Kontempelasi Desember
Youth

Lessons I’ve Learned In 2021 for 2022!

2021 akan berakhir dalam kurang dari 10 hari lagi. Tahun yang juga tidak kalah beratnya seperti tahun lalu yang kita masih dihadapkan pada masalah covid. Of course 2021 was a roller coaster ride in our life. There were lots of ups and downs this year. Tapi tahun ini banyak pelajaran yang tentu kita ambil dari situasi pandemi, bukan?

Tahun ini ada beragam warna yang baru buatku. Berbagai peristiwa yang berbeda dan belum pernah terjadi di tahun 2020. Dari 10 hal yang kurencanakan sebagai resolusi 2021 hanya setengahnya yang akhirnya berhasil kurealisasikan. Sebenarnya banyak keinginaku yang tak tercapai, tapi pastinya Tuhan punya rencana lebih indah. Aku ingin sedikit mengisahkan ceritanya di tulisan ini.

Pada mulanya aku belajar bahasa Jerman karena sudah menyiapkan rencana matang untuk bisa menimba ilmu di sana. Dan mulailah kuperhitungkan segala hal yang kubutuhkan. Tabungan yang cukup dan tentu bisa sedikit-sedikit berkomunikasi sederhana dengan bahasanya. Aku giat sekali mempelajari bahasa serta kebudayaan Jerman hingga mentok di Agustus.

Karena kesibukan itu aku termat jarang bermain atau kumpul dengan teman dan kolega kantor. Karena kursus yang intetnsif itu juga sering jadi alesan kuat aku mangkir dari lembur. Dan kurasa ini jadi penyebab lingkungan kantor mulai tidak bersahabat lagi pasca libur lebaran. Sampai aku sungguh tidak betah lagi bekerja, seperti diasingkan.

Anehnya tidak ada yang memberikan kejelasan padaku. Ironisnya harus ada drama kena SP dan berujung resign. Aku tidak menyesal telah melayangkan surat itu. Beneran I was truly happy at the moment when I quit the job. Tapi kebahagiaan itu semu, karena saat aku berani melepaskan kerjaan itu, sebenarnya planning untuk berangkat sudah amat dekat mata. Yaaa… ternyata batal lantaran tiba-tiba aku ternyata di php-in dong.

Itu beneran sakit dan depresi parah sih. Aku marah, kesal dan sedih juga sudah tidak berpenghasilan dan statusnya sempurna menganggur. Untuk menghibur diri, aku bersama Icha yang juga sudah resmi jadi pengangguran memutuskan pergi healing ke Bali sebagai ganti rencana kami yang sebelumnya ingin long trip Asean. Liburan bersama sahabat setidaknya bisa menjernihkan pikiran dan melapangkan dadaku untuk kembali semangat menyusun kembali rencana yang kadung rusak.

Sepulang liburan aku mau nggak mau mesti pindah, balik kampung. Aku melepaskan behel yang sudah dua tahun lebih. Mengurusi perihal kepindahan ternyata bisa bikin stres juga, karena aku hanya mengandalkan tubuhku, tidak ada yang membantu urusan packing barang.

Sebulan menganggur di rumah malah membuatku tidak betah hanya berdiam diri dan harus menjadi anak rumahan lagi di bawah konrol orang tua. Kupikir dari pada pusing, aku pun memutuskan untuk mencoba peruntungan di Bali. Tanpa ada rencana matang datang ke sini, hingga berlabuhlah ide untuk memulai bisnis kecilku di Pulau Dewata.

Akhir tahunku jadinya kuhabiskan untuk riset perihal ini-itu mengenai bisnis kecil yang mau kubangun. Sebuah tujuan baru yang cukup kuat untuk menangguhkan keinginanku hijah ke negeri orang. Maka hanya satu resolusiku untuk tahun depan, yakni sukses mengembangkan bisnisku dan sudah bisa auto-pilot bisnisku dari jarak ribuan mil jauhnya.

Pada akhinya kita tentu tidak akan berhenti untuk belajar hal baru. We learn everyday and this process should never stop! I hope 2022 is going to be a great year. I am pretty excited. I hope you are too.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *