Monologue

Our Resolutions for 2020

Kontemplasi Desember

 

Adakah yang merasa bahwa tahun ini adalah tahun yang panjang? Mungkin ada. Namun, percaya atau tidak, mayoritas pasti mengatakan, “Gak terasa setahun cepat sekali berlalu.”

2019 will soon be over. Yap, sekarang kita hampir tiba di tahun yang baru. Hanya tinggal satu tikungan terakhir yang jarangnya kurang dari 24 jam kita akan sampai. Sekarang pertanyaannya, apa yang sudah berhasil kita capai di tahun ini? Dan apa rencana kita untuk tahun depan?

 What are the goals we have achieved?

Beragam sekali ritual penyabutan atau lebih enak disebut perayaan tahun baru yang kita persiapkan. Mulai yang heboh dan spektakuler hingga hal wajar yang bersifat krusial, seperti menetapkan resolusi tahun baru.

Aku pribadi konsisten melakukan hal wajar itu setiap penghujung tahun. Dalam hitunganku, ini sudah tahun kesembilan, aku melakukan tradisi itu. Setiap akhir bulan Desember aku biasanya akan memikirkan hal ini. Setiap kali memirkannya, aku pasti merasa malu. Malu karena melakukannya mirip seperti semangat kebohongan.

Illustration : newsthump.com

Tiap kali aku akan membuatnya dan menyusun resolusi itu, secara otomatis akan dilakukan peninjauan dan evaluasi pada resolusi yang kubuat untuk tahun ini. Bila diungkapkan dengan angka sungguh mencengangkan, karena belum pernah pencapaianku menembus angka lima puluh persen.

Ironis. Benar sekali. Hal ini tampaklah menjadi kepalsuan. Tetap saja tidak ada progress berarti. Mungkin aku tidak memiliki cukup komitmen serta niat untuk memulai resolusi. Boleh jadi aku hanya menginginkannya sesaat tanpa mau berusaha serius memberikan tidakan nyata untuk menggapai hal-hal yang kuinginkan. Jadi, seperti tindak kejahatan pada diri sendiri. Memberi harapan palsu bahwa kamu pasti bisa berubah. Resolusi itu telah membohongi dirimu. Bahkan ketika kita berusaha mengatasi agar resolusi kita berjalan sesuai rencana, sesuatu yang sedikit lebih kuat mengambil alih otak kita, yaitu kekuatan kebiasaan. Kekuasaan rutinitas membekukan tekat yang menggelora seiring berjalannya waktu.

Tanpa terasa sehari berlalu. Resolusi itu masi menempel kuat. Kemudian seminggu terlewati, resolusi masih berkobar panas menyala. Lalu sebulan berlalu, resolusi itu masih tetap mengikat. Tiga bulan berjalan dan resolusi itu masi ada diingatan. Hingga tanpa disadari saat tiba dipertengahan tahun resolusi itu telah tertimbun oleh rutinitas dan serupa wacana semu semata yang dihempas kejamnya realita. Namun, dia pasti kembali kuat dan berubah jadi beban pikiran ketika yang tersisa hanya beberapa hari saja menjelang penutupan tahun. Tentu saja, tidak mungkin mendapat ekstensi atas tahun ini untuk memperbaiki angka yang tadi. Menyedihkan, bukan?

Yang tertinggal kini cuma sebuah penyesalan. Ngapain aja aku setahun ini?


Ini sebenarnya melelahkan. Gagal mencapai resolusi tahun ini, lalu apa lagi yang bisa diperbuat selain melakukan perbaikan. Kembali kita akan merenung. Menemukan letak masalah dan kekurangan diri ini, menyusun rencana, menetapkan langkah, dan meyakinkan diri untuk berubah. Maka terciptalah resolusi (lagi). Yang berbeda hanya kadar tekad yang dimiliki saat proses perumusan resolusi itu. Seperti itulah siklus melelahkannya.

Memuakkan? Iya.

Ia direncanakan di awal, namun tidak pernah diwujudkan. Namun begitu, kita tetap tidak pernah berhenti membuatnya. Mengapa kita mau terus repot-repot menyusun resolusi baru meski terus saja gagal dan tidak sepenuhnya berhasil terealisasi?

Sebenarnya, manusia itu makhluk perencanaan. Memiliki keahlian membuat segudang langkah yang menurutnya baik, namun tidak semua manusia bisa menuntaskan langkahnya. Bagiku, menyelesaikan resolusi itu masih sebuah misteri. Karena dalam hidup kita akan selalu membuat resolusi untuk perbaikan. Itu kabar baiknnya, kita telah memulai langkah awal yang menunjukkan untuk mau berubah.

Hanya saja, seberapa teguh kita mengupayakan resolusi yang sudah dibuat?

Selama sembilan tahun ini, aku telah diserang syndrome tahun baru. Aku akan terus menetapkan resolusi, entah bagaimana dengan kalian. Tahun baru ini hanya momennya saja tidak berpengaruh selama selalu ada keinginan untuk lebih baik, resolusi pasti tercipta dari ekspektasi tersebut. Inti misterinya adalah menemukan alasan untuk berkomitmen menyelesaikan resolusi yang telah terlanjur dibuat.

What are our new year’s resolution?

  1. Getting New Job
  2. Getting New Room Mate
  3. Getting Married Soon

Cuma tiga itu saja yang kutetapkan untuk tahun 2020. Detailnya tidak perlu kujelaskan di sini, cukup lah aku dan dia yang paham ketiga hal itu. Tugas kita adalah mengupayakan usaha terbaik untuk ke arah itu dan sisanya biarkan menjadi misteri rencana terbaik yang Tuhan siapkan. Semoga paling tidak perolehan angkanya mencapai 75% yang terkabul dari doa-doa dan usaha keras yang kukerahkan. Aamiin…

Illustration : amazon.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *