Rezim Pencitraan
Monologue

Rezim Pencitraan

Pada dasarnya manusia tidak ada puasnya makanya manusia juga dikaruniai bakat berkamuflase. Gimana cara kita berkamuflase? Caranya dengan menghadirkan sebuah ‘kemasan’ baik untuk diri kita di mata orang lain. Tentunya ini tidak salah kan.

Citra ini punya dua sudut pandang, pertama dalam sudut pandang kita sendiri dan yang kedua bila dipikirkan dari sudut pandang orang lain. Bila dari sudut pandang sendiri kita akan menonjolkan ada kelebihan, kemampuan dan pencapaian kita seperti personal branding, sedangkan dari sudut pemikiran orang lain kita seolah-olah membungkus diri kita dengan kesan sebagai orang baik.

Yang kekinian itu dengan bantuan sosial media kita sudah bisa membentuk citra yang diinginkan. Secuil saja tonjolkan aspek yang kita pilih untuk ditampilkan membentuk kesan tersirat seolah lebih baik daripada aslinya, sisanya tinggal serahkan pada kekuatan maha dahsyat sosial media, para netijen budiman dengan senang hati membantu mengangkatnya ke permukaan menjadi highlight.

Bahkan dengan kesaktian buzzer cuma dengan memelintir kata-kata saja sudah bisa membiaskan mana benar-salah dan mengubah persepsi kita, udah deh terbentuklah pencitraan. Simply changing the metaphor by altering a few words influenced people’s beliefs about something.

Ingin terlihat mengesankan ya sah-sah saja, bahkan bisa nge-trigger berubah ke arah yang lebih baik, asalkan punya niatan melakukannya secara konsisten dalam jangka waktu tertentu dan hasilnya real.

Akan menjadi salah ketika membingkai dirinya di hadapan khalayak sedemikian rupa guna mencari simpati. Merekayasa prilaku, gaya, aksi dan gambaran yang sebenarnya palsu karena tanpa ada follow-up lagi. Ini baru kita namai pencitraan.

Pencitraan sering dikonotasikan sebagai upaya sesaat yang sifatnya menipu, membohongi sasarannya dengan niat terselubung, dan membangun persepsi positif. Memainkan taktik pencitraan ini sering dipakai sama para elit tuh saat pemilihan. Mereka sadar betul pentingnya simpati publik, dan menjerat milenial jadi target utama.

Pemilihan kelar, mereka tidak malu melepaskan kostum pencitraannya. Perbuatan melanggar citra yang sebelumnya ditampilkan ini melukai kepercayaan masyarakat. Selayaknya kata pepatah, bagai musang berbulu ayam. Orang bejat ya tanpa sekolah teater juga udah layak dapet Oscar, karena bang jago mendalami sekali perannya sebagai peran tokoh baik.

Kurasa gelombang masa menolak Omnimbus Law juga dilatarbelakangi ketidakpercayaan yang massif dari rakyat Indonesia yang akhirnya kini terbuka matanya. Berbagai elemen masyarakat telah menyatakan penolakan, namun seakan tak didengar. Mau pencitraan pun udah nggak guna kalau masyarakat dikecewakan, merasa telah dikhianati karena wakilnya membuat kebijakan yang tak memihak pada rakyat.

Udah kecium nih busuknya, malah nyiptain wacana blunder bilangnya masyarakat yang dikomporin hoax. Lah pak, mana mungkin muncul spekulasi soal substansinya kalau pemerintah dari awal transparan dan kagak main kucing-kucingan nyusun peraturan ini sampe ngegas gitu ketok palunya. Namanya belum selesai donk kalau detailnya masih barsambung lagi di PP dan Perpres.

Wahai penguasa, cukuplah membohongi publik, sudahi saja main tepu-tepunya, toh senusantara ini orang cerdasnya banyak yang mengkritisi substansi yang maknanya jelas-jelas kalau pemerintah tidak berdiri bersama rakyat Indonesia.

Ayolah pak, main-main lakonnya hentikan dulu, realitasnya rakyat pada agresif, menjerit-jerit dan berdarah-darah di lapangan. Tolonglah buktikan kali ini pemerintah amanah. Utamain menuhi kebutuhan pokok rakyat dibanding pencitraan apalagi gercep ngakali bikin skema dinasti politik.

4 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *