna aku ingin mencoba hal baru lagi dan ingin stop untuk kerja sebagai karyawan kantoran untuk beberapa tahun kedepan. Boss ku yang mengetahui hal itu menyuruhku untuk memikirkan ulang apakah ini benar – benar keputusan yang sudah tepat dengan cepat aku menjawab ya, karna aku sudah membuat rencana ini dari tahun lalu.

Meja kerjaku

Jujur saja, aku sangat senang dan bangga dengan diriku sendiri. Entah kenapa setiap mengundurkan diri aku selalu merasa bahagia biarpun uang ditabunganku tidak banyak tetapi aku benar – benar bersyukur bisa merasakan kebebasan, kesehatan mental, jasmani dan rohani yang sehat.

Hari ini, aku sangat bersemangat untuk berangkat bekerja dan moodku benar – benar sangat bagus. Tidak henti – hentinya aku selalu tersenyum karna ini adalah hari terakhir aku bekerja diperusahaan ini dan tidak lupa juga memberitahukan beberapa teman dekatku bahwa akhirnya aku resign.

Aku datang ke kantor di jam seperti biasanya dan tetap bekeja seperti biasanya, hanya saja aku sedikit merapikan dokumen – dokumen yang tidak perlu digunakan lagi dan membersihkanya. Serta membuat serah terima dengan mbak – mbak yang akan menggantikanku. Memberitahunya hal – hal apa yang menjadi job deskku selama ini.

Sore hari sebelum jam pulang kerja, aku tidak lupa berpamitan kepada orang – orang diluar perusahaan yang harus terhubung denganku karna pekerjaan, aku mengucapkan salam perpisahan by phone dan mereka menanyakan alasan kenapa aku resign dan kebanyakan dari mereka berpikir aku resign karna aku akan menikah, itu adalah alasan yang aneh menurutku.

Karna bossku dari pagi hingga jam pulang tidak ada dikantor, jadi saat sore hari sebelum pulang kerja dia menelponku dan menanyakan beberapa masalah pekerjan dan yang terakhir dia mengucapkan maaf dan terima kasih atas semuanya serta ingin tetap melanjutkan komunikasi ataupun silahturahimi. Aku yang mendengar bossku berkata seperti itu juga ikut melakukan hal yang sama, meminta maaf dan mengucapkan terima kasih.

Aku juga berpamitan kepada mbak – mbak divisi lain yang setiap hari selalu bertemu. Menyalami mereka satu persatu dan mengucapkan maaf satu sama lain jika tidak sengaja membuat salah dan mendoakan semoga sukses di luar sana. Jujur saja, aku sedih dan ingin menangis tetapi aku sanggup menahannya.

Disinilah aku menyadari bahwa setiap pertemuan pasti ada perpisahan dan setiap perpisahan bukanlah akhir dari segalanya, perpisahan adalah langkah baru untuk kita semua bertemu dengan orang – orang baru dan cerita – cerita yang baru agar hidup kita dapat pelajar baru lagi.

A farewell must happen before we can meet again. à bientôt x

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *