alice-in-borderland-2020
Review,  Series

Series Review – Alice In Borderland (2020)

Alice in Borderland adalah serial original Netflix yang diadaptasi dari manga Jepang dengan judul yang sama. Serial bergenre thriller ini resmi dirilis pada 10  Desember 2020 dan masih hangat diperbincangkan. Mengintip dari trailer series ini juga tentu tampak mendebarkan.

Serial garapan Shinsuke Sato ini menceritakan petualangan sekelompok anak muda, Arisu (Kento Yamazaki) dan kawan-kawan yang terjebak di dalam dunia survival game. Mereka dipaksa mengikuti permainan berbahaya dengan skenario terus bertahan hidup atau kalah dan mati. Penulis sekaligus kreator Haro Aso harus diapresiasi atas kreatifitasnya dalam menciptakan kisah Alice in Borderland.

Review ini dari sudut pandangku, orang yang tidak tahu soal manga dan animenya ya. Premisnya brilliant, setiap game yang harus diselesaikan dibuat dengan strategi menarik karena ada peraturan dan tingkat kesulitan berbeda, sesuai kartu yang didapat. Mainnya harus pakai logika level dewa deh karena bukan butuh stamina aja, tapi juga ada kerja tim dan mengorbankan perasaan.

Mengikuti aksi mereka pada tiga episode pertama berhasil bikin tegang. Penonton jadi ikutan mikir gimana mecahin teka-teki nuntasin permainannya. Dari keseluruhan episode, yang paling emosional dan sentimentil ada di episode ke 3. Bisa banjir air mata menyaksikan pengorbanan kedua sahabat Arisu Karube (Keita Machida) dan Chota (Yuki Morinaga) di episode ini.

Adegan laga memang sangat kental di awal-awal episode, namun semakin bergeser porsi laga semakin tergerus. Perkembangan plot jadi meluas dan semakin kompleks problematikanya sejak Arisu dan Usagi (Tao Tsuchiya) bergabung dalam Beach. Tantangan yang mereka hadapi bukan saja soal game tapi juga orang-orang manipultif di Beach dan juga intrik dari para master game. Alur cerita jadi begitu kaya akan drama dan tidak lagi fokus untuk bertahan hidup di permainan kematian.

Totalitas para tokohnya

Arisu tidak diragukan lagi adalah pahlawan dalam serial ini. Perkembangannya bukan dibuat yang heroik gitu, tapi secara bertahap Arisu diperkenalkan dengan keterampilan nalarnya yang tajam dalam menganalisa setiap tantangan dan konsekuensinya.

Usagi sebagai cewek tomboy dengan kelebihannya dalam atletik. Pengenalan karakter terbilang begitu detail untuk setiap tokohnya. Kita dibaut seakrab mungkin dengan berbagai informasi dari setiap karakter unik nun misterius lainnya yang juga punya kelebihan dan kisahnya masing-masing dan tidak kalah menarik dari tokoh sentral.

Eksekusi dari produksinya apik ditambah sinematografi yang juga cakep, dengan bumbu efek visual memukau yang menurutku tanpa cacat, mengemas Alice In Borderland menjadi live action yang tidak mengecewakan untuk serial penutup akhir tahun. Beneran digarap seniat itu sampai bikin replika Shibuya lalu dikasih sentuhan grafis komputer, voila menakjubkan hasilnya bikin pengalaman menonton makin impresif.

Masih banyak pertanyaan disisakan dari episode terakhir dari serial ini yang berpotensi sangat besar akan dilanjutkan lagi di Season selanjutnya. Serial ini pun menuai respon positif dari para penontonnya. Dariku sendiri mungkin series ini layak diberi score 7.5/10 secara keseluruhan.

Total ada delapan episode dengan durasi setiap episode di bawah satu jam. Serial ini dibuat padat dan lansung ingin menamatkannya seketika, cocok jadi pilihan hiburan buat nemani akhir pekanmu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *