Sad but true
Youth

Perasaan Lega Namun Tak Puas

Seperti judulnya, pernah kah kalian berada di posisi itu? Merasa lega telah melampaui atau melewati kecemasan tapi mendapati hasilnya tidak sesuai ekspektasi sendiri?

Ceritanya, kemarin aku baru saja melalui sempro. Akhirnya, dapat pemberitahuan jadwal semproku itu pas tanggal 4 Agustus. Nah, artinya aku punya waktu tiga hari menyiapkan bahan presentasi. Rewind dan belajar lagi deh. Apaan isi proposal sendiri yang banyak lupa dan bentuknya udah berdebu karena lama terpinggirkan di pojokan meja.

Tiga malam itu sepulang kerja langsung bergegas mandi dan nerus duduk manis lagi depan laptop. Pasang timer dan ngoceh sendiri depan cermin. Berlatih dari pembuka sampai akhir slide jangan sampai lewat dari sepuluh menit. Urusan ngepasin penjelasan sama waktu ini buatku susah bener. Baru sampai pertengahan, eh, timer udah nyaring berdering. Ntah udah berapa kali pengulangan hingga aku tuh nggak perlu lagi ngintipin isi slide.

Terus, aku sempetin juga tanya ke tante google pertanyaan yang kiranya akan ditanyakan penguji saat sempro. Berlakon tunggal di hadapan cermin sebagai penguji dan yang diuji. Riweuh sendiri aku tuh pokoknya.

Mana tidur nggak nyenyak. Makan nggak banyak. Rapat nggak nyimak. Semakin dekat harinya semakin nggak karuan otakku. Risih banget deh perasaanku, cemas gitu bawaannya. Baru juga sempro sih, koq aku tuh selebay ini.

“Maaaaaaak, anakmu mau sempro nih, doain ya!” Jeritku di telepon dua belas jam sebelum sempro onlen dimulai. Besoknya, aku bela-belain cuti tuh. Padahal mau nabung cuti ntar buat mudik akhir tahun. Yaudahlah, biar nggak boleh ada distraction kerjaan yang gangguin fokus perhatian.

Tiga puluh menit sebelum sempro onlen dimulai, aku benar-benar dah siap tempur. Instruksi moderator agar gabung sepuluh menit lebih awal ke google meet kuturuti. Dan yang bener aja, ternyata kesiapan diriku tidak imbang dengan kesiapan gawaiku. Panik tingkat semesta kan aku pagi itu. Mendadak siaran film bisu aku di hadapan mereka.

Masalah teknisnya itu karena mic yang nggak mau nyala. Suaraku nggak bisa terdengar oleh peserta lain. Tanda seru pada icon mic bilang kalau mic otomatis dimatikan oleh pengaturan sistem. Para dosen udah mau gabung pula. Bingung parah aku kan jadinya.

Terus, moderator nyaranin coba pakai laptop lain. Duh, pagi-pagi terpaksa gedor kamar sebelah buat pinjem laptopnya. Udahku trial juga dan ntahla sama aja, nggak nyala juga. Tes lagi dengan headset, tapi percuma. Para dosen udah gabung dan aku jadi biang kerok molornya waktu sempro.

Kacau gila perasaan aku dibuatnya. Udah lah hati ini nggak enakan, jelas merasa bersalah tapi juga aku nolak semproku kena pending. Adalah kira-kira sejaman mereka mentolerir aku menunda sempro, hingga salah satu dosen mengizinkanku tetap mengikuti sempro dengan menggunakan ponsel. Materi presentasiku bisa minta bantu ditampilin oleh moderator.

Kami bergilir akan menyampaikan isi proposal kemudian baru para dosen menanggapi. Peserta satu kelar, lanjur peserta dua yang juga mulus. Tibalah giliranku diurutan terakhir, sayangnya, kemalangan masih membuntuti. Moderator melaporkan slide milikku tidak bisa nampil. Alamak, ngenes banget nasipku mau sempro aja begini banget blundernya.

Apa salah dan dosaku sampai dirundung kesialan begini, Tuhan?

Karena ogah lagi menyita waktu berharga yang jadi sia-sia, moderator mempersilahkan dosen-dosen itu mengomentari presentasi kedua peserta terlebih dahulu. Dua jam berlalu dengan ceramah yang teramat panjang dari penguji yang mengoreksi a sampai z proposal kedua peserta itu. Aku anteng menyimak. Mendengarkan dengan seksama kesalahan yang mungkin juga kulakukan.

Ntahlah, penderitaanku boleh jadi memang tidak bisa dipecahkan. Aku tuh udah keringat dingin, takut apa yang bakal diputuskan mereka. Namun, secercah rasa simpati penguji mereka yang sebenarnya adalah pembimbingku bermurah hati mau membelaku. Memberi pengertian pada dosen penguji untuk mentolerir kesalahan teknis yang terjadi dan mau menjaminku. Elah, mendadak terharu aku tuh.

Selama penulisan proposal, aku dibimbing oleh dosen Magister yang bikin aku keblinger sendiri ngukutin standar karya tulis beliau. Ketika kawanku lainnya lancar jaya ngebut gitu dapet acc pembimbing, aku masih berkutat dengan narasi fenomena dan riset gap.

Sintingnya, sempat dua kali rombak lagi untuk ganti topik disuruhnya. Belum lagi rujukan jurnal yang diminta minimal itu sebanyak 30. Asli deh, aku mabok beneran. Sedihnya, pelampiasan buat saling berkeluh kesah nggak ada, karena aku nggak tau siapa lagi yang senasib kebagian dospem dengan beliau ini.

Cuma ya itu, aku yang udah tertatih dan terseok-seok selama menggarapnya sampai paham kali ya dospem aku tuh. Aku kayak langsung menghembuskan napas lega dan mau mewek beneran waktu beliau bilang, “Yaudah, saya sudah lihat slide dia dan sudah pas semua. Karena saya yang bimbingnya, bapak-bapak kita anggap dia sudah paparan saja ya. Saya yang akan jamin. Sekarang, silahkan berikan saja anak ini masukan yang dirasa perlu diperbaiki lagi dari proposalnya.”

Gitu deh, curhatanku soal drama sempro onlen yang kulalui. Aku lega bisa melewati satu stage ini dan lanjut bergerak maju lagi. Hanya perasaanku tetap nggak puas, sebabnya aku belum menapilkan hasil usaha maksimalku untuk itu. Nampaknya, itu seperti nerima rasa belas kasih dosen doang. Hiks!

Kemarin adalah hari yang sungguh berat untuk mentalku nerima hasil yang begitu pasrah. Untungnya, perasaanku yang gundah bisa sedikit terobati dengan coklat hasil giveaway dari mba Eno. Makasih banget mb, timingnya bisa pas gitu. Hahaha terus aku curhat ke emak dan cuma disaranin bawa tidur aja biar cepat lupa deh.

Mungkin aku mesti mengartikan dibimbing beliau itu sebagai suatu kemujuran untukku. Iya, rasanya ini juga patut kusyukuri sekarang. Ah, udahlah, moga aja ntar pas ujian kompre nasib baik yang mengiringiku dan usah ada lagi yang namanya drama. Cekat cekitt juga jatungku dibuatnya.

4 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *