Monologue

Punya Bos Rasa Kawan

Hola! Kalian pada sehat, kan?

Masih WFH atau udah WFO, nih? Jadwalku dalam seminggu lebih banyak WFO malah. Di kantorku, selama WFO tidak seluruhnya pekerja hadir. Setiap departemen punya jadwal sendiri untuk pekerjanya kapan WFH dan giliran mesti WFO. Suasana kantor tetap aja sepi, walau pasti bakal ada perwakilan per departemen yang ngantor setiap harinya. Anehnya, suasana tenang di kantor begini justeru bikin aku kerja lebih semangat.

Biasanya di kantor aku rentan banget diserang ngantuk tapi rasanya selama puasa ini aku malahan jadi lebih produktif kerjanya. Bisa menyelesaikan banyak kerjaan lebih cepat. Gak bisa dipastikan juga kenapa bisa begitu. Intinya sih lebih menyenangkan dan ringan gitu bawaannya ngerjain tugas-tugas yang menumpuk.

Bila berdasarkan analisisku boleh jadi faktor kenyamanan yang buat aku lebih produktif. Karena kayaknya tim di departemenku jadi lebih solid dan kompak gitu untuk mensiasati situasi ini. Pastinya juga karena pengaruh sang leader dong ya. Aku pernah baca kalau peran seorang leader juga bisa memotivasi kerja kita semakin produktif gitu.

Kalo menurut kalian sosok atasan idaman itu gimana?

Menurutku, tipe bos idaman itu sesuai banget seperti Pak Bos. Pak Bos satu ini orangnya tuh kelewatan seru, friendly abis, easy going, dan sama sekali gak bossy. Siapa yang gak betah punya bos rasa kawan, ya gak? Rutinitas kerjaan yang monoton bertemu tim yang solid dan bos yang asik gak bakal bikin cepat bosan deh di kantor.

Namun, kemarin timku baru saja melepaskan lagi Pak Bos yang mesti pindah tugas. Agak sentimentil gitu bawaannya pulang kantor kemarin. Sedikit terharu aku tuh, pasalnya Pak Bos ngasih kenang-kenangan ke para ladies di lantai dua sebelum dia cabut. Kapan pula Pak Bos ini sempet nyiapin bingkisan manis ini?

Souvenir terakhir dari Pak Bos

Hampir tiga tahun aku bekerja di kantorku dan sudah tiga kali pula aku bertemu tiga orang karakter leader yang berbeda. Persamaan ketiganya tentu saja sosok yang smart luar biasa menjadi boss material utama, tapi bedanya adalah masing-masing punya gaya kepemimpinan yang khas.

Lima bulan pertama saat aku masih sebagai anak magang (ntar kucurahin gimana rasanya tamat kuliah langsung magang di tulisan tersendiri ya), aku sempat bertemu Bu Bos yang super periang, ramah, senang bercanda dan mungkin seru juga orangnya. Hanya saja karena di akhir masa tugasnya Bu Bos ini sangat jarang ada di kantor. Beliau lebih sering tugas di Jakarta. Nah, makanya tanda tangan beliau kebanyakan diwakilkan sama Mr. Bos departemen sebelah yang pada tahun itu timku dan tim sebelah masih melebur jadi satu. Jadinya aku pun kurang mengetahui gimana kepemimpinan Bu Bos ini.

Selanjutnya ada Mr. Bos yang akan selalu berkesan untukku karena berkat jasa beliau ini aku menerima kontrak pertamaku. Adalah sekitar hampir delapan bulan Mr. Bos menjadi atasanku. Sosoknya gak banyak omong, serius tapi gak kaku, dan time target oriented. Yes, disiplin parah dan asli cekatan banget orangnya. Matanya tuh udah kayak scanner yang sekilas aja kalau membaca angka dan tagihan yang gak mungkin bakal berhasil lolos darinya kalo nominalnya gak logis. Untungnya Mr. Bos ini masih punya sisi humoris jadi sama sekali gak bikin urat dan otot kaku.

Dan kebaikan lain yang bikin Mr. Bos ini disenangi adalah beliau gak segan mengapresiasi bawahannya dengan suka hadiah-hadiah kecil. Lalu betapa beruntungnya aku bisa masuk resto mewah dan merasakan makanan yang gak mungkin kubeli sendiri setiap bulan karena Mr. Bos pasti selalu nyempetin sekali dalam sebulan itu untuk agenda dinner team building. Bersama di meja makan ini Mr. Bos menunjukkan sedikit sisi personalnya yang fleksibel dan berpikiran terbuka dengan sharing tetang banyak hal di negaranya yang membedakan dengan Indonesia dan juga enak lah bisa tertawa bercanda.

Sekitar April 2018, Pak Bos akhirnya dateng nih. Secara resmi handover kerjaan dari Bu Bos. Dan Mr. Bos masi stay saat itu, walau gak lama akhirnya datang juga penggati Mr. Bos yang lebih muda lagi. Tapi yang muda ini malah sama sekali gak asik, jenis yang kaku banget dan tipe orang perfeksionis. Atasan eksklusif gitu. Aku bakal skip Mr. Bos muda ya, karena emang dia bos depatemen sebelah. Ada pemisahan fungsi departemen yang aku lupa persisnya kapan. Jadi, mari bahas Pak Bos saja.

Paling gercep diajak lunch bareng

Pak Bos ini umurnya sekitar pertengahan 30an dan tipe yang kalem banget tapi asik.  Bukan tipe atasan yang sulit didekati. Pak Bos emang sosok yang hangat, dekat dan terbuka dengan anggota tim. Bahkan rasa-rasanya kayak nggak ada hirarki dalam tim. Berinteraksi dengannya udah gak pake canggung lagi atau gugup gitu kalo pun mau ngungkapin permintaan. Curhat tentang kehidupan personal, makan siang bareng sambil ngerumpi dikit bahas kelakuan orang-orang ajaib di kantor dan saling melempar lelucon ketika nobar dan main bowling. Mana ada tuh yang namanya neraka saat bekerja. Dua tahun yang benar-benar seru punya atasan seperti Pak Bos.

Ditambah lagi Pak Bos orangnya super duper baik parah, deh. Dia bukannya gak pernah marah. Pernah kok, tapi bukan yang suka meninggikan suara gitu sampe meledak-ledak gak karuan mirip kompor meleduk. Tim aku pun rasanya gak pernah ada yang kena semprot. Kalaupun kami melakukan kesalahan dia gak pernah marah ke kami, palingan cuma diajak diskusi gimana solusi memperbaikinya. Lalu, diingatin jangan sampai ceroboh. Kemudian Pak Bos sering memberi masukan dan kritik membangun untuk anggota tim.

Aku pun bersyukur banget Pak Bos rangkap jabatan di kantor juga sebagai Act. HRGS Manager. Dan satu-satunya yang ngasih aku restu buatku nerusin pendidikan. Waktu itu aku bahkan sempat nulis surat secara resmi ke kantor untuk diberi toleransi menghadiri perkulihan yang di kampusku itu waktunya sore. Berkat kebaikan dia juga aku bisa curi-curi waktu buat kuliah. Ntar juga bakal kutulis gimana perjuangan aku kerja sambil kuliah dan dapetin izin kantor untuk itu.

Balik lagi dengan betapa baiknya Pak Bos ini. Di saat perusahaan lain banyak yang terpaksa merumahkan karyawannya dalam kekacauan ekonomi sekarang ini, lain halnya dengan kantorku. Saking baiiiik banget Pak Bos nih, anak magang dibelain loh biar tetap nerima uang saku walaupun mereka gak diberikan tanggung jawab alias gak ada kerjaannya selama pandemik ini. Enak banget. Coba bayangkan itu? Kurang murah hati gimana lagi coba Pak Bos satu ini?

Jangan salah artikan judul tulisan ini. Kedekatan kami dengan Pak Bos juga bukan yang berlebihan. Masih pada batasan normal. Pak Bos berhasil membangun sebuah โ€˜ruangโ€™ yang luas dan begitu nyaman dalam sebuah hubungan professional. Makanya aku gak sebut sebagai sahabat karena ini murni a comprehensive-leadership not friendship. Kalo kebablasan bisa hilang rasa respek. Pak Bos tentu saja masih punya wibawanya di hadapan kami. Kapasitasnya sebagai leader sesempurna itu buatku.

Sesi foto sebelum Pak Bos balik

Sejujurnya, aku senang Pak Bos bisa sedikit lebih lama bersama kami saat WFO karena dia tertahan akibat penerbangan domestik yang dilarang dan bandara pun tutup. Meskipun kami gak bisa memberikan farewell party yang layak, tapi paling tidak kami bisa nikmatin hangatnya kebersamaan bukber bareng di kantor dengan martabak telur. Senikmat itu sih jadinya.

He is a truly great leader. He is be the chief, not the lord. Thank you so much for everything, Pak Bos. Sukses menyertaimu, inshallah.

5 Comments

  • Sabda Awal

    Pengen punya Pak Bos begitu juga.. sejauh jni bos saya ya pas2-an lah. di bilang kaku, ga juga, tp memang hdah berumur, karakternya sesuai sama umurnya hihi…

    lagian saya sebagai pe en es, yaa gitu lah, birokrasi berjenjang

    • Navia Yu

      Iya mas Sabda umur juga pengaruh. Yang penting kerjanya dinikmati.
      Aku belum tau karakter bos yang berumur tuh gimana.
      Ntar lagi tau ni, karna pengganti Pak Bos dateng yang dah paruh baya.

    • Navia Yu

      Yap bener selama alesannya rasional pak bos pasti kasi lampu ijo. Haha
      Seringnya aku tuh balik dluan buat kuliah. Si bapak gak pernah ngelarang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *