Movies,  Review

Movie Review – The Boy II: Brahms (2020)

The Boy II: Brahms telah rilis 19 Februari 2020 lalu dengan arahan dari William Brent Bell. Masih dengan formula yang sama yakni teror boneka menyerupai manusia yang dirasuki roh.  Seri pertama di tahun 2016 meraup keuntungan fantastis yang tentu menjadi pemicu dibuatnya seri kedua film horor ini. Menceritakan tentang Liza (Katie Holmes) dan suaminya, Sean (Owain Yeoman) yang guna menghilangkan trauma dan mimpi buruk akibat perampokan di rumahnya memutuskan untuk pindah sementara waktu ke sebuah rumah di tengah hutan bersama anak mereka Jude (Christopher Convery) yang juga akibat kejadian itu mengalami selective mutism.

Suatu hari, Jude menemukan sebuah boneka porselin laki-laki bernama Brahms tekubur dedaunan di hutan dekat sebuah rumah besar tak berpenghuni milik keluarga Heelshire dan membawanya pulang ke rumah. Dimulailah kejadian-kejadian misterius bin gaib menimpa keluarga kecil ini ulah teror dari boneka Brahms. Jude lalu memberi tahu beberapa aturan main dari Brahms seperti tidak boleh menerima tamu, tidak boleh menutup wajah Brahms, dan memberikan pakaian baru setiap hari untuknya. Brahms akan murka bila mereka melanggar peraturan itu.

Sosok Brahms

Stacey Menear juga masih memiliki andil sebagai penulis naskah, namun film kedua ini dirasa tidak ‘sehidup’ kisah awalnya yang memberikan plot twist bombastis di ujung film. Justeru, sekuel ini dirasa tidak cerdas dengan mengambil jalan pintas menggunakan trik horor dari boneka berhatu yang dipaksa masuk melalui cerita sang penjaga rumah, Joseph (Ralph Ineson) mengenai kisah teror sejak jaman nenek moyang keluarga Heelshire. Sehingga banyak sekali plot hole yang tidak begitu klop dengan kisah The Boy.

Membahas mengenai eksplorasi karakter pun boleh dikatakan tidak menjanjikan. Kurangnya emosional setiap tokoh tidak juga membantu menyokong menyampaikan penggambaran suasana dalam film. Yang cukup mencuri perhatian datang dari karakter Jude yang memiliki perkembangan karakter paling dominan. Di awal film bocah ini seperti bocah umumnya yang periang dan jahil namun seiring kedekatannya yang intens dengan Brahms menjadi bocah pemurung misterius.

Selain itu, dari segi visual film ini memang tidak begitu suram tapi sisi menyeramkan sosok Brahms ditampilkan lumayan mengintimidasi dengan kehadirannya dibeberapa scene, namun, kengerian itu enggak banyak terasa di Brahms: The Boy II jika dibandingkan dengan film pertamanya.

Menurutku ada satu yang sukses dieksekusi dalam film ini adalah scoring-nya. Pemilihan alunan musik instrumental di film ini berhasil mendukung suasana yang ditampilkan. Penonton mungkin benar-benar kaget untuk babak awal film saat ada adegan jumpscare yang ditambah efek suara yang ‘ngena’ sayangnya kengerian ini tidak berlajut hingga ujung filmnya.

Secara garis besar, Brahms: The Boy II mengecewakan buatku karena tidak memberikan sensasi yang minimal serupa dengan pendahulunya. Namun, bila kalian belum pernah nonton The Boy mungkin film ini cocok ditonton.

2 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *