resposibility
Writing

Seberapa Tanggung Jawab kah Kita?

Beberapa hari yang lalu, aku dan kedua orangtuaku berdiskusi untuk memperbaiki sedikit bagian belakang dapur yang emang sedikit rusak. Jadilah, kami memutuskan untuk mencari tukang untuk memperbaikinya.

Sebenarnya bagian dapur yang diperbaiki tidak banyak, hanya butuh satu orang tukang saja dan mungkin dalam waktu dua hari sudah kelar.

Aku jelas prefer tukang yang kerjanya bagus dan dapat dipercaya. Ternyata orangtuaku bersikeras pakai jasa tetangga sendiri yang telah mereka kenal.

Kata mereka sih, tidak ada salahnya membagi rejeki kepada orang terdekat lebih dahulu. Oke, ada benarnya juga. Apa boleh buat, ya ujungnya kami memutuskan menyerahkannya pada tetangga sendiri yang tinggal tidak jauh dari rumah.

Hari pertama bekerja, si tukang ini masuk dan pekerjaan hampir selesai. Kami semua dibuat yakin dengan progress kerjanya. Jika si tukang kembali bekerja besok, bisa dipastikan pekerjaan ini akan selesai sesuai rencana.

Bahkan kami jadi harus mengeluarkan sedikit uang ekstra untuk gercep membeli beberapa bahan bangunan tambahan yang dibutuhkan dengan harapan agar pekerjaan ini benar bisa selesai tepat waktu.

Eh taunya, tanpa diduga nyatanya tukang ini tidak masuk di hari ke kedua tanpa alasan. Kami bingung kenapa, karena saat kemarin dia pamit pulang tidak ada pemberitahukan kepada kami.

Siapa yang nggak kesal coba kalau diposisiku. Apa susahnya memberitahu kami alasannya kenapa tidak bisa datang bekerja, padahal rumah kami tidak jauh.

Esok harinya barulah dapat kabar dari si tukang kalau ternyata dia punya kerjaan yang harus segera diselesaikan di tempat lain lebih dulu jadi meminta untuk melanjutkan pekerjaannya pada hari minggu.

Menurutku, ini maruk namanya. Harusnya sedari awal si tukang bilang jika dia tidak bisa mengambil pekerjaan dari kami. Atau bisa jujur nego gitu untuk meminta kami menunda waktu sampai dia bisa mengerjakannya. Orangtuaku tentu saja pasti akan setuju dan bisa mengerti itu.

Lah ini apa, si tukang malah mengecewakan kami. Kewajiban dia menyelesaikan pekerjaan tersebut namun juga tidak lantas membenarkannya lari dari tanggung jawab kepada kami.

Cerita ini membuatku berpikir mungkin si tukang ini malah menganggap remeh pekerjaan kecil yang kami berikan. Dia lebih mengutamakan ikan yang lebih besar di luar sana.

Tapi yakinlah, sekecil apapun perbuatan yang kita lalukan dalam hidup ini pasti ada tanggung jawab di baliknya yang harus kita terima. Apapun itu! Jika kita tidak bisa bertanggung jawab akan hal kecil, bagaimana bisa kita akan bertanggung jawab untuk hal yang lebih besar? Kan, semua pastilah dimulai dari hal terkecil di sekitar kita.

Semooga aja semua orang yang membaca tulisanku ini bisa menjadi orang yang bertanggung jawab dan tidak menjadi seperti cerita si tukang.

2 Comments

  • Just Awl

    Emang gereget banget sih kalau ketemu tukang yg kayak gitu😫. Mungkin kita jg akan bisa mengerti kalau seandainya dia jelaskan kondisinya dari awal. Akhirnya kalau begitu jd berekspektasi.
    Yah, mungkin pembelajaran untuk kita jg agar nggak menjadi orang yg seperti itu di kemudian hari ya kak😢

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *