Movies,  Review

Movie Review – Midsommar (2019)

Sebenarnya udah dari akhir Januari atau sejak dua pekan lalu nonton nih film, itu pun karena racun orang kantor yang merekomendasikannya. Cuma rasanya gatel aja gitu kalo sampe gak nulis ulasannya di blog. And finally, tulisan ini up.

Midsommar merupakan karya kedua Ari Aster. Sebagai sineas baru di film horor, dia berhasil keluar dari kegelapan ala genre ini. Film horor pada umumnya senang sekali bersembunyi dalam teror bayang-bayang malam. Berbeda dengan film satu ini yang begitu minim latar gelapnya.

Sebaiknya siapkan cemilan dan air mineral sebelum memulai film berdurasi 147 menit (tanpa sensor) dengan alur lambat ini karena di awal film akan begitu membosankan hingga babak kedua dimulai yang berpindah ke latar suasana terang benderang.

Midsommar ini menceritakan tentang Danni Arbor (Florence Pugh) yang bergabung dengan kekasihnya Christian (Jack Raynor) dan teman-temannya untuk berlibur sekaligus menyelesaikan tesis antropologi mereka ke desa terpencil di daerah Halsingland, Swedia tempat asal Pelle (Vilhelm Blomgren). Sedangkan Dani ingin mencari ketenangan pikiran dan batinnya dengan liburan ini karena pada pembukaan film dia telah ditimpa banyak kemalangan.

Ide cerita Midsommar sebenarnya mengenai kandasnya hubungan cinta Dani dengan Christian. Sehingga penonton dapat merasakan pergulatan emosional antara pasangan kekasih ini yang mampu dikemas dengan apik, seperti layaknya konflik realistis kehidupan sehari-hari.

Di sana, mereka akan ikut bergabung dalam sebuah festival yang dilakukan untuk merayakan siang terpanjang dalam setahun. Festival ini disebut dengan Midsummer, yang dalam bahasa Swedia lebih dikenal sebagai Midsommar. Ini lah alasan mengapa adegan dalam film ini hampir secara keseluruhan dilakukan dengan cahaya matahari yang menyilaukan, tidak banyak adegan yang dilakukan dalam suasana yang gelap.

Ritual Perayaan Dimulai

Visual film ini begitu menawan yang jauh dari kesan horor. Kita akan diajak menikmati keindahan musim panas Eropa Utara yang penuh warna-warni bunga-bunga bermekaran, dedaunan dan padang rumput nun hijau yang menyejukkan mata, angin yang bertiup segar, serta minuman khas yang tampak menggoda liur. Lalu pemilihan dominasi putih untuk kostum disertai simbol-simbol yang ditampilkan sangat detail buat menambah unsur pembangun latar yang semakin meyakinkan.

Penampakan Dinding yang Penuh dengan Simbol-simbol

Liburan ini bagi mereka jauh dari kata menyenangkan setelah mengikuti ritual aneh dan mengerikan yang menampilkan adegan berdarah di depan mata tanpa basa-basi. Mereka seperti terperangkap dalam kumpulan suku barbar yang terbiasa melakukan ‘pengorbanan’ dan kegilaan gak bermoral lainnya dalam perayan itu.

Film produksi A24 ini diperuntukan bagi penonton berusia 21 tahun ke atas agar siap menyaksikan kebrutalan gamblang baik yang disengaja maupun tidak hanya demi sebuah ritual. Misalnya, adegan kakek nenek yang terjun bebas dari tebing tinggi kemudian si nenek mendarat di batu dan langsung mati dengan kondisi mengenaskan, sedangkan si kakek tergeletak di dasar tebing namun masih hidup dan terpaksa harus dimatikan dengan martil raksasa hingga rangka kepalanya gepeng remuk. Juga ada diselipkan adegan dewasa yang benar-benar ekplisit disorot meskipun jatuhnya jadi creepy gitu. Lalu ada adegan tubuh yang dibakar hidup-hidup secara ‘ikhlas’ pun akan dijadikan bumbu mencekam sebagai penutup akhir dalam film ini.

Ada sedikit efek magis dari sinematografi pada film ini yang membuat penonton tetap bertahan dan fokus menyaksikan Midsommar sampai akhir, kemudian barulah paham apa sebenarnya inti cerita yang ingin disampaikan oleh Aster.  Boleh jadi ditopang pula dengan akting Florence Pugh yang sangat mencuri perhatian dan mampu mengaduk emosi penonton. Tapi, totalitas karakter si Dani yang oke tidak diiringi dengan tokoh lainnya yang perkembangan karakter mereka nggak signifikan. Ini bisa termaafkan dengan efek psikologis yang cukup ‘nyampe’ saat menikmati film ini.

Namun, ada satu hal yang mengganjal bagiku di babak pertama yang awalnya kita benar-benar dipaksa memahami situasi Dani si tokoh utama. Keluarganya yang telah tiada dan juga betapa toxic hubungan asmaranya dengan Christian. Dani yang jelas sebenarnya butuh dukungan emosional dari kekasihnya tidak mendapatkan itu, yang ada Christian justeru merasa terseret dalam drama kesedihan ceweknya. Perkara tragedi pada keluarga Dani itu menurutku terlalu kompleks bila hanya untuk menggambarkan perasaannya Dani. Aku sempat terkecoh mengira akan ada koneksi antara peristiwa pembuka ini ke akhir cerita, tapi ternyata tidak.

Secara keseluruhan, bisa kukatakan ini salah satu film horor yang benar-benar ‘sinting’. Mengangkat tema sekte dan surealis, Aster mendatangkan kengerian atau perasaan resah pada penonton bukan dari jumpscare lebay, melaikan dari bentuk teror berdarah dan kesadisan ritual dengan scoring yang segitu disturbing parahnya persis di bawah cahaya matahari.

4 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *