Kelakuan si kawan
Monologue

Untuk Seorang Sahabat Lama

Kala aku dan kamu tidak lagi bersama. Kita berubah dengan cara dan jalan yang kita pilih. Kamu pun mungkin bukan lagi orang yang sama seperti dulu. Bukan hanya dipisahkan oleh jarak tapi juga rutinitas hidup. Kita terlalu sibuk dengan urusan dan dunia yang berbeda. Tidak ada yang bisa disalahkan atas ini.

Yang Tak Terlupakan

Walau begitu tidak pernah aku melupakanmu. Kamu yang sudah memberikan warna masa beliaku. Ingat nggak, kita pernah datangin rumah bronis? Bertamu jumpain ibunya hanya demi nyenengin si kawan yang lagi kasmaran.

just friend
Si berondong malu-malu

Kita yang kompak ke mana pun bersama. Kita bertiga yang suka mangkal di belakang kantor guru pas jam kosong. Kita yang selalu punya alasan main bareng sepulang sekolah. Kita yang sering curhat dan menabung mimpi-mimpi masa depan sambil nikmatin es krim di depan minimarket. Kita bertiga yang ngerujak di halaman rumahmu, berasa lagi piknik. Kita yang belajar bareng di lapak pasar atau lapangan bola sampe magrib. Tidaklah lengkap hariku tanpa diisi kelakuan ajaib kalian berdua.

Manis banget ngunkit kenangan kita sekarang. Kamulah sahabatku di masa putih abu. Tidak tergantikan dan tidak bisa disangkal. Walau orang berkata apa juga tentang kamu, aku nggak peduli. Aku mengenal karaktermu yang konyol, jorok, nyablak, ngeyel dan pemikat hati cowok-cowok. Kamu tuh sahabatku yang jelas aku lebih memilih percaya padamu ketimbang mereka.

Sosokmu Yang Baru

Tiga tahun pertama masa kuliah kita masih lengket. Masih komit meluangkan waktu main dan paling enggak ketemuan pas bukber. Tahun berikutnya kamu yang menjauh. Kamu menghindari kami. Popularitasmu meroket seantero kota. Coba sebut saja namamu, makhluk di kampus mana yang tidak tahu tindak tandukmu. Mereka bahkan punya cap unik di belakang namamu. “Oh, dia yang ‘nakal’ itu kan?”

Kami sebagai sahabat sudah berulang kali ingetin kamu. Kami nggak lalai pada tanggung jawab untuk sering-sering nasehatin kamu. Tapi sifat ngeyelmu itu yang menang. Tak bisa juga kami memaksamu jika pilihanmu sudah berbeda. Kamu terhipnotis gemerlap dunia. Pesona dari teman-teman barumu menyilaukan matamu.

Kamu semakin tak terjangkau, pergi begitu jauh. Seakan kami tidak sepadan lagi disebut sebagai sahabatmu. Jujur, aku sedih banget saat pada akhirnya kami hanya bisa mendoakanmu agar selalu ingat jalan pulang, agar kamu tidak tersesat terlalu lama. Karena ada hal yang bisa diubah, tapi ada juga hal yang di luar batas kemampuan kami. Dunia yang berkilau itu tidak mungkin bertahan lama.

Benar kita pernah menjadi sahabat, tapi itu kamu yang dulu. Kami jelas asing dengan sosokmu yang baru. Meski begitu, kami tidak sedikit pun membencimu. Kami tak sampai hati bila harus menghakimi atau menyalahkanmu.

Kita tak pernah saling melukai dan menyakiti. Sama sekali tidak ada konflik di antara kita. Hanya saja kita sedang mengambil jarak yang terentang teramat panjang. Mungkin kamu sedang bertualang dan eksplorasi rasa ingin tahumu.

Frienship
Miss you both
Reunian

Tak mengapa, kami akan coba bertahan tidak meninggalkanmu. Kami akan tetap di sini. Tidak berpindah, masih menyayangimu dalam doa-doa. Ketika tiba saatnya kamu ingin kembali, semoga kami masih akan menyambutmu dengan senyuman.

Aku tidak tahu menahu bagaimana hubungan pertemananmu yang baru. Kamu tentu boleh memiliki ribuan teman di luar sana. Aku kira teman dan sahabat punya karakter peran yang berbeda.

Hanya ingin kamu tahu kalau dalam sebuah persahabatan tidak seharusnya ada nilai manfaat di dalamnya. Tidak juga ada dengki dan iri hati yang terselip. Tidak boleh ada unsur kepura-puraan. Kami tidak pernah memandang bagaimana status sosialmu atau masa lalumu. Kami setuju bahwa persahabatan dimulai untuk saling mengerti.

Kau tahu? Tulisan ini adalah bentuk kekhawatiran yang kupendam selama ini. Hingga akhinya doa-doa kami mendapat keajaiban. Aku bersyukur lebaran tahun ini kita sudah meluruskan banyak hal, kembali bertegur sapa, kembali menjalin silatuhrahmi yang sempat terputus, dan tertawa riang mengenang ingatan manis kita.

Aku tidak tahu apa kita bakal seakrab hubungan yang dulu, tapi aku tahu kita bisa mencoba mengatasinya. Aku sungguh senang ketika kamu dengan tulus hati mau menghubungi kami lagi. Aku senang kamu telah kembali.

4 Comments

  • neng

    sepanjang kita hidup, pasti akan ada ceritanya temen yang datang dan pergi. saya pikir saya udah siap, tapi ternyata pas ada kejadian sahabat yang jadi “asing”, tetep aja sedih. terus semacam menyalahkan diri sendiri, apakah temen saya itu nggak butuh saya, apakah dia lebih nyaman sama orang lain?

    di situ, berasa banget patah hatinya. lebih patah hati daripada diputusin pacar. hehehe. tapi memang, mungkin hidup harus begitu, kita berpisah dengan sahabat bukan karena itu hal yang buruk, mungkin itu hal yang lebih baik bagi masing-masing. kita nggak pernah tahu rencana Tuhan.

    semoga dengan dipertemukannya kembali mbak dengan sahabat lama, membawa hal yang menyenangkan yaa 🙂 ikut senang. mungkin hubungannya bakal beda dengan dulu, tapi percaya deh, insyaAllah sama baiknya.

    • Navia Yu

      Asli mah mb beneran sesedih itu pas dijauhin sahabat.
      Makanya aku bertahan mau nungguin dia, karena sebagian rasa gak rela itu kali sih.
      Hidup emang bakal ngerasain asem manisny hubungan juga ya.
      Iya, mb percaya sama kuasa Allah pasti yang terbaik.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *