Review Movie Cruella 2021
Movies,  Review

Movie Review – Cruella (2021)

Disney kembali mengangkat tokoh villain, kali ini dari cerita animasi 101 Dalmatians menjadi prekuelnya, Cruella De Vil. Ditayangkan bersamaan di bioskop Indonesia sejak 26 Mei 2021 dan Disney+, film arahan Craig Gillespie bernuansa London di era 70-an yang a bit dark of the glamorized evil tapi dengan unsur komedi yang cukup kental.

Film akan dibuka dengan kisah masa kecil Estella (Emma Stone) yang hidup bersama ibunya. Dia selalu diajarkan menjadi anak berbudi baik oleh ibunya. Namun Estella lahir dengan keunikan rambut yin-yang dan karakter pemberontak jenius. Dia selalu membuat ulah hingga dikeluarkan dari sekolahnya.

“I’m not a sweet Estella, try as I might I never was. I’m Cruella, born brilliant, born bad, and a little bit mad.”

Cruella

Ibunya lalu mengajaknya ke London tapi sebelum sampai di London sebuah peristiwa terjadi yang menyebabkan Estella harus kehilangan sang ibu. She blames herself for her mother’s death and makes her way to London.

Estella yatim piatu dan kesepian hanya didampingi anak anjing yang ditemukannya. Dia pun bergabung dengan dua orang anak jalanan, Jasper (Joel Fry) dan Horace (Paul Walter). Mereka bertahan hidup dengan menjadi sindikat pencuri amatir dan Estella bertugas membuat kostum mereka untuk beraksi.

Source: popsugar.com

Estella tidak melupakan mimpinya hingga berhasil bekerja sebagai designer di rumah produksi Baroness (Emma Thompson). Di sana dia pun menemukan fakta bahwa Baroness terkait dengan kematian ibunya. Dari sini dia menghidupkan kembali sosok Cruella demi membalaskan dendam.

Film ini sebenarnya menjelaskan motif di balik sosok psikopat Cruella dari 101 Dalmatians. I think she is a brilliant villain even as a young Cruella is not cruel enough here. I saw she is just a mad lady against an unfair world rather than as a real psycho but I’m perfectly okay with that.

Tidak diragukan lagi, Stone begitu lihai switch karakter dari gadis penyayang menjadi cewek barbar pendendam yang nggak kenal takut. Dua peran yang dimainkan sangat bertolak belakang tapi Stone membuat itu terlihat mudah dan tanpa celah.

Mungkin karena Disney ingin menyampaikan moral value untuk para gadis muda menggapai mimpinya, jadi sosok Cruella yang dibangun di sini agak kontras dengan tokoh versi animasinya. Jelas Cruella muda tidak segila dan tidak lebih ekstrem dari seorang Baroness. Thompson piawai mendalami karakter Baroness yang kuat dan mendominasi, tidak berubah jahatnya mengakar dari awal hingga ke ujung film.

Sementara seorang Estella kecil yang diajarkan ibunya untuk tahu cara menghargai orang lain dan tumbuh dewasa di lingkungan yang sulit demi bertahan hidup membuat seorang Cruella masih menyisakan kebaikan hati Estella yang tidak suka menyakiti siapa pun.

Source: rollingstone.com

Film berdurasi 2 jam 14 menit ini dibuat dengan visual estetik dari perpaduan berbagai kostum dan busana eksentrik, latar menawan dan ragam alunan musik berkolaborasi sebegitu detail ditempatkan pada masa perkembangan sub-culture punk dan rock n roll.

Durasi yang begitu lama tidak terasa membosankan buatku karena it was blend of drama and comedy. Aku banyak tertawa saat menontonnya, jadi genre komedi bisa kusebut berhasil karena konsisten menyisipkan humor yang mencairkan sisi sinematografinya yang dark. Terutama kecerdikan guguk kecil bernama Wink mampu menyedot perhatianku.

Overall, ini film milik Diney yang unik dan lumayan out of the box dari zona dongeng princess, juga serius banget tentang dunia fesyennya dan bakalan sesuai untuk kamu para pecinta dunia mode. Aku berikan skor untuk film ini 7/10 yang artinya it deliver much to enjoy and entertain. Namun, film ini diperuntukan buat penonton berusia 17 tahun ke atas ya.

Nah, kalau kalian sudah nonton filmnya, kasih tahu aku pendapat kalian ya di kolom komentar.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *