Mr. RIGHT
Monologue

Tuan Tak Pernah Salah

Kita tidak mungkin tidak menilai seseorang, bukan? Kita semua menilai orang-orang dan keadaan meski tidak selalu digunakan untuk motif negatif. Ini salah satu kenikmatan punya blog, bisa ghibahin orang tanpa takut ketahuan. Heran juga kenapa perangai orang lain jadi inspirasi nulis di sini. Eh, cuma ya gemez juga kalau kagak aku tulisakan laporan penilaianku.

Ini perkara habit di kantor. Aku tuh sebel sendiri melihat kelakuan orang kantor yang rasanya tidak pantas aja gitu nurut pandanganku. Jadi, di kantorku itu perlantai bisa diisi beberapa divisi. Divisiku sendiri bersama tiga divisi lain ada di lantai dua. Tiap divisi tidak ada ruangan khusus, hanya dibatasi sama kubikel. Jadi menjaga ucapan itu mutlak banget biar nggak kedengeran divisi lain.

Ceritanya, tersebutlah seorang tuan muda nun rupawan yang hari itu tengah kesal meradang, gondok sama bosnya sendiri. Sepertinya karena dia dilimpahkan tugas tambahan yang seharusnya itu bukan porsi dia. Suaranya lantang sekali menggerutu sendiri meluapkan kekesalannya seolah diucapakn langsung pada yang bersangkutan.

Auto seketika semua telinga tertuju padanya, ikut nimbrung mendengarkan betapa dia itu yang maha benar atas segala hal. Cara pikir dia yang paling baik dan paling bertanggung jawab atas departemennya. Kalo dengerinnya sendiri mah pasti bakal muak. Ada ya gitu makhluk begini. Bikes aku tuh, eh bukan aku doank yang pada dengerin juga keknya.

Belum cukup di situ saja, dia pun ikut menyebarkannya eh bukan menghasut ibu sekre untuk ada dikubunya, untuk menyalahkan tindakan bosnya itu. Nggak ngerti lagi deh segitu mahalnya ya tenaga dia sampai untuk mengerjakan tugas tambahan saja harus sebegitu bar-barnya main buka-bukaan ke unit lain. Ntah apa tujuannya bersuara lantang kek gitu biar sengaja didengar satu lantai.

Hal yang ngejengkelin itu kenapa dia harus selantang itu buka aib unit sendiri. Kenapa nggak ngeluh ato ngedumel sama kawan dekatnya aja. Janganlah rusak nama depatemen sendiri. Kalau emang ada miskomunikasi internal ya biarkan jadi urusan dapur unit sendiri, usah pula diumbar-umbar begitu. Jujur aku yang mendengarnya malah malu.

Oke, aku paham kita juga ada kalanya sebel sampai ke ubun-ubun sama atasan. Tapi ya nggak gitu juga kali luapin kekesalanmu di kantor. Tetap ada koridor etika ketika mau lepasin emosi saat jam kerja. Jelas nggak bisa dibenarkan tindakan begitu yang jatohnya malah jadi bikin malu tim sendiri. Kami seantero lantai jadi punya bahan ghibah deh saat makan siang. Ya habisnya situ menggelitik urat ghibah sih, kagak tahu malu.

Kuharap kalian yang membaca ini jangan meniru prilaku Mr. Right ya. Kalian pasti punya cara ampuh lain yang lebih kalem gitu buat menjaga suasana hati kala bekerja. Janganlah tegaan gitu sampai menyebarkan kejelekan dapur sendiri. Kita bekerja harusnya bisa berikan support maksimal untuk unit kita serta menjalin komukasi dan koordinasi tim yang solid.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *