dilemma
Monologue

Terjebak Di Tengah Dua Pilihan

Sebutan lainnya adalah dilema. Biar kelihatan panjang aja gitu judulnya. Tau donk arti kata dilema? Aku sebutin lagi deh, maknanya ketika kita dihadapkan dua pilihan yang sama-sama membingungkan. Tidak jarang pasti kita ada di posisi begitu, kan?

Dalam dunia kerja nih, dilema kerap kali terjadi. Situasi yang memposisikan kita ada di antara dua pandangan berbeda.  Keadaan yang bikin mati langkah, serba salah mau melangkah ke kanan atau ke kiri. Kalau ke kanan ketemu jurang, ke kiri juga penuh ranjau. Nggak ada yang praktis, keduanya benar-benar menyulitkan.

Oke, katakanlah cari amannya gitu. Ada keadaan yang membenarkan kita ambil sikap bodo amat saja. Langkah tidak ambil pusing ini jelas tidak salah bila hanya perkara keberpihakan. Coba di saat posisi kita sedang tersudut, bukan lagi urusan menyikapinya, tapi mau nggak mau, suka nggak suka mesti pilih salah satu.

Seminggu ini, aku baru ngalaminnya, terjebak di antara dua pendapat. Saat dimana kebenaran itu berwarna abu-abu. Tidak tahu pasti mana yang benar dan salah. Aku pun terperangkap dilema. Memaksaku berpikir ulang atas aspek yang kurang tepat.

Jika yang kubahas ini adalah soal kacamata kebenaran maka jawabanku akan sok diplomatis tentang toleran. Karena aku menganut kebenaran yang relatif. Bagaimanapun kukira tidak sepantasnya memaksakan apa yang dianggap benar kepada orang lain. Nah, perkaranya bukan itu, melainkan ini menyangkut prosedural.

Secara seorang kroco harus nuruti perintah tuannya. Aku yang masih buta mengenai prosedur cuma menjalankan mandat yang kuterima. Masalahnya instruksinya itu bercabang dua. Satu sisi meminta aku mengikuti prosedur sebelumnya, dan di lain pihak inginnya melakukan perubahan pada prosedur yang dianggapnya ribet. Makanya, aku tuh dibuatnya pusing.

Faktanya prosedur lama dalam beberapa aspek sudah terbukti tidak tepat, sedangkan penerapan prosedur baru juga dinilai seperti masih main uji coba. Kedua pihak ini juga memiliki peran yang sama dominannya jadi aku tidak tahu pendapat mana yang akan berhasil.

Kecondonganku sebenarnya lebih senang hal yang praktis. Ibaratnya aku lebih suka menjajal sesuatu yang baru ketimbang pakai barang lama lagi dengan kemasan baru. Hanya saja tidaklah etis bila kroco yang sekenanya ambil keputusan. Untuk itu aku menanyakan perihal ini pada tuan yang kastanya satu level lebih tinggi dari mereka.

Jawaban tuan ini sebetulnya sesuai prediksiku. Dia tidak mungkin tahu menahu urusan prosedur administrasi, jadi ya katanya atur-atur saja gimana baiknya. Auto bikin aku terkekeh mendengar jawabannya. Dilemaku ternyata belum berujung.

Yaudah, sebut saja ini juga cara amannya, pada akhirnya aku memilih pakai sistem kombinasi. Tidak secara total copy paste prosedur lama. Hal yang secara gamblang kurang tepat aku sesuaikan dengan cara baru. Paling enggak aku punya alasan logis bila ditanya kenapa merubahnya. Semoga membawa dampak baik sih. Namanya juga bermain dengan ekperimen.

Pernah enggak, kalian terjepit pada keadaan yang mirip sepertiku? Boleh dong sharing ya.

2 Comments

  • Sabda Awal

    kalo dilema soal kerjaan sih ga pernah, tapi dilema tentang keputusan hidup pernah. Memutuskan mau mendekati wanita untuk dinikahi, atau nikahnya nanti aja di pending ketika semuanya memang benar-benar siap.

    Akhirnya memiih, opsi nomor dua, karena masih ada target yang pengen dicapai

  • Navia Yu

    Hidup mah pasti ya ada aja yang bikin dilema parah ya mas, apalagi nyangkut keputusan hidup jangka panjang pertimbangannya bukan main ini. Semoga kita selalu memilih pilihan terbaik ya ke depannya. Makasih dah sharing mas Sabda 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *