social distancing wefie
Monologue

Yakin Siap Hadapi New Normal?

Disclaimer: Aku ini hanya masyarakat biasa pada umumnya, tidak mengerti kemuliaan penetapan alasan regulasi negara untuk khalayak umum. Pemahamanku dangkal soal birokrasi yang menyangkut sektor fiskal. Pada intinya aku nulis ini sebagai salah seorang warga negara yang masih berpikir dengan logikaku yang pasti tidak seluas para elite pemangku jabatan negeri ini. Demikian.

Silahkan dibaca.

Mungkin sudah seminggu kalian menjalani skenario dari new normal abad ini. Bagaimana rasanya? Apa saja perubahan signifikan yang kalian rasakan?

Di kotaku sendiri PSBB masih berlaku karena belum memperoleh restu dari pemerintah pusat untuk implementasi new normal. Grafik di kotaku masih bergerak naik untuk kasus infeksi Covid-19 dengan penambahan orang yang terinfeksi cukup mengkhawatirkan. Aku sungguh tidak heran dengan fakta ini. Seperti kusebutkan dalam tulisan ini, warga kotaku memang spesial. People here are more relaxed and seems not worry at all. Benar kantor dan sekolah libur, tapi rutinitas tidak putus. Adanya PSBB atau tidak, kehidupan tampak tak berbeda. Seakan kami sudah mulai menjalani fase New Normal lebih dulu.

Apa itu era New Normal?

Aku simpulkan dari beberapa sumber media bahwa new normal adalah fase baru dari rencana pemerintah yang akan menerapkan kehidupan normal baru di tengah pandemi Covid-19 saat ini. Publik beraktivitas normal dengan disiplin mengikuti protokoler kesehatan yang ketat. Buah hasil dari gagasan presiden yang katanya ingin berdamai sama si virus dengan menjalani rutinitas biasanya, tapi ada tambahan yakni membiasakan budaya hidup bersih dengan rajin cuci tangan dan mengenakan masker serta jaga jarak. Pemerintah berupaya membangkitkan kembali kegiatan ekomoni, pendidikan, maupun sektor-sektor lain yang menjadi denyut penggerak pembangunan negeri ini.

Kabar baik atau kabar buruk?

Sejujurnya menurutku ini ngeri-ngeri sedap, cuy. Mungkin terasa semilir angin segar menerpa dengan kerinduan merasakan dinamika rutinitas semula atau menjalankan segudang rencana yang sebelumnya boleh jadi tertunda bisa kembali direalisasikan. Namun, kita tetap tidak bisa melakukan semua kegiatan seperti sebelum pandemi terjadi.

Begini, potensi dari geliat ekonomi mungkin dapat bergerak naik. Tapi melihat dari tren statistik yang ada besar kemungkinan risiko peningkatan kasus positif Covid-19 pun melonjak drastis. Jika ternyata Indonesia memaksakan berdamai dengan prosedur pencegahaan dan pengendalian yang tidak tegas maka kita tahu kesiapan disiplin masyarakat +62 akan sulit terbentuk, yang ada akan memicu ditemukannya deretan kluster transmisi baru.

Belajar dari Korea Selatan yang gagal dengan New Normal, Indonesia terkesan tergesa-gesa dengan ide berdampingan dengan Corona. Satu lagi yang menjadi contoh yang nyata terbaru dari resiko penerapan New Normal adalah Brazil yang mengalami kenaikan angka kematian. Perlu diingat kurva di Indonesia sama sekali belum landai, bahkan masih terus menanjak dan beberapa pihak juga menduga Indonesia bisa jadi belum mencapai puncak. Kemungkinan terburuk bila kebijakan yang diambil pemerintah lokal tidak berhasil memaksa warganya patuh pada protokol kesehatan setempat ya resiko nyawa melayang. Potensi dimulainya sebuah babak baru dari transmisi pendemi gelombang kedua dapat mempertaruhkan berjatuhannya korban jiwa. Mengerikan kan?

Terus, gimana dong?

Ya pemerintah pusat kembali menyerahkannya ke lokal, artinya menjadi urusan pemerintah daerah, dinas kesehatan daerah, puskesmas setempat, tempat kerja di daerah terkait, dan warga untuk membuat sistem dari mekanisme pencegahan dan pengendalian dengan pemberian sosialisasi yang massif. Semoga warga juga jangan sampai lalai dan mengendurkan kewaspadaan dan pemerintah diharapkan harus berhati-hati dalam mengambil kebijakan di setiap lini. Apalagi di lingkungan pendidikan dasar apa mungkin siap dengan skenario New Normal. Anak-anak punya interaksi tinggi dengan siapa saja dituntut punya kesadaran untuk menjaga jarak seperti kemustahilan hakiki.

New Life Style

How life has changed since Coronavirus struck?

Kita semua pasti merasakan banyak perbedaan yang signifikan pada hidup kita. Kelebihan kita sebagai manusia adalah memiliki akal untuk menemukan cara terbaik beradaptasi dengan kondisi yang ada. Memaksa kita belajar pada berbagai pembiasaan baru. Seperti bulan lalu saat lebaran, menghindari berjabat tangan dan kontak fisik untuk saling bermaafan. Masker dan hand sanitizer jadi keharusan dibawa ke mana pun selain gadget. Produk kebersihan dan vitamin wajib masuk daftar belanja bulanan. Lalu mengurangi frekuensi bepergian ke luar rumah, belanja bulanan lebih dibanyakin stoknya biar gak perlu ngulang dua kali ke supermarket. Tren digital platform buat pelajar yang online learning, pekerja kantoran yang merubah rapat sambil ngopi jadi video conferencing dan ketergantungan yang tinggi akan hiburan di rumah. Sekarang pun penting sekali untuk berhemat alokasikan pengeluaran.

Kalaupun dihantui kekhawatiran bila harus mulai New Normal tidak lantas membuat kita bisa melarikan diri dari desakan kebutuhan hidup, kan? Kita yang cuma warga negara biasa mau gak mau bakal tetap ngikutin apapun keputusan pemerintah. Ya, semoga saja perhitungan para petinggi negara ini bukan semata karena tekanan para pemangku kepentingan. Kita semua berharap pandemi sudah terkendali dan kondisi beneran membaik.

Yes, social distancing and hygiene stuff will be here for long term fight against coronavirus.

7 Comments

  • Hastira

    habis mau gimana lagi ya, gak semua pekerja bisa wfh, belum pekerja informal yg banyak kena dampaknya, belum semua anak-anak sekolah punya akses internet,laptop , ponsel, maalh banyak bermain2. belum usaha yang kemabng kempis, phk . new normal memang negri2 sedap , masalah teknis maupun disiplin masarakat masih sulit. Kalau aku pilih wasapda dan selalu jaga jarak, pakai masker

    • Navia Yu

      Yap bener mba kita gak punya opsi lain. Tapi juga jangan lengah dan terlena sama keadaan yang kelihatan normal. Padahal sama sekali berbeda.

        • Farid Nugroho

          New Normal prioritasnya adalah buat mereka yg cari nafkah, bukan buat yg mau jalan-jalan, nongkrong, hang out, piknik, dan sebagainya.
          Memang sih tempat wisata juga jadi tempat cari nafkah. Tapi banyak kok pelaku usaha di tempat wisata memilih lanjut tutup meski lokasi wisatanya dibuka.

  • nutify

    Bener banget new normal ini ngeri2 sehat. Tapi emang mau gak mau harus di jalani. Tetapi untuk ponakan ku yang masih sd dan tk ibunya memilih untuk sekolah dirumah aja selama setahun, untuk melihat keadaan. Lebih baik menjaga dari pada mengobati

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *