meeting kantor
Youth

Suka Duka Jadi Karyawan Kantoran

Apa pekerjaan impian kalian setelah tamat kuliah?

Mungkin ada yang langsung punya bisnis. Tapi kebanyakan pasti melamar kerja kan di sebuah perusahaan. Dalihnya mencari pengalaman dulu dengan menjadi karyawan. Bisa jadi pula memang merupakan profesi impian.

Yang jelas menjadi karyawan itu pun ada suka dukanya. Simak kuy, apa aja suka dukanya.

Suka Cita Seorang Karyawan

1. Penghasilan Tetap

Hal yang paling menyenangkan bagi semua karyawan pastilah menerima gaji bulanan. Ini juga yang menjadi alasan utama ingin menjadi karyawan tetap. Yakni berupa nominal uang hasil perolehan dari jerih payah kamu selama sebulan. Gaji bulanan yang diterima biasanya akumulasi dari gaji pokok, upah lembur, tunjangan, bonus (bila ada), dan beberapa potongan.

2. Asuransi Yang Membantu

Setiap bulan saat gajian, gaji akan dipotong dengan sendirinya sebelum masuk ke rekening kita. Selain ada PPh 21, ada juga iuran tetap untuk asuransi yakni BPJS Kesehatan dan BPJS Ketenagakerjaan. Asuransi ini dapat dikatakan tabungan kita untuk masa depan. Ini benar-benar membantu jika suatu saat kita akan berhenti bekerja ataupun ada kejadian yang tidak diinginkan terjadi tabungan ini dapat kita klaim.

3. Mendapatkan Ilmu Baru

Biasanya seorang karyawan akan dijadwalkan untuk menerima pembekalan ilmu baru dengan dikutsertakan dalam pelatihan dan seminar yang terkait pekerjaannya oleh HRD. Tujuannya untuk menambah wawasan baru dan pastinya skill pengetahuan kita bertambah untuk menunjang tanggung jawab yang kita pegang.

Kemudian apabila kamu pindah kerja, kamu akan beradaptasi mempelajari sistem manajemen kantor yang berbeda dari perusahaan kamu sebelumnya. Mempelajari seluk beluk bisnis yang akan menjadi bekalmu jika bercita-cita ingin membangun sebuah bisnis usahamu sendiri nanti.

4. Bertemu dengan Orang Baru

Lingkup pekerjaanku yang mencakup back office dan juga customer service membuatku harus berurusan dengan nasabah yang ingin bertanya dan komplain. Untungnya aku sangat suka bertemu orang baru dan berbagi senyuman. Aku pun jadi sedikit tahu tentang karakter orang-orang, mengamatinya dari para nasabah yang pernah aku temui di kantor.

5. Komunikasi Bisnis Mumpuni

Pekerja kantoran dituntut untuk berkomunikasi secara verbal dan non verbal untuk berinteraksi dan negosiasi dengan kolega maupun pihak eksternal. Hal ini secara nggak langsung melatih skill komunikasi interpersonal dan intrapersonal yang baik bagi kita. Seorang karyawan juga bakal belajar menyikapi dan menangani keadaan tertentu yang akan mengembangkan sikap profesionalisme dalam dunia kerja.

6. Keteraturan Mendarah Daging

Bekerja kantoran bikin hidup lebih teratur. Pekerja kantoran sangat ketat dengan manajemen waktu. Dimulai sejak alarm bangun pagi bunyi agar absensi tidak telat, deadline kerjaan dan janji temu dengan klien. Setiap keterlambatan ada nilai yang harus dibayar. Sehingga akan mempengaruhi evaluasi performa kinerja dari seorang karyawan.

Duka Menjadi Karyawan

Kerja kantoran juga tidak luput dari duka cita yang banyak dialami karyawan. Apa saja itu?

1. Jenuh

Ini pasti pernah dirasakan oleh seluruh pekerja. Duduk di kubikel dan berhadapan dengan komputer serta tumpukan berkas adalah makanan sehari-hari. Tidak bisa dipungkiri rutinitas monoton dan kehidupan statis akan bikin kita cepat bosan. Bahkan merasa jenuh dengan kegiatan yang berulang setiap harinya sering kali menjadi alasan untuk ganti kerjaan lain.

2. Terbatasnya Waktu Liburan

Liburan adalah cara mengusir kekangan jenuhnya pekerjaan terbaik dan terampuh buatku. Bekerja selama lima kali seminggu dalam setahun hanya diganjar waktu cuti 12 hari yang bisa dipakai. Sayangnya batasan cuti yang diambil sangatlah terbatas dan itu juga sudah dipangkas dengan cuti bersama. Sisanya yang tersedia itu yang dapat digunakan untuk berlibur belum cukup memuaskan hasrat bertualangku.

3. Sistem Manajemen yang Tidak Memihak

Setiap perusahaan pasti memiliki manajemen yang berbeda-beda, tidak mungkin sama. Kebetulan di perusahaan tempatku bekerja saat ini divisiku terhitung baru terbentuk jadi masih harus mengikuti aturan main divisi X. Ditambah lagi sang owner yang belum sepenuhnya percaya dengan divisi ini. Padahal jika dilihat, divisiku ini lebih menghasilkan banyak pendapatan dari pada divisi X. Alhasil, kami merasa tidak bebas bergerak kalau terus diawasi divisi X. Divisi kami pun jadi dirasa beban oleh divisi X karena terpaksa masih merepotkan divisi mereka.

4. Team Work yang Tidak Cocok

Mungkin ini hal yang sering dirasakan oleh kebanyakan karyawan, bukan cuma aku saja. Jika temanku punya bos rasa kawan berbeda dengan bosku yang tiap harinya selalu membuatku jengkel. Sifat bos macam dia ini menurutku sangat tidak cocok menduduki posisi seorang manajer yang harusnya menjadi contoh baik bawahannya. Belum lagi dalam tim ini aku harus tetap bersifat netral karena ada begitu banyak penjilat yang suka mencari muka depan sang owner langsung ataupun dengan bosku sendiri. Kebayang dong gimana rasanya harus berhadapan dengan hal kayak gini tiap hari.

5. Jam Kerja berlebihan

Setiap perusahaan pasti memiliki jam kerja yang berbeda. Nah, kantorku saat ini menerapkan jam kerja yang normal. Tetapi, kantor tempatku berkerja sebelumnya memiliki jam kerja yang kurang manusiawi. Hari kerja dimulai dari Senin – Sabtu dengan jam kerja dari pukul 08.00 – 18.00 WIB. Gilanya lagi, jam pulang hanyalah formalitas belaka. Nyatanya aku baru meletakan jempolku di mesin absen pukul 19.00 WIB. Begitu dulu hari-hariku berulang dan sedihnya itu tidak pernah dihitung sebagai lembur. Parah, kan?

6. Minimnya Pengalaman dan Jaringan

Bila dibandingkan dengan pekerja lapangan, bekerja kantoran sama sekali tidak seru. Pekerja lapangn akan punya lebih banyak jaringan pergaulan. Mereka akan bertemu lebih banyak orang dan menghadapi tantangan serta situasi yang beragam atau tidak terduga. Sementara pekerja kantoran cuma perlu menghadapi rekan satu divisi dan kolega kantor lainnya. Atau yah, mentok-mentok menghadapi klien. Buat yang malas bersosialisasi, teman akrabnya palingan meja kerja serta atribut pelengkapnya. Intinya, tantangan yang dihadapi tidak seheboh yang bekerja di lapangan.

“The only way to do great work is to love what you do.”

Steve Jobs

Itulah suka duka menjadi karyawan menurut pandangan kami. Walau begitu, kami tetap merasa bersyukur dengan pekerjaan kami saat ini. Kita tahu mencari kerja itu susahnya ampun-ampunan. Ada banyak para pencari kerja di luar sana yang ingin bekerja seperti kami. Biarpun menjadi karyawan tidak menjanjikan kekayaan, tapi pekerjaan ini adalah periuk nasi kami tetap bertahan hidup.



Two girls with big dreams.

11 Comments

  • Lulu Wulandari

    Semua kerjaan selalu ada saat di mana diserang jenuh. Kerjaan kantoran kayak mengerjakan hal yang sama setiap hari, belum lagi kalau ada drama2 antar karyawan. Udahlah itu.

    utk mensiasati kebosanan itu, sy biasanya pergi jalan2 sama temen2 ketika weekend atau hari2 libur. Quality time sm mereka bisa ngobatin jenuh 🙂

    • Occi

      Betul banget mb loh lulu. Jenuh ini pasti dialamin setiap pekerja ya.
      Sebelum korona menyerang aku pun sama suka refreshing main ma temen2 ngobatin jenuh.
      Cuma kalo sekarang nih weekend temennya cuma drakor atau netflix.

  • Sabda Awal

    saya 6 tahun kerja kantoran jenuhnya minta ampun, dapat jatah cuti 12 haru, giliran cuti masih aja ditanyain kerjaan kantor.

    positifnya memang gaji rutin ga perlu khawatir kan…

    tapi ini mau nambah skill lain, saya mau resugn n jd freelancer, kwkwk…. biar bisa bebas, ya tapi harus nyiapin finansial mateng, biar ga gelagapan entar pas resign

    • Occi

      emang paling bete kalau lagi cuti atau sakit tetep ditanyain kerjaan ya! Tapi, kalau pun resign emang harus sudah siap, jangan asal resign doang. percaya aja sama kemampuan diri sendiri.
      good luck kak^^

    • Diska Paras Ayu

      Benar sekali mba, saya mengalaminya persis sprti yg mba jabarkan.. mau jadi karyawan ataupun jd pngusaha mandiri kmbali ke jiwa kita. jika jiwa kita memang tipe org yg suka dengan stabilitas dan krg siap dgn resiko resiko rasanya menjadi karyawan adalah pilihan trbaik,

  • Vita

    Saya selalu berprinsip begini, sepanjang masih digaji ‘orang lain’ ya tetap harus mengikuti segala aturan yang berlalu. Gak suka diatur-atur? Buat perusahaan sendiri. Tapi tentu aja itu gak semudah masak Indomie. Buat sendiri aja susah kok, lebih enak dimasakin orang. Mau jadi karyawan atau pemilik usaha sendiri semua ada konsekwensinya. Sepanjang kita enjoy, I think we will be just fine.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *