Good Friendship
Monologue

Pendengar Terbaik

Kalian tau mengapa banyak orang yang memilih curhat di sosmed? Kebanyakan karena ingin orang lain bersimpati dengan masalah yang sedang melandanya. Sebagian lagi karena kurangnya persahabatan di dunia nyata, padahal yang dibutuhin hanya pendengar yang baik atau cuma social support aja. Karena tidak ada satupun orang di sekeliling mereka yang dapat dipercaya menyimpan cerita rahasianya, kisah galaunya dan dilema yang menghimpitnya.

Jelas, curhat di sosmed tidak menjamin kamu akan dapat dukungan moral atau motivasi dari pertemanan online maya itu. Lagian, jejak media itu tidak bisa dihapus loh, nggak aman juga nulis rahasia di sosmed. Sungguh nggak ada yang salah dengan sesekali berkeluh kesah di lini media pribadi. Tapi lebih disarankan kita punya sahabat terpercaya berbagi curhatan pahit.

Kebutuhan untuk didengarkan akan lebih terlampiaskan jika kamu bisa leluasa bercerita dengan sahabat atau orang terdekatmu. Biasanya aku selalu jadi pendengar, tapi aku juga pernah pernah ada di posisi yang begitu ingin didengarkan. Dan dari secuil orang yang kuhitung sebagai sahabat hanya wanita ini yang saat itu sangat hangat menjadi tempat curhat dadakanku.

Hari itu benar-benar terasa berat dan menyesakkan untuk tinggal dirumah. Permasalahan garis besarnya begini, kalian tau, saat orangtua menitipkan harapannya di pundakmu tapi kamu tidak cocok dengan sosok harapan anak kebanggaan versi orangtuamu. Ketika kamu berusaha jujur dan mengungkap isi hatimu kepada ibumu, malah langsung dihujat anak durhaka karena tidak nurut perkataan orangtua.

Aku yang linglung ke luar mencari angina, berusaha menjernihkan pikiran hinga hujan-hujanan. Beli nasi bungkus hanya bisa tertelan tiga suap. Sungguh aku butuh teman untuk cerita. Dengan problematika segitu njelimet dan blunder aku hanya terpikirkan dia seorang yang pasti mengerti posisiku. Setelah obrolan dipertemuan sebelumnya serasa sefrekuensi kembali walau bertahun-tahun tidak ada komunikasi terbuka.

Aku hanya mengirimkan pesan, ‘aku mau cerita’ dan selang setengah jam dia menanyakan keberadaanku dan dia akan datang nyamperin aku, karena saat itu memang sedang hujan deras. Kami bertemu dan aku berkeluh kesah menceritakan duduk masalahnya di mobilnya. Karena hujan tak kunjung reda, dia mengajakku untuk ke rumahnya. Perspektifku pun jadi terbuka mendengarkan bagaimana dulu dia melalui masalah yang serupa.

Dia sahabatku yang dulu dan telah kembali jadi aku masih ingat bagaimana rekam jejak prilakunya pada orangtuanya. Saat itu aku tidak mau ikut campur karena pola pikirku dulu tentu saja salah yang namanya melawan orangtua. Namun, di hari itu aku jadi bertanya-tanya kemana dulu tempat peraduannya menghadapi situasi rumah yang memanas persis seperti yang kuhadapi.

Beruntungnya aku bertemu dia lagi. Dia hadir di waktu yang tepat, sungguh dia menyelamatkanku dari situasi yang sampai aku kepikiran untuk kabur dari rumah. Bukan sebuah solusi yang terbesit saat kamu sedang kalut, malah akan semakin memperkeruh masalah yang ada. Dia berhasil meyakinkanku bahwa jalan satu-satunya adalah membujuk dan meberikan jaminan kepada orangtuaku.

Dia bahkan menawariku bantuan untuk keesokan harinya. Itu benar-benar berhasil menenangkan aku yang sedang kacau. Aku sangat bersyukur dan berterimakasih telah ada di hariku yang begitu berat sebagai tempatku melepaskan semua perasaan kusut hari itu. Satu hari yang seperti berhasil menebus ketidakbersamaan kami dalam ratusan purnama. Dia tetap sosok yang sama, masih pengertian, suportif dan penuh perhatian.

So please, jangan sepihak menilai orang, kamu tak tahu apa yang telah dilaluinya. Kamu mungkin mendengar ceritanya, tapi kamu tak tahu apa yang dirasakan hatinya. Jadilah pendengar yang baik. Sungguh itu akan sangat berarti banyak bagi teman kita yang sedang terpuruk. Beri mereka ruang untuk menumpahkan pengalaman tidak menyenangkannya dan perasaan ruwet yang sedang dialami hingga tuntas, jangan menyela. Cukup dengarkan saja.

Tunjukkan rasa simpati dan bangun interaksi yang nyaman buat mereka. Tidak menggurui, tidak menghakimi, dan tidak memihak. Berikan argumenmu nanti berupa opsi-opsi saran yang tidak memberatkan. Membantu dorongan moril itu sangat-sangat berharga. Mendengar untuk mengerti akan jauh lebih baik daripada mendengar untuk menggurui.

One Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *