Kantor Layanan BNI Life
Monologue

Tipu Jebakan Telemarketing

Seberapa sering kalian menerima telepon dari nomor baru yang tidak terdaftar dalam kontak kalian?  Bagaimana kalian merespon panggilan itu? Beberapa dari kita mungkin akan tahan mengabaiknnya, namun lebih banyak lagi diantara kita yang tidak tahan untuk tidak menerima panggilan telepon tersebut. Praduganya adalah mungkin ini panggilan darurat, atau ada kawan lama menghubungi. Sayangnya, realita sudah tidak seideal itu. Telekomunikasi telah membelah diri menjadi sarana audio pemasaran.

Teror Rayuan Telemarketer

Tujuan awal telemarketing sebenarnya adalah gagasan untuk memfasilitasi mereka yang jauh dan enggak punya waktu mendatangi kantor cabang perusahaan jasa keuangan dan bertatap muka langsung yang berkeinginan memakai atau sekadar bertanya perihal program mereka.

Pemasaran produk dengan cara memberikan penjelasan mengenai produk itu sendiri dinilai efektif karena hanya membutuhkan persetujuan verbal saja tanpa perlu bertemu nasabah. Kemudian karena titik buta inilah yang dimanfaatkan menjadi peluang oleh sejumlah oknum nakal. Makanya semakin marak penipuan yang terjadi.

Yup, profesi telemarketer menuntut kemampuan mempengaruhi psikologis sasarannya hanya bermodal suara. Berbagai bujuk rayuan disampaikan oleh para telemarketer yang menggiring kita untuk memberikan informasi pribadi agar si marketer dapat mengisi form aplikasi, dan buntutnya menyudutkan kita agar mengucapkan kata ‘setuju’, artinya menerima penawarannya.

Telemarketer biasanya mengunci perhatian awal kita dengan kalimat rayuan, misalnya, “selamat pak/ ibu sudah menjadi nasabah terpilih” atau seolah kita mendapatkan hadiah dari bank dengan menekankan kata-kata “mendapatkan fasilitas”. Padahal, itu narasi bualan semata untuk mengalihkan fokus kita kemudian bersedia mendegarkannya.

Kadang, kalau mood sedang bagus kita bisa sabar meladeninya, sekalipun belum tentu kita tertarik dan setuju pakai produknya. Tapi tak jarang kita dibuat jengah, bahkan sering kali malah emosi, karena sosok di seberang telepon sana memaksa sekali menghubungi di waktu yang tidak tepat.

Baiklah, Ceritaku Begini

Aku adalah nasabah Bank BNI yang mungkin belum genap setahun baru menggunakan kartu kredit BNI terhitung sejak April tahun ini. Sejak itu lah, terror itu dimulai. Banyak sekali nomor telepon tidak terdaftar menghubungi yang tak lain adalah dari telemarketing yang menawarkan produk sejenis asuransi.

Merasa terganggu dengan panggilan telepon yang nggak penting hingga akhirnya aku terpaksa menginstal True Caller untuk membantu mengidentifikasi si penelpon dan menghindari penawaran yang tidak kubutuhkan. Well, aplikasinya cukup membantu kurasa.

Singkat cerita, di bulan kedua sebagai pengguna kartu kredit, aku yang masih amatir dan lugu saat itu dihubungi oleh telemarketing dari BNI Life saat jam sibuk kantor. Aku yang masih menjaga kesopanan, berusaha berempati dengan tidak langsung menutup telepon ditengah kesibukan kerja kala itu menyempatkan mengambil headset dan berbesar hati mendengarkan si mbak. Walaupun intonasi dan cara bicara yang menawarkan produk tersebut tidak jelas. Malah saking tidak jelasnya, aku nggak tahu mereka menawarin apa.

Mereka nyerocos tanpa bisa disela, kayaknya tanpa ada koma atau titik. Kita seperti tidak diberi waktu olehnya untuk berpikir. Kalimat yang paling jelas adalah saat mereka menanyakan persetujuan. Sebagai si “bodoh” yang mengira ini adalah win win solution karena mungkin tidak ada ruginya bila menyenangkan si mbak dan kemudian segera membebaskan telingaku dari suaranya dengan memberikan jawaban “YA”. Tapi kemudian harus dikoreksi untuk menjawab dengan kata “setuju”.

Memang begitulah trik pemasaran curang andalan mereka– mereka menganggap pihak yang ditelepon sudah paham jika menjawab “iya”. Jawaban itu direkam lalu dijadikan dasar sebagai persetujuan membeli paket asuransi yang mereka tawarkan. Lalu, tanpa ada formulir tertulis yang ditandatangani oleh nasabah yang bersangkutan, mereka sudah mendapat otorisasi melakukan pemotongan autodebet atas rekening nasabah, sebagai pembayaran premi asuransi.

Sampai beberapa minggu kemudian, di bulan Juni 2019, aku mendapati angka yang telah kena autodebet dalam tagihan bulanan kartu kredit, di mana nominal premi yang kubayarkan sebesar Rp 173.000/bulan. Kebodohan pun berlanjut karena hingga BNI sudah enam kali autodebet. Aku tersadar setelah sekian purnama mengapa tagihan kartu kredit kian membengkak.

Nominal Tagihan Terdebet

Sebenarnya sulit menyempatkan diri ini untuk mengunjungi kantor BNI Life. Kesibukan dan jarak yang lumayan jauh menjadi pertimbangan menemukan waktu yang pas sehingga terjadi pembiayaran yang berlarut-larut. Sebaiknya jika tidak tertarik dengan program yang ditawarkan langsung saja tutup jika memungkinkan.

Lalu pada 11 November 2019, berbekal print-nan email pertama yang kuterima dari BNI Life, akhirnya kusediakan waktu cuti sehari khusus pergi ke kantor BNI Life untuk menutup keikutsertaanku. Pihak petugas BNI Life langsung meminta buku polis yang kurasa tidak pernah menerimanya. Ternyata buku itu itu telah dikirimkan via SMS berupa link untuk di donlot. Namun, emang dasarnya tidak ada ketertarikan sehingga luput dari perhatian.

Setelah menyesuaikan biodata dan mengisi dokumen yang diminta mereka berjanji akan memproses pembatalan polisku. Cuma aku harus menunggu, katanya proses ini akan berlangsung selama 10 hari kerja.

Yang bikin nyesek dan hati empet itu ialah premi yang telah didebet sama sekali tidak dapat dikembalikan sepeserpun. Premi yang mereka pungut selama lima bulan entah untuk apa itu, yang benefitnya sama sekali tidak kurasakan sudah lenyap tenggelam ke akun mereka, tidak bisa diselamatkan lagi. Aku berpikir mungkin ini adalah harga dari pembelajaran yang mau nggak mau harus diikhlaskan.

Lembar Penutupan Polis

Biar Kamu Nggak Rugi

Nah, bila memang kalian sudah terpikirkan untuk memiliki asuransi sebaiknya langsung kantor asuransi yang diminati. Akan lebih leluasa jadinya untuk lebih tahu program asuransi mereka di kantor perwakilan terdekat. Tanyakan sedetail mungkin terkait program asuransi tersebut. Jangan ada kebingungan dengan informasi yang masih bias saat meninggalkan kantor asuransi itu.

Kalian pun jangan tergiur dengan kata “selamat” untuk menghindari praktik penawaran semacam ini yang hanya via udara dengan embel-embel menerima fasilitas “gratis” dan langsung manut terbuai tidak mendengarkan kalimat berikutnya. “Toh ini gratis”. Betul, tapi hanya bulan pertama dan untuk selanjutnya kalian bakal lengah karena tidak butuh persetujuan lagi untuk pembayaran premi pertama. Ujung-ujungnya malah murka mendapati banyaknya nominal yang telah terpotong.

Sekarang bisnis macam ini kembali lancar, selama perusahaan bank yang menggunakan layanan telemarketing terdaftar dalam OJK. So, lebih bijak lagi dalam menanggapi penelpon tidak dikenal agar trik jebakan murahan ini tidak membuatmu merasa dirugikan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *