Memahami Kedewasaan
Monologue

Memahami Kedewasaan Mendekati Kearifan

Tulisan pertama di 2022 kuberi judul seperti kampanye iklan salah satu local brand minuman beralkohol. Pura-pura berfilosofi memaknai kejadian yang terjadi di hidupku dalam kurun waktu kurang dari tiga bulan ini yang boleh kukatakan berasa tipsy.

Pasti Menua, Dewasa Mengikuti

Iya, umur terus bertambah tapi kita belum tentu seketika menjadi dewasa secara psikologis dan pedagogis. Memang tidak ada standar baku yang merujuk bagaimana kita telah mencapai level dewasa. Dewasa itu relatif masih diukur dari sudut pandang kita sendiri. Growing old is mandatory but growing up is optional.

Blog ini ada cerita bagaimana rasanya usia seperempat abad menjadi momentum yang very unstable. Layaknya senyawa yang mudah menguap dan mudah terbakar, usia dengan sensitifitas tinggi antara sense of reality dan sense of responsibility. Ketika kita masih tertatih mengelola gejolak emosi dan rasa insecure akibat too much overthinking, sementara tekanan sosial mulai terlibat melabeli persepsi ‘mapan’ mereka atas hidupmu.

Usia 25 tidak otomatis menjadikanku dewasa secara psikologis. Aku sadar diri koq, masih bertingkah kayak bocah yang sukanya dipaksa baru beneran gerak. Aku yang punya kuasa atas tubuh sendiri tapi dengan tanpa ada efek perintah biasanya akan berakhir menjadi penundaan. Betul, aku dari klan prokrastinator alias orang yang demen menunda hingga tetes detik terakhir, musuhnya klan telaten.

Hal yang kupelajari dari transformasiku bertumbuh dewasa versi seperempat abad adalah orang lain boleh mengarahkan tapi tidak lantas ia menjadi pengendali atas mana baik – buruk untuk diriku. Hanya aku yang berhak memutuskan masa depan seperti apa yang kutuju. Keputusan apapun yang telah dan akan kuambil, aku harus siap menghadapi konsekuensi yang tersembunyi di belakang itu.

Banyak Jalan Menuju Roma

Skenario nyata yang terjadi di hidup kita kadang jauh dari alur yang kita rancang. Kita membuat rencana tapi kuasa Tuhan membukakan jalur lain. Jalur baru yang sama sekali tidak terbayangkan akan kita lalui. Jalur yang sering kali baru kita sadari saat melewatinya begitu melelahkan dan penuh tantangan atau luka dan sakit.

Sejatinya jalur itu tetap menuntunmu menemukan siapa kamu dan menggiringmu ke tujuanmu, kuyakini itu. Menempatkan diriku dalam setiap situasi baru itu membuatku berproses mengelola diri, pikiran dan hati. Belajar dari kesalahan dan kekeliruan, belajar menerima fakta pahit dan tidak melulu menyalahkan, malah membuka diri untuk lebih banyak mendengarkan dan mengevaluasi.

Sometimes to get what you never had, you have to do what you never did. Aku yang terdampar di Bali saat ini, tidak pernah terpikirkan akan memulai membangun bisnis di sini. Hal ini pun tidak masuk dalam resolusiku di 2021. Tapi bukan berarti aku tidak menginginkannya.

Salah satu mimpi besarku adalah bisa punya brand ternama yang kelak ingin kurintis bila modal mencukupi hasil nabung dari berkarir sebagai employee. Nyatanya aku tidak betah bekerja untuk orang lain dengan segelimet aturan dan pusara tekanan internal yang saling sikut dan jegal.

Mimpi puncak itu tidak berubah, meski pada nyatanya aku tidak memiliki modal sebanyak yang kuperkirakan dalam ruang imajinasiku, tapi aku memberanikan diri menapaki bisnis yang kupelajari sambil menceburkan diri langsung. Kekhawatiran “apa aku nanti bisa sukses ya?” itu pasti menghantui tapi coba kutepis dengan tetap bergerak maju pada harapan-harapan indah.

Begitulah rupanya, bertumbuh dewasa dengan tumpukan hal yang harus dipikirkan mateng-mateng tidaklah mudah. Aku melalui fase dimana aku tidak menyiapkan plan-B atas resolusi yang ambyar dan mencoba bertahan dengan melalui jalur yang terbuka di depan mata, mana tau itulah yang paling tepat mengantarkanku pada tujuan yang kuimpikan. Perubahan jalur mendadak yang kini kunikmati prosesnya.

Akan kututup tulisan dengan salah satu quotes yang semoga juga jadi motivasi kamu bertahan di berbagai keadaan sulit selama bertumbuh dewasa.

Each step may get harder but don’t stop just because you’re tired. Keep moving because you are almost there!”

One Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *