Myself and I
Monologue

Myself and I

Malam minggu lalu, aku dan teman-temanku secara dadakan ngumpul bareng kawan lama. Sore harinya ada ajakan seorang teman yang sangat ingin temu kangen karena dia dinas di luar kota dan pasti jadi sangat sulit ke Palembang untuk sekadar bertemu kami.

Yeah, jadilah! Temu kangen dadakan terlaksana dengan dihadiri beberapa orang. Kami menceritakan banyak hal yang terjadi dan juga mengenang masa-masa indah saat masih berseragam putih abu.

Sebenarnya saat masih duduk di bangku sekolah I felt like there are no friends in this life. Sebabnya karena teman-teman dekatku menjauhiku tanpa alasan yang jelas. Aku tidak tahu kenapa mereka bisa setega itu membuat masa putih abu-abu itu terasa kelam. Untungnya aku masih mempunyai teman dari kelas lain.

Flashback ke enam tahun lalu, aku merasa benar-benar lelah dan sangat tidak bersemangat untuk bangun pagi dan menghabiskan waktuku seharian di sekolah setiap hari. Ntahlah, mungkin karena tidak ada yang peduli denganku.

Aku lebih sering duduk sendirian dan membaca novel tebal di saat teman-teman lain sedang asik menghabiskan jam kosong dengan bermain dan berkumpul saling bertukar cerita.

Aku menghabiskan waktuku sendirian. Pergi ke toilet sendirian, duduk di kelas sendirian, makan di kantin bersama anak kelas lain dan berjalan pulang ke pintu gerbang sekolah sendirian I feel weird about what happened back then.

Lalu ketika sampai di rumah, aku merasa tenang dan bahagia, waktu sendirianku telah selesai. Aku berhasil berdamai dengan kesendirian dan bisa menerimanya. Fakta bahwa aku keseringan menghabiskan sisa hariku di sekolah hanya dengan diriku, was not so bad.

Hal yang paling aku sukai saat sendirian adalah aku duduk di depan kelas terpaku menyasikan ada banyak teman-teman lain yang sedang bermain bola. Aku suka memperhatikan mereka semua dan ikut tertawa saat mereka membuat lelucon konyol, kukira itu cukup menyenangkan.

Aku masih dapat tertawa dan sebisa mungkin membuat diriku bahagia bahkan ketika aku sendirian. I don’t need anybody else, it’s just myself and I. Aku pun juga merasakan sedih ketika aku akan segera tamat dan harus meninggalkan semuanya hingga yang tersisa tinggal kenangan.

Kesendirian pun berlanjut saat aku duduk di bangku kuliah. Aku tidak ingin terlihat di antara rombonganku dan menjadi pendiam. Aku cuma menganggap mereka sebatas teman kampus dan tidak mungkin menjadi sahabat selamanya, people just come and go.

Semakin dewasa aku menjadi sangat nyaman dengan kesendirian dan sudah terbiasa. Pergi ngemall sendirian, cari kerjaan sendirian dan ikut kursus bahasa sendirian bahkan aku juga tidak segan untuk makan sendirian di cafe. Setelah menjalani itu semua, aku tahu I just need myself.

Aku menceritakan pengalamanku ini untuk bilang sendirian bukanlah hal yang aneh, itu adalah hal yang luar biasa. Karena ini bisa membuat kamu lebih berani dengan lingkungan yang memaksa kamu mandiri dan pastinya semakin mengenal dirimu lagi. So, never be afraid to be alone.

4 Comments

  • Ovelia

    Hai, aku pernah begitu, kemana-mana sendiri. Biasanya aku menyebut itu sebagai ‘me time’ dan aku melakukan itu saat pikiran benar2 minta di manjakan. Pernah aku pergi makan sendiri, ada rasa tidak nyaman awalnya, karena banyak mata yang seperti melempar tanda tanya. Atau itu hanya perasaanku saja. Tapi itu jadi pengalaman unik. Bener banget kalau me time itu menyenangkan, tapi aku pun berusaha untuk belajar ‘bersama yang lain’ agar mampu menerima setiap perbedaan. Lakukan pelan-pelan, sebisa… dan itu cukup menyenangkan juga. Sendiri memang tidak aneh, tapi untuk bersama siapapun juga bisa mencobanya, termasuk aku atau kamu, pelan-pelan…

  • Just Awl

    Holaaa mbak Icha dan Navia! It’s been a long time sejak aku main² ke blog ini🤧 Apa kabarnya mbak?

    Aku setuju bahwa sendiri itu bisa jadi momen untuk kita lebih berani, mengenal diri sendiri, dan nggak mudah bergantung dengan orang lain. Kita jadi lebih tau kapan saatnya kita membutuhkan orang lain, dan kapan saat kita butuh space untuk sendiri. Kadang aku suka sedih kalo ketemu sama orang yg meledek orang² yg jalan ke mall sendirian. Mereka pikir hidup harus abring²an terus kali ya😂 padahal kalau udah tua pun, kelak mereka akan sendiri. Dan nanti mati pun akan sendiri di liang kubur🙄.

    • Ichaasa

      Alhamdulillah mbak aul! We are good.

      Bener banget nih komennya! Padahal bisa jadi orang yg pergi sendirian itu lebih bahagia dari pada pergi rame2 sama temennya🤗

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *