WFH
Monologue

Social Distancing Bikin Overdosis Me Time

Hi everyone! Apa kabar kalian? Sudah berapa lama kalian di rumah aja? How was your self-quarantine going so far? Udah sampe level  jenuh dan bosen parah kah kalian terkurung di rumah aja? Especially when you’re alone, I know it’s freaking crazy.

Kita yang dulu terbiasa dengan aktivitas yang padat sering kali merasa sangat lelah, menjalani rutinitas hambar bahkan hingga pada titik jengah bertemu orang-orang. Kalau begini waktu weekend menjadi begitu berharga buat kita perlu me time untuk mengistirahatkan tubuh dan pikiran agar membangkitkan lagi enegi positif dalam diri. Tapi tidak juga hingga jadi makhluk individual begini sampai kelebihan me time. Gini sih jadi bahaya juga buat kesehatan mental. Kaum rebahan pun bisa capek juga tanpa ada yang bisa dilakukan. Capek mental maksudnya.

Keadaan sekarang lagi ‘gak normal’ yang aku tau kalian pasti juga ngerasain apa yang aku rasa. Virus ini terbukti menjungkirbalikkan kebiasaan dan seluruh aktivitas sehari-hari kita dalam waktu singkat.

Buat tipe orang kayak aku yang doyan banget kelayapan dan senang bersosialisasi gitu yang anak nongki jaman now ngerti bener sesumpek apa mesti berdiam diri di rumah mulu. Well, aku nih anak rantau yang jauh dari keluarga makanya lingkup dunia sosialku cuma seputaran kantor, kampus dan tongkrongan malem. Untuk kegiatan perkuliahan aku udah sepi emang karena kelas udah habis, sekarang tinggal berkutat sama skripsweet bae jadi jarang banget ngunjungin kampus lagi. Sekarang pun bimbingan juga semakin menyiksa yang hanya bisa konsul memalui email.

Nah, sejenis anak kosan paham banget nih, yang kalo sampe kosan kadang ngerasa kesepian gitu, butuh temen ngobrol makanya pada suka gentayangan malem-malem. Hingga komunikasi sebates sama kawan kerja aja yang intens. Karena situasi  sekarang yang begini sulitnya makin menyedihkan lah nasib para jomblo yang sungguh merana kesepian. Diperparah dengan WFH rusak deh mental bagi tipe si bawel dan pendengar setia.

Kalian sadar gak dulu saat keadaan masih sangat menyenangkan kita tuh waktu ngumpul-ngumpul seringnya ngelupain esensi bercengkrama sama silatuhrami, ya gak sih? Kebanyakan dari kita malah sibuk mencari kesenangan dalam dunia maya di genggaman. Abai sama keseruan bisa sharing terus ketawa dan berdebat bareng. Duh, kenapa pula saat sekarang corona buat kita punya banyak waktu rebahan sambil leyeh-leyeh mainan hp baru menyadari kenikmatan itu. Muncul deh rasa kehilangan momen keakraban seperti itu. Kangen gila sih bisa interaksi physical contact sama teman-teman dan kerabat.

Pernah denger self-partnering atau sophisticated belum? Secara harfiah artinya mencintai diri sendiri. Jadi, mungkin saat kondisi begini adalah momen yang tepat agar kita emang lebih meluangkan waktu mengembangkan keterampilan mencintai diri sendiri. Sebab pada dasarnya, siapa lagi yang akan menghargai diri sediri selain diri kita sendiri? Selain itu, self-partnering juga berupa latihan untuk mempersiapkan kehilangan kebersamaan dengan orang-orang yang telah kita percaya sepenuh jiwa. Karena mau tidak mau perpisahan itu pasti terjadi. Biar kita gak kaget. Biar kita lebih siap.

Lalu di mana letak bahayanya?

Gangguan mental. Ya, bahaya bila berlama-lama tenggelam dalam kesendirian yang terus bergulir begini melulu lalu ditimpa dengan kebosanan yang menghampiri. Gak bener juga hidup seperti ini. Malahan bisa menimbulkan depresi karena jadi seolah tidak menikmati hidup tanpa ada sesuatu yang menarik minat. Efek samping dari overdosis me-time sampai bingung mau melakukan apa lagi, memikirkan sesuatu konten yang bisa dilakukan di rumah dan itu bikin hati senang juga biar semangat tiap bangun pagi.

Kalau nonton tivi udah gak menolong lagi coba mulai aja dari sesuatu yang selama ini kita pending dan kita simpan rapat-rapat ketutup oleh timbunan aktivitas rutinitas yang tiada henti. Kepastian yang nampak jelas saat ini adalah ketidakpastian itu sendiri jadi kita punya waktu yang kukira bakal tidak terkira hingga kapan untuk merelisasikan keiisengan atau ide kreatif yang terkubur lama.

Ide untuk bermain-main dengan eksperimen baru di dapur atau depan gawai kalian mungkin bisa jadi alternatif menyelamatkan kita dari terganggunya kesehatan mental. Caraku bertahan di rumah dengan  dengan mulai serius belajar bahasa baru, melajutkan nulis cerita fiksi yang terlalu lama stuck dan juga tiap sore selalu nyempetin workout minimal 20 menitan aja tiap harinya. Aktivitas atau latihan  fisik itu wajib banget di kondisi ini untuk menjaga kebugaran jasmani, menambah stamina dan mencegah penyakit. Poinnya itu think about something kinda some boredom killing activities while at home during this pandemic.

Satu lagi, demi menjaga kewarasan kita harus tetap terkoneksi dengan orang lain. Jangan sampai kita ikut berjarak secara emosional dengan orang-orang terkasih. Setidaknya itu adalah obat penangkal kesepian yang kita punya saat ini dengan ngobrol dan curhat melalui telepon atau pun video telepon.

Stay safe! Stay healthy! Stay home!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *