Multitasking di Kantor
Monologue

Seorang Multitasking Kantoran

Sudah berbulan-bulan kita terjebak dengan Covid-19 yang belum ketahuan kapan berakhirnya. Bahkan 2020 ini hanya menyisakan beberapa bulan lagi, lalu kita akan memasuki tahun yang baru.

Dampaknya dasyat banget bagi seantero dunia, apalagi sektor ekonomi bisnis yang paling terasa. Banyak sekali perusahaan yang terpaksa merumahkan karyawannya akibat kerugian yang sangat besar.

Di perusahaan tempatku bekerja tak terkecuali, juga melakukan pengurangan karyawan. Apalagi perusahaan ini usahanya bergerak di bidang multifinance, yang pastinya sangat terpukul habis akan kondisi ini.

Aku termasuk orang yang beruntung karna ketika pandemi ini, perusahaan masih memerlukan tenagaku. Padahal tercatat sudah ada 50 orang lebih yang terkena PHK. Namun, ternyata kontrakku masih diperpanjang hingga akhir tahun ini.

Well, setidaknya aku masih memiliki waktu untuk memikirkan langkah ke depanku harus gimana. Jujur saja, aku juga tidak mau terus-terusan menjadi karyawan di kantor ini.

Imbas dari pengurangan karyawan inilah, kerjaanku jadi bertambah. Bukan hanya aku, tapi hampir seluruh admin kantor mendapatkan banyak tugas tambahan. Semua orang dipaksa menjadi multitasking.

Aku sendiri cuma seorang admin, sebenarnya jobdesc-ku tidak terlalu banyak, bahkan kadang aku sampai bingung harus mengerjakan apa lagi. Sampai akhirnya Corona menyerang dan membuat manager memutar otak membabat banyak pekerja. Aku sekarang jadi rangkap tugas sebagai CS iya, dan sekaligus sebagai Deskcoll atau Desk Collection juga.

Jeng… jeng.. jeng.. jadilah akunya sering kelimpungan sendiri. Gimana nggak, tugasku jadi nambah harus menjawab telepon setiap harinya, melakukan desk call dan menerima komplain.

Momen yang membuatku benar-benar kelabakan adalah saat aku sedang menelpon nasabah dan di saat bersamaan telepon kantor pun dengan nyaringnya berdering. Biasanya bunyi telepon itu sering kuabaikan dulu karena masih handle nasabah.

Aku juga harus bolak balik ke depan dan ke belakang untuk ngetik surat. Karna di meja CS tidak tersedia komputer, ketika aku harus mengetik, aku harus masuk ke ruangan admin Deskcoll dan meninggalkan meja CS. Dan ketika telepon berdering aku mesti bergegas menuju ke depan lagi untuk menjawabnya.

Jam istirahatku pun harus mundur, mau tidak mau aku harus menahan lapar sementara menunggu orang lain selesai makan siang dan bisa menggantikan aku sebentar agar aku bisa makan.

Terkadang aku tertawa dan kadang juga merasa sedih dengan jobdecs baruku yang sudah hampir dua bulan lebih aku jalani. Tertawa kalau ingat saat sebelum pandemi terjadi aku bisa puas browsing semauku dan agak bebas melakukan apapun karena punya banyak waktu luang. Tapi sekarang merasa agak sedih lantaran aku sungguh sibuk.

Tetapi apapun itu, aku tetap bersyukur masih memiliki pekerjaan dan bisa bertahan dengan gaji bulanan. Paling tidak keadaan seperti ini buat aku jadi belajar banyak untuk pegang tangung jawab lebih.

Aku tahu di tengah pandemi ini kita semua sama-sama harus berjuang untuk bertahan hidup dan jangan sampai tertular virus yang masih belum ditemukan vaksinnya. Stay strong and always be safe, guys!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *