Menunggu Ada Batasnya
Monologue

Menunggu Ada Batasnya

Ingat nggak ketika masa-masa masih berstatus mahasiswa tingkat akhir yang sering di php-in dosen?

Iya, ngampus juga perjuangan. Udah datang pagi tepat waktu. Nyampe kampus nungguin dosennya lagi, 10 menit… 20 menit… 30 menit… sejam pun berlalu. Ini dosennya lupa atau memang kebiasaan ngaret? Dicoba kirim pesan nggak direspon, telatnya sungguh terlalu sudah dua jam tapi nggak ada kabar. Amarah bergejolak dan muak banget nggak bisa dilampiaskan sama pelakunya.

Ilustrasi itu tentu sering banget kita dengar atau bahkan pernah kita alami saat berada di posisi orang yang ‘butuh’. Gimana kalau hal serupa terjadi di dunia profesional dan posisinya di balik, si dosen yang butuhin kamu. Kebayang gimana mendidihnya amarahmu ketika sudah bikin janji untuk meeting, sedangkan yang mau ditemui tidak jelas keberadaannya dimana? Hal ini aku alami kemarin.

Katakanlah aku sebagai mediator yang menghubungkan Pihak I dan Pihak II. Setelah berulang kali reschedule meeting akhirnya telah disepakatilah pertemuan saat makan malam di hotel dimana Pihak II menginap. Sore itu aku tiba bersama Pihak I ke lokasi 30 menit lebih awal, sekitar 18:30 WITA.

Saat sampai di lokasi dapat kabar ternyata pesawatnya delay dan masih belum mendarat. Fine, karena kami memang datang kecepatan. Sejam berlalu ada kabar baru katanya klaim bagasinya bermasalah. Karena harus menunggu lagi, aku dan Pihak I memutuskan mencari tempat untuk makam malam di sebuah warung nasi yang cukup terkenal tidak jauh dari bandara.

Hingga kami selesai makan dan waktu sudah lewat jam 9 aku sarankan meetingnya ditunda saja besok. Tapi Pihak II bersikeras tetap bertemu malam itu dan menjelaskan mereka sudah selesai dengan urusan bagasi dan segera menuju hotel. Fine, kondisi perut yang sudah tidak rewel masih bisa mentoleransi lebih dari 2 jam keterlambatan.

Padahal jarak dari bandara ke hotel itu tidak jauh tapi ntah apa lagi hambatan mereka. Hingga sejam lagi berlalu dan tidak ada kabar, dihubungi pun tidak bisa. Sumpah seketika ingin ngamuk aja mood ku jadinya. Belum lagi jadi nggak enakan dengan Pihak I yang mukanya udah sepet banget lebih-lebih asem jawa.

Jam di ponselku sudah hampir mendekati pukul 23 WITA, maka aku usulkan untuk pulang saja karena perlakuan kurang ajar Pihak II. Aku juga sampaikan lebih baik tidak usah mau diundang untuk meeting lagi jika begini caranya. Sebelum berpisah Pihak I menunjukkan layar ponselnya padaku. Dan ternyata dia ngecek jadwal penerbangan malam CGK – DPS ternyata tidak ada yang delay, say.

Padahal Pihak II ini yang katanya seorang bos besar perusahaan multinasional. BODO AMAT! Bos dari sudut bumi mana yang kelakuannya kayak sampah dan semena-mena begini dengan Pihak I yang selaku investor malahan. Gila, nggak habis pikir aku kelakuan manusia yang tidak bisa menghargai waktu orang lain.

Siapa sih yang suka dibuat menunggu? Dari kisahku itu kalian tentu ngerti bila ada di posisiku saat itu yang ditungguin tidak kunjung datang. Ingin kusikat saja jenis bos belagu begitu.

Well, we know that waiting is not an easy task. Menunggu itu menjemukan dan melelahkan. Sudahlah tenaga terkuras ditambah waktu yang terbuang percuma. Waktu yang tersia-siakan itu bisa jutaan kali berfaedahnya dipakai melakukan hal lain dari pada menunggu tanpa kepastian.

Menunggu memang bukan hal yang menyenangkan. Apalagi tanpa adanya kejelasan, semakin tidak sabaran tiap detiknya jenuh sekali. Membunuh waktu dan melumpuhkan kebosanan di kala menunggu tidak akan mudah. Hal itu dikarenakan otak kita terlalu fokus pada apa yang sedang ditunggu sampai tidak bisa fokus melakukan kegiatan lainnya.

Time felt slower when we do nothing but wait. Patience is not the ability to wait, but the ability to keep good attitude while waiting.

Joyce Meyer

Heran sih, emang ada ya orang yang senang banget dengan sengaja buat ditungguin biar berasa penting amat gitu. Kalau kamu benar tidak suka bahkan benci yang namanya menunggu, jangan pernah biarkan orang lain menunggu, orang lain pun tidak akan suka.

Bahkan etikanya ketika kita terlanjur membuat orang lain menunggu tapi kita berhalangan datang, tahu dirilah untuk segera mengabari jujur dan minta maaf dengan tulus. Jangan malah ngarang-ngarang alasan sengaja bikin orang lain menyia-nyiakan waktunya untuk sekadar menunggumu. Saat orang lain bisa menghargai kita dengan datang tepat waktu, maka tak ada alasan bagi kita untuk membuatnya menunggu lama.

2 Comments

  • Hastira

    betul ya, menunggu memang bikin menyebalkan, kadang orang suka merasa memang orang itu pantas menunggu karena dia merasa diirnya penting.

  • fanny_dcatqueen

    Tipe orang yg ngaret gini, udah apsti aku masukin blacklist. Jgn harap bakal mau berbisnis lagi Ama orang macam begini. Ga peduli dia bos atau bukan, tapi etikanya samasekali ga ada. Malah curiga dia pengusaha abal2. Percaya deh, pengusaha yg beneran, selalu menghargai waktu. Ga bakal dia sampe telat apalagi ke pertemuan meeting Ama investor.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *