Joy

Telat Check-in – Ngenes, Sakit tapi Tak Berdarah

Kebodohan Hakiki – Ditinggal Pesawat

Berhubung ini hari penutupan tahun 2019, jadi aku bakal sedikit refleksi dari kejadian memalukan yang kualami tahun ini.

Aku nulis ini untuk menyadarakan para bangsa keong dan siput yang kerjanya minta ampun lelet parah, yang kalo suka janjian ngaret gila dan yang rekor telatnya udah paling legend. Benar, aku pun salah satu dari mereka yang pasti sering bikin hati orang kesal setengah idup.

Oke, kalian bisa hujat aku sepuas hati. Aku akan mewakili bangsaku khusus untuk menerima cacian kalian di postingan ini. Keluarin aja semua sumpah serapah yang kalian pendam untuk mereka di sini, anggap aku adalah ketua suku dari bangsa satu ini. Semua kutukan bakal aku tampung biar aku tuh merasa ditampar dan juga bisa melek untuk merubah budaya kengaretan yang melekat pada diriku. Lalu tahun depan aku akhirnya pindah ke bangsa sebelah yang jelas sangat menghargai waktu dan intolerant sama si ngaret. Memulai lembaran baru dengan kebiasaan disiplin yang pasti gak merugikan.

Well, ini satu pukulan yang emang dalem banget buatku. Ceritanya begini.

Dikala malam semakin larut, bulan membumbung tinggi dengan cahayanya sedangkan aku sedang berleha ria dengan smartphone dalam genggaman, sohib aku tiba-tiba ngirimin racun via whatsapp. Saat itu di akhir  Juni, mungkin hampir jam setengah sepuluh, dia kirim screen shoot yang bikin ngences pas mandangin angkanya. Gimana aku bisa menahan godaan dari tiket murah Palembang – Singapore dengan maskapai Scoot Cuma seharga Rp 355. 000 doank. Aku langsung ileran, tergiur dan segera bereaksi bertanya itu untuk penerbangan kapan. Di jawabnya, itu untuk tanggal 15 Agustus dan tersisa hanya enam kursi. Aku tanpa mikirin sisa tabungan yang menipis dan emang ga pernah tebal, ya gitu aja dengan mudahnya langsung kemakan umpan si kawan. Dengan ditambahin bumbu drama ketika pas booking, akhirnya berhasil diamankan dua kursi.
Source: Author’s Gallery

Pergi beres, sekarang masalahnya adalah jalan pulang. Namun, tiket pulang tidak bersahabat yang mana angkanya malah dua kali lipat. Kami putar otak dan satukan pikiran lalu disepakatilah kami bakal pulang lewat Kuala Lumpur. Beralihlah ke web maskapai AirAsia. Aku skip aja lika-liku proses bookingnya. Yang jelas, keesokan harinya – untungnya hari minggu – tiket balik pun beres dengan perolehan angka Rp 672.844 untuk tanggal 18 Agustus. Mantul!

Dua minggu sebelum keberangkatan, kami berdua meeting dengan agenda nyusun itinerary dan juga pesan tiket bus dari Singapore – Malaysia. Itu juga pas banget tinggal ada dua kursi kosong bagian paling belakang dekat toilet. Sengaja pesan yang paling malam biar hemat karena bermalamnya jadi di bus aja. Cukup lah waktu istirahan selama perjalanan kurang lebih lima jam. Bangun pagi udah bisa explore KL.

Rencana udah cakep nih. Hari-hari berlalu, gak sabar lagi untuk trip singkat kami. Cuti juga sudah dilayangkan ke HRD dan aku pun terpaksa membolos dua mata kuliah Kamis sore dan Sabtu pagi. Semua sudah di set sedemikian rupa agar tidak ada lagi yang dipikirkan menjadi penghambat liburan singkat ini.

Dua belas jam sebelum jam keberangkatan. Aku udah selesai ngumpulin barang yang bakal aku bawa. Ini tips meminimalisir barang tertinggal. Tinggal dimasukin aja sih sebenarnya, tapi apalah daya mataku telah kehabisan daya. Gak mau donk foto nanti terlihat sayu dengan hiasan mata panda. Jadi aku memilih tidur. Urusan packing mah cincay lah.

Dan akhirnya…. Tibalah hari H (15 Agustus);

Aku udah pasang alarm jam tiga pagi memang khusus buat packing, eh masi aja kebangunnya jam lima pas adzan subuh. Yaudah, aku subuhan dulu dan mulai deh merapikan tumpukan hasil semalem. Jam setengah tujuh udah kelar. Kemudian sarapan dulu sambil julitin instagram, nyari referansi foto. Jam tujuh lewat dikit aku mandi lalu dandan dan sejam kemudian aku udah cantik, siap untuk pergi. Berbalas whatsapp dengan si kawan untuk memutuskan oleh-oleh yang akan kami bawa untuk tuan rumah di sana.

Rencana emang otw jam sembilan lewat aja. Karena ada waktu luang nih, aku keluar bentar jalan kaki, gak jauh mungkin 300 meter sih, niatnya nyari sisir tapi ternyata apesnya tokonya belum buka. Balik lagi ke rumah dan nyampe rumah vc-an sama adek sampe jam sembilan. Baru deh order ojol.

Bego!
Tolol!
Bangke!

Aku lupa memperhitungkan kedatangan si ojol yang ternyata diluar estimasi. Terus melupakan waktu otw ke stasiun LRT yang kurang lebih dua puluh menitan dengan ojol yang sialnya gak bisa ngebut dan jadi boomerang merusak semua rencana. Harusnya aku dapat naik kereta yang berangkat 9:30 ke Bandara. Namun, karena kelalaian super ancur tadi aku harus menunggu kereta berikutnya lima belas menitan lagi. LRT seengaknya memakan sejam perjalanan menuju bandara.

Sepanjang jalan aku gak bisa tenang. Si kawan udah tiba aja di bandara ketika kereta baru bergerak beberapa mil. Dan dia bilang antrian check in sudah dibuka. Semakin was-was diri ini. Cemas dan keringat dingin kali sepanjang perjalanan. Aku khawatir demi apa pun. Di tengah perjalanan Si teman udah ikut barisan antrian dan juga bertanya ke petugasnya apa bisa diwakilkan saja, dan petugas itu menyampaikan harus orang bersangkutan langsung. Semakin tidak keruan hati dan pikiran ini mengembara. Beku kali darahku sampai suhu dalam kereta kayak turun drastis. Hanya tinggal dua stasiun lagi dan si kawan ada di imigrasi. Tersisa stasiun terakhir dan si kawan bergerak naik ke pesawat. Dan coba tebak, ternyata jarak stasiun ini lah yang terjauh. Kampet!

Si kawan telah duduk manis di pesawat dan masih terus mengirimkan foto situasi di sana. Akhirnya tiba lah aku di Stasiun Bandara. Bergegas kaki ini berlari dengan buntelan ransel yang begitu berat, berharap masi tersisa kesempatan untuk check in. Sampai di pintu kedatangan, aku melewati prosedur pemeriksaan. Alangkah menyedihkannya, lampu loket telah dipadamkan dan tidak ada lagi petugas yang berjaga di sana. Aku berupaya tanya ke loket lain dan petugas bandara lain di sekitar loket tapi mereka hanya menggelengkan kepala. Aku tuh rasanya kayak digebuki pake buntelan ransel yang kubawa ini. Gimana lagi aku harus mencoba. Berlari ke sana ke mari tanpa hasil.

SourceAuthor’s Gallery – dia di Changi

Kalian pasti tau apa yang terjadi. Aku berjalan lunglai mencari tempat duduk terdekat. Gabut parah. Menerima pesan si kawan sudah take off. Maafkan kebodohanku membiarkanmu berangkat sendiri. Nelpon siapa saja. Curhat. Menumpahkan dulu seperempat gumpalan yang menyumbat hati sampai sedikit lega lalu memutuskan pulang. Menaiki lagi LRT lagi sejam kemudian. Di perjalanan menuju rumah, otakku dipenuhi kalkulasi kerugian yang timbul akibat terlalu nyante pagi tadi. Teriris hati aku tuh mendapati angkanya. Hiks!

Liburan apik yang dinantikan dua bulan belakangan terhempas remuk berkeping-kepik. Kemelut hatiku membuat badan dan pikiranku lelah. Lalu memilih tidur sesampainya di rumah. Cukup lama terlelap dan tidak mau pikiran melayang lagi merenungkan kejadian miris tadi pagi, aku pun memutuskan masuk kuliah sore.

Bagitulah cerita ini berakhir. Pembelajaran yang berharga dari kejadian yang menyesakkan dada ini ikhlas kuterima untuk tidak lagi lalai memperhitungkan waktu dan lebih bijak menghargai sang waktu. Semoga kali pun dapat mengambil hikmahnya.

Sekian.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *