Thoughts about turning 25
Monologue

Menginjak Usia 25

Happy birthday to myself!

I can’t believe I am just turning 25 today! I didn’t take it lightly. Well, it’s quite a milestone when you’re a quarter of a century years old. Actually, this age was hitting me harder than ever before. It comes with a roller coaster of emotions and a ton of pressure surrounding me.

It feels so real, anyone who has passed this milestone already can probably relate 25 always has been hard, for everyone to figure out the meaning of our life. Tapi aku pun bersyukur genap 25 tahun aku masih memijak bumi dan bernafas dengan tubuh yang sehat dan bugar.

I am grateful

Setelah aku memasuki dunia kerja, hari ulang tahunku sering hanya menjadi jam lembur yang melelahkan. Meski pada tahun-tahun lalu I hate my birthday dan enggan merayakannya, but I got plenty of time for self reflection.

Aku mau kasih ruang untuk mengapresiasi jejak perjalanan hidupku dalam 25 tahun ini. Meskipun aku cuma seorang karyawan biasa dengan segala hal dalam kadar pas-pasan. Dan sekalipun aku tidak punya capaian prestisius yang bikin orang berdecak kagum, I still love being me, I am proud of myself!

Aku bangga telah bertumbuh dan berproses dari pahit dan asemnya kehidupan. Tetap bangkit, walau jatuh, terguling, terjerembab saat melewati tanjakan-turunan dan tikungan. Sering mengaduh dan mengeluh terkadang pun terluka lalu menghapus air mata, but I keep moving forward.

Masa pandemi pun banyak mengajarkanku utuk bersyukur atas apa yang kumiliki, keluarga, pekerjaan, sahabat, kesehatan dan mungkin blog ini. Karena dampak pandemi, banyak dari kita yang telah kehilangan hal tersebut. So, I am grateful for the life I have.

Their minds are out of your control

That is true for social expectations gimme more pressure, tentang gimana seharusnya menjalani kehidupan di umur 25 or to get every single thing done at this age. Aku yang tidak memenuhi ekspektasi itu, lantas menjadi olok-olokan mereka dan bahan lelucon. I think it such a nonsense to put your expectations in others life.

I know other people’s perception of me ain’t my business. Nah, sebenarnya yang lebih bikin mental breakdown adalah comparing myself to others. Tekanan dari sekitarku emang terkadang membuatku menciut, tapi harusnya diriku tidak ikut hanyut kepusarannya.

Acap kali aku melihat momen yang dibagikan teman atau orang seusiaku dari sosmed. It was just frustrating me for the question what the heck I’ve been doing with my life. Somehow, life is so annoying when it comes to privilege. Membandingkan tidak akan membuatku menjadi lebih terlihat baik, yang ada malah overthinking.

Your dream can’t be the same with them as well as your struggle and the journey. Then, I’ve stopped to compared my life or my happiness and my sadness to someone else’s posts on their social media. Waktu untuk scroll sosmed jelas bisa kualihkan ke hal yang lebih berfaedah.

How life changing

Usia 25, di mana aku nggak bisa menyebut diriku terlalu muda dan aku juga menolak disebut terlalu tua. Usia saat aku merasa berada di persimpangan dengan banyak sekali pelajaran hidup dari ups and downs pengalaman di belakang untuk jadi bekalku tetap maju menantang dunia.

At this point, aku baru berhasil mengumpulkan keberanian untuk working toward to my dream job and obviously make a big career change. Mungkin bisa kukatakan ini seperti a pretty stressful starting point. Titik di mana dipenuhi dilema hati dan pikiran berisi deretan pertanyaan absurd yang belum kudapati jawabannya.

Aku belajar dari kesalahan dan pengalaman, mana hal yang kusuka dan ingin kulakukan dalam jangka panjang menjalani kehidupan orang dewasa. In the end, I am still learning how to be the best version of me. I’m now 25, and I am sure to more focused on what makes me happy, I am on track to found a brand new kind of me.

4 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *