Monologue

Restorasi Dominasi Dinasti

Kita tahulah ya udah dari masa jahiliyah warisan kekuasaan adalah sebuah candu yang mendarah daging dalam sosial politik kita. Yang namanya dinasti politik satu klan dengan yang kita sebut praktik nepotisme, selalu haus kekuasaan dan pasti bobrok bener sistem yang ada, rusak semua isi dalamnya.

Penguasa yang menjabat tidak ingin kemutlakan kedaulatan tahtanya diintervensi makanya lebih mudah berupaya mengukuhkannya dengan diteruskan ke para kerabat. Semua posisi strategis harus diduduki oleh sanak sodara, dari anak, menantu, sepupu, keponakan, cucu dan seterusnya hingga awet tuh terkunci turun temurun keuntungan yang bisa diraup.

Semasa menjabat, orang dan keluarganya tersebut menikmati kekuasaan itu. Implikasinya, bikin ketagihan, jelas keluarganya turut serta ingin melanggengkan kekuasaan. Tindak tanduk ini sudah banyak tercatat dalam sejarah bangsa kita, baik itu yang tingkat nasional hingga tumbuh subur pada basis daerah. Kalian bisa tanya sama tante google yang serba tahu.

Kondisi politik inilah bisa dikatakan cukup ironis, karena hasrat berkuasa yang sering menjauhkan dari idealis nilai-nilai kebenaran. Memberi karpet merah pada persoalan klasik publik, seperti koruptif, kartelisasi dan kriminalitas akibat siasat tipudaya penyelewengan kuasa.

Tekanan politik dinasti yang semakin kuat menghadirkan iklim politik yang penuh intrik. Elit yang akan cendrung tertutup dan ekslusif, jagan harapkan adanya transparansi ke publik apalagi bila punya aib politik, sulit bukan main untuk dimonitor dan diawasi.

Bahkan dominasi dinasti akan menyiapkan skenario untuk memproduksi narasi kedustaan atau kerennya disebut hoax dan rangkaian pencitraan demi simpatisan publik. Mirisnya media diberdayakan sebagai cerobong kekuasaan sekaligus alat mengemas citra dan kesan manis para elit.

Wajah serupa pun kerap terjadi dalam manajemen perusahaan. Ambil contoh kasus kecilnya ada di kantorku. Nepotisme serupa mulai dipraktekkan oleh bos nomor satu yang menjabat saat ini. Tuan yang terhormat ini tidak melewatkan kesempatan emasnya. Sudah bukan rahasia lagi dia kerap menyelipkan atau memaksakan merekrut dengan jalur pintu ajaib.

Belum genap dua tahun menjabat sudah tiga orang titipannya. Sungguh aku bukannya iri, Cuma yang bikin banyak orang kantor risau itu dulurannya itu tidak punya kapasitas dan kompetensi teknis yang mumpuni tapi menghendaki diberi standar kenikmatan yang ketinggian. Ambyar toh namanya.

Yang lebih blunder lagi, saat si kakak iri dengan posisi adiknya dan juga menuntut hal yang sama namun kualifikasi dia ini agak jarang dan sebenarnya tidak dibutuhkan kantor. Kuatnya peran elit nomor satu selaku pimpinan bila sudah berkehendak siapa yang bisa menjegal titahnya. Memorandum sudah falid ya mesti bisa mengadakan posisi yang tidak penting ini.

Praktik nepotisme hanya memberikan celah kecil untuk orang-orang yang beneran berprestasi mengambil peran. Sebab penguasa punya privilege atas sumber daya yang terbilang mumpuni seperti finansial, jaringan, birokrasi dan juga hukum.

Kita bukannya tidak tahu akan fakta ini, hanya saja kebanyakan dari kita melihat kondisi ini sebagai sebuah kewajaran. Seakan, taktik politik licik jenis ini absah saja dilakukan dalam praktik demokrasi negeri ini.

2 Comments

  • Hani

    itu orang2 yang dipikirannya yg ada kekuasaan, harta, harta, dan tahta kali ya. dan emang ya makin besar dan lama kekuasaan didapati nya, makin besar pula peluang untuk disalahgunakan oleh sang penguasa

    • Navia Yu

      Iya terlena dunia ya mana ingat deh hukum akhirat. Mungkin ya godaan untuk tetap idealis itu sulit sekali jika sudah di atas angin. hehehe 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *